SNSD, SOSHI FF, Thriller

Bayangan Dibalik Cermin

images-5.jpeg

~S2 Present~

Copyright © 2016, @sasyaa95

Aku menyebut ruangan gelap itu ‘penyepian’ karena alasan sederhana dan relevan: bahwa tempat itu benar-benar sepi. Tak pernah ada yang menjamah ruangan sempit berukuran 3x5m2 itu selain aku dan Erika, yang tentu saja tak pernah menyadari keberadaanku.

Erika suka menyendiri di tempat-tempat tak lazim, di sudut ruangan gelap, di atas pohon Ara, di samping jendela, di bawah celah antara lantai dan tangga. Aku tak pernah mengerti apa yang dilakukannya di tempat-tempat sepi seperti itu. Hanya menatap bisu tembok, pekarangan, atau rak cuci piring yang sudah karatan parah.

Aku pernah mencoba berkomunikasi dengannya, namun tak pernah berhasil. Gadis itu tetap bergeming di tempatnya hingga pada akhirnya aku lelah dan menyerah. Anehnya tak pernah ada yang mencarinya. Erika bersikap seolah-olah dirinya tak kasat mata. Dia pernah duduk berjam-jam, bahkan berhari-hari di tempat yang sama. Dan aku sama diamnya, hanya mengamati. Entah apa yang ada di pikirannya.

Malam ini, aku kembali menemukannya di ruang penyepian—yang sejujurnya lebih pantas disebut bilik. Tatap matanya kosong, seolah tak pernah ada mata di rongga tengkoraknya. Dia cepertinya juga bisu—tak pernah bersuara, bahkan langkah kakinya pun tak pernah terdengar.

Aku sudah sering melihat hal-hal mengerikan, seorang nenek menanggalkan kepalanya di depan seorang pria pejalan kaki, seorang wanita paruh baya menampakkan wajah hancurnya akibat hantaman aspal dan truk muatan batu kepada pengendara mobil, bahkan semustahil gadis kecil teleknisis berbandana merah darah yang mendiami bilik kamar mandi umum di sebuah Pom bensin terpencil di kotaku.

Namun Erika adalah kasus yang unik, dia tak mencuri perhatian sebagaimana kasus-kasus yang sering kutemui. Dia hanya diam. Terkadang memeluk sebuah buku, menggenggam sebuah liontin, atau dalam kasus yang sangat jarang—memeluk sebuah pigura.

Setelah beberapa saat mengamatinya, aku menyadari keberadaan bandul perak bertuliskan ‘Erika’ yang selalu ia kenakan, membingkai lehernya secara sempurna. Dari situlah sebenarnya aku tahu bahwa gadis itu bernama Erika.

“Erika.” Ujarku lirih, kata itu langsung menyesuaikan diri dengan lidahku. Entah mengapa terasa begitu lembut saat aku mengucapkan huruf ‘R’ yang bergema di langit-langit mulutku.

Aku cukup terkejut mendapati gadis itu menoleh padaku, tepat di kedua mataku. Aku menatap balik sepasang matanya yang berwarna hitam pekat, ya, matanya benar-benar hitam bahkan di bagian dimana putih seharusnya berada. Menatap kedua matanya, langsung mengingatkanku akan kubangan oli yang tercecer di halaman Pom bensin terpencil yang meledak beberapa tahun silam, membuat beberapa bayang-bayang mengerikan berpesta di tempat itu.

Gadis bernama Erika itu tersenyum dan bangkit sebelum aku sempat berkata-kata, dia hanya menggumamkan sesuatu yang kupikir bunyinya ‘terima-kasih’ lalu pergi membawa benda pilihannya hari ini, sebuah liontin emas kuno.

Aku berjalan mengikutinya, melewati lorong-lorong gelap. Erika melakukannya seolah ia sudah terbiasa akan hal itu. Aku yakin bahwa gadis ini pasti sudah tahu kemana dia akan pergi dan tidak khawatir akan tersesat.

“Kau mau kemana?” Tanyaku, mengabaikan ucapan terima kasihnya. Karena sesungguhnya aku tidak mengerti mengapa dia mengucapkannya atau aku tidak punya gambaran atas apa yang telah aku lakukan untuknya.

Dia tidak berhenti, atau pun menoleh padaku. Tidak pernah sebelumnya aku mengikuti seseorang, aku biasanya hanya membiarkan mereka datang dan pergi sesuka hati. Namun, tak dapat dipungkiri aku merasakan ada sesuatu yang menarik dari Erika.

Kami berhenti di sebuah perempatan atara koridor-koridor gelap dan kusam. Erika menoleh padaku dan tersenyum, “ke sana.” Ujarnya singkat, tanpa maksud tersirat di manakah ‘sana’ itu tepatnya. Aku menoleh mencoba memecah keheningan. “Tak pernah ada yang memperhatikanku sebelumnya, bahkan di dunia sebelum ini.” Katanya, seolah aku berhasil membantu menyelesaikan misinya.

Aku baru menyadari kalau kini, di hadapan kami berdiri sebuah boks megah dari besi mengilat yang kupikir adalah sebuah lift, dia tersenyum untuk terakhir kalinya lalu menunjuk me arah benda kotak bersinar itu. Kupikir awalnya dia akan membuka benda itu dengan menggerakkan jari-jarinya atau mencoba mengatakan padaku bahwa aku diperbolehkan masuk ke sana. Namun ternyata teoriku salah, aku akhirnya tahu apa yang dia maksud.

Erika menyuruhku melihat ke dalam cermin—atau pantulan cermin dari lift tersebut lebih tepatnya. Tidak! Bukan wajah mengerikan yang tiba-tiba membuatku terkejut, atau kemunculan mendadak dua orang pria bersetelan putih bertudung dan membawa trisula di depan pintu lift yang sudah terbuka—mengeluarkan cahaya supernova yang amat menyilaukan.

Namun, yang amat membuatku terkejut saat ini adalah, fakta bahwa aku tak mendapati bayanganku sendiri di dalam cermin tersebut—atau di mana-mana. Tidak di pantulan genangan air tepat di bawah kakiku. Aku kehilangan diriku!

“Semoga kau cepat menemukan tujuanmu.” Suara samar-samar Erika terdengar menggema di seluruh koridor, sebelum benda kotak bercahaya itu membawanya naik ke tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Menyisakan diriku yang tercengang tanpa pengetahuan apapun tentang kemana sesungguhnya bayanganku menghilang.

-End-

Note :

Telah dipublikasikan dalam sebuah lomba cerpen bertema horor.

~S2s2 logo

Iklan

9 thoughts on “Bayangan Dibalik Cermin”

  1. Awalnya takut tpi cerita nya bikin penasaran, akhirnya lanjut baca deh nyampe akhir. Dan sesuai harapan, ff nya sllu memuaskan. Tata bhsa dan alurnya gk pernah bikin kecewa.
    Good job, ka!!

  2. Dugaanku:
    1. Erika itu hantu, Gadis itu juga hantu..
    tapi ga menyadari kalo udah jadi hantu
    2. Erika itu hantu, gads itu manusia yg bisa melihat hantu.. jadi disini ceritanya kalo di dunia manusia kan hantu ga bisa muncul di cermin.. nah ini kebalikannya..

    -kyknya kok no 1 yg bener

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s