One Shoot, SNSD, SOSHI FF

The First Time [One Shoot]

the-first-time
cr image to the owner
cr all pics to the owner

~S2 Present, romance, yuri~

Copyright © 2017, @sasyaa95

Aku masih ingat hari itu, hari yang panas di bulan Juli. Aku baru saja duduk di semester dua dengan kelas musim panas yang harus kuhadiri. Tidak ada yang mengambil kelas tambahan di gengku, mereka semua lulus dengan nilai memuaskan. Aku, sebaliknya. Harus mengulang kelas Bahasa Inggris yang paling kubenci. Bahkan Yuri mendapat nilai B di rapornya. Miss Jung berjanji akan memberiku nilai satu tingkat lebih tinggi jika aku mengikuti kelas ini. Sialan. Padahal aku dan yang lainnya sudah merencanakan liburan jauh-jauh hari, sementara aku harus menempelkan bokongku di kelas ini.

“Selamat datang di kelas tambahan musim panas tahun ini, kuharap kalian semua cukup cerdas untuk tahu mengapa kalian harus terjebak disini selama dua bulan kedepan.”

Gaya Miss Jung yang blak-blakan mendominasi kelas yang lengang selama satu jam berikutnya. Tidak ada yang cukup bodoh untuk memulai keributan, mereka semua butuh nilai tambahan dan Miss Jung bukan tipe guru yang dermawan. Jika kau bersikap baik di kelas, dia mungkin akan menambahkan setengah atau satu tingkat pada nilaimu yang sekarat. Sebaliknya, jika kau membuatnya kesal sekali saja, ucapkan selamat tinggal pada rapormu tahun depan. Dia tidak akan berbaik hati untuk membagi-bagi belas kasihan pada nilaimu.

Namun bukan itu masalahnya pada hari pertama kelas tambahan, tapi gadis yang datang terlambat sepuluh menit dari jam yang sudah ditetapkanlah yang menarik perhatianku sejak saat itu. Awalnya, Miss Jung kesal bukan main dan tidak mengizinkan gadis itu masuk di kelasnya. Namun, gadis itu dengan cerdas dan diplomatis menjelaskan alasan mengapa dia terlambat. Ternyata, dia adalah gadis pindahan dari sekolah lain dan dia tidak mengambil kelas ini pada semester sebelumnya dan sayangnya kelas ini merupakan prasyarat untuk dapat menghadiri semester selanjutnya. Gadis itu, dengan kemeja satin berwarna pastel yang sedikit transparan, celana denim biru tua yang ketat, tas Prada pink menyala di pundaknya dan heels yang berbunyi seperti langkah kaki model Runway berjalan mendekat ke arahku. Dengan keajaiban yang belum kuketahui sampai sekarang, gadis itu tersenyum padaku dan meminta izin untuk duduk di kursi kosong tepat disampingku. Gadis itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Tiffany.

Sebenarnya, Tiffany tidak perlu mengambil kelas ini. Dia lahir dan dibesarkan di Amerika, buat apa dia mempelajari bahasa yang dia ucapkan sejak lahir? Dia lebih memfokuskan dirinya dengan belajar Bahasa Korea, yang menurutnya lebih penting diambil pada semester sebelumnya. Namun, protokol mengharuskan kami untuk lulus semua mata kuliah umum sebelum dapat melanjutkan ke semester selanjutnya.

Tiffany, dia adalah kakak kelas yang cantik dan ramah. Sejak saat itu, aku tidak dapat memalingkan pandanganku darinya.

Siang itu bulan Agustus, Tiffany merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh satu. Selepas kelas Miss Jung, Tiffany menyeretku ke kantin dan kami membeli es krim.

“Aku yang bayar.” Kata gadis itu sambil tersenyum dan menyeretku kembali ke kelas.

Tak ada murid yang berlalu lalang saat liburan seperti ini, apalagi semua kelas tambahan sudah usai. Karena cuaca di luar masih terlalu panas, kami memutuskan untuk bersantai sejenak.

Pertemanan kami mekar seperti bunga daisy, hari-demi-hari kami mempelajari hal-hal baru dalam diri masing-masing. Tiffany adalah anak terakhir dari tiga bersaudara dan semua keluarganya tinggal di Amerika. Dia hidup sendiri di apartemen kecil yang dia sewa tidak jauh dari kampus. Tiffany sangat menggilai pink, anjing, dan The Beatles.

“Katakan Taeyeon,” Tiffany menyendok sesuap es krim strawberry ke dalam mulutnya. “Mengapa kau ingin berteman denganku.”

“Ehm?” Aku tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. “Kau yang mendekatiku lebih dulu, kan?”

“Ya.” Tiffany tampak berpikir sejenak, “namun aku hanya meminta izin untuk duduk di sebelahmu, tak ada tempat lain dan aku terlambat pada hari itu.” Ujarnya membela diri.

“Kau bisa duduk di sebelah Inhae.” Kataku, senang menggodanya seperti ini.

“Ugh! Aku tidak mau duduk dengan gadis seperti dia, kau tahu menggosip dan bertingkah seperti wanita jalang!”

Aku tertawa sebelum menjawab pertanyaannya. “Kupikir kau orang yang baik, Fany.” Aku tidak tahu apakah itu karena suhu udara di sekitarku yang mulai naik beberapa derajat, ataukah pipiku yang mendadak memanas, yang kutahu aku tersipu. “Kau… menarik.”

“Aww..” Jeritnya sebelum berdiri dan duduk di sampingku. “Kau juga menarik.”

Aku tidak menjawab, hanya memikirkan apa yang membuatku menarik di matanya.

“Awalnya aku penasaran seperti apa ‘The Queen Kim Taeyeon’ yang dibicarakan semua orang di kampus, kau benar-benar memiliki suara seperti malaikat, kau tau?”

Aku tersipu mendengarnya dari mulut Tiffany. Aku sudah biasa dipuji oleh semua orang, hal itu tidak lagi membuatku kikuk. Namun apabila Tiffany yang melakukannya, entah mengapa aku merasa seperti pertama kalinya seseorang mengatakan hal itu padaku.

“Kau…” Mulaiku. “Kau juga hebat, kau datang kemari sendirian dengan mimpi yang sangat besar. Aku bertanya-tanya, apakah kau tidak pernah merindukan mereka?”

Tiffany memandangku dengan mata berkilauan, seolah air mata hendak mendobrak keluar kapan saja. “Tentu saja aku merindukan mereka, tak seharipun aku tak merindukan mereka, Taeyeon.”

Aku merasa sangat bersalah mengatakannya. “Maaf.” Kurangkul pundaknya, kubiarkan dia menyandarkan dirinya padaku, sambil berharap semua beban yang dia pikul terangkat dari pundaknya. Walaupun dengan artian aku harus bertanggung jawab atas sebagian darinya.

“Namun..” Suaranya serak. “Semenjak aku bertemu denganmu, aku tak memikirkan mereka sesering yang kulakukan sebelumnya.”

Aku tersipu, berpikir mengapa dia mengatakan hal itu.

Kurasakan dia melepaskan diri dari pelukanku, duduk dengan sangat tegak dan menatapku dalam diam. Kami tetap seperti itu hingga beberapa menit kemudian. Kutemukan kecemasan dan ketakutan dalam matanya, walaupun demikian ada secercah tekad dan harapan dalam pusaran emosi tersebut.

Aku mencoba menerka apa yang dia pikirkan. Namun, aku gagal dengan payah. Aku tak dapat membaca pikirannya. Ataukah hanya diriku yang terlalu bodoh?

Dia tertawa kecil, menggelengkan kepala lalu menarik napas dalam, menyiapkan diri dengan apapun yang akan dia lakukan.

Saat Tiffany menangkupkan kedua tangannya di wajahku, aku tak lagi dapat berpikir. Semua huru-hara yang sebelumnya menjajah pikiranku, kini lenyap tak berbekas. Meninggalkan seorang gadis bodoh yang tak tahu apa yang sedang dia pikirkan apalagi apa yang harus dia lakukan. Kubiarkan insting mengendalikan tubuhku. Semua orang memiliki kebutuhan kasih sayang kan? Dan insting mencintai itu kini begitu besar dengan stimulus yang tak terhindarkan di depanku, insting tersebut memotivasi diriku untuk melakukan hal-hal yang ditolak oleh logikaku sebelumnya, seperti melemparkan diriku padanya, mencium bibirnya dan melingkarkan lenganku di lehernya.

Awalnya aku hanya sekedar menempelkan bibir padanya, namun reaksi yang dia berikan sungguh di luar dugaan. Tiffany melingkarkan kedua lengannya di punggungku dan mempererat pelukan kami. Dengan begitulah kami menari, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mencium seseorang yang menghadirkan sensasi menggelitik di perutku. Seolah-olah aku hendak meledak menjadi jutaan kupu-kupu. Tubuhku gemetar karena kelebihan muatan emosi. Setiap atom dalam tubuhku seolah bertabrakan dan menghasilkan ledakan-ledakan supernova.

Aku tak begitu mengingat apa yang terjadi sebelumnya, namun dalam periode refaktori setelah aksi panas berciuman dengannya, aku kembali mengenali sekelilingku. Tiffany beringsut menuju pintu, kupikir dia menyesali tindakan impulsifnya. Namun gadis itu tidak keluar meninggalkan kelas seperti yang kuperkirakan. Gadis itu justru mengunci pintu dari dalam dan menutup semua korden. Setelah selesai, Tiffany berbalik dan menatapku. Matanya begitu gelap, pupilnya melebar dan dapat kurasakan gairah yang memancar dari tubuhnya.

Siang itu, di awal bulan Agustus yang panas. Aku merasakan kebutuhan penting yang sebelumnya terrepresi dalam diriku. Insting tersebut muncul seperti monster yang terbangun dari hibernasi sepanjang hidupku. Dan, Tiffany lah yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Lagi pula, bukan berarti aku menyesalinya.

***

“Yah!” Sebuah bantal abu-abu besar melandas di kepalaku.

“YAH!” Teriakku. “Apa?”

“Kau tidak mendengarkanku Kim Taeyeon! Aku bilang hari ini panas sekali, aku ingin makan es krim!”

“Lalu?”

Gadis itu memutar kedua matanya ke arahku, seolah hal itu adalah caranya mengatakan padaku bahwa aku begitu bodoh karena tidak memahaminya.

“Ugh! Temani aku ke supermarket di seberang blok.”

Aku menyeringai padanya.

“Apa?”

“Kau ingat, pertama kali kau mengajakku membeli es krim setelah mengeluhkan cuaca yang panas?” Kugoda dia hingga wajahnya memerah.

“Aku tidak…”

“Kau tidak?” Aku menyeringai saat gadis itu terlihat kebingungan menjawab. Ini sungguh lucu.

“Kau yang memulainya!”

Aku tertawa saat dia melemparkan pandangan kemana-mana selain wajahku.

“Hmm.. yang kulakukan saat itu hanya menciummu, aku tidak tahu jika kau akan memberikan bonus setelahnya.”

“YAH!” Wajahnya sudah semerah tomat dan aku tertawa terbahak-bahak.

Gadis itu terus menerus menghujaniku dengan bantal abu-abu dengan senyum mengerikan dari hewan yang tak pernah ada.

“Oke-oke, kutemani kau membeli es krim.” Kataku bangkit dari sofa dan menggandeng tangannya. “Siapa tahu aku bisa dapat bonus lagi kali ini.”

“YAH! KIM TAEYEON!”

-END-

Note:

Ehem, maaf sudah menghilang selama tiga bulan dengan memprivate wp ini 😀

Selanjutnya akan seperti ini. Mungkin selama tiga bulan kedepan akan kusetting public, setelah itu selama tiga bulan selanjutnya akan kusetting private and so on (mengikuti liburan semesteran anak kuliahan) hahaha..

Akan dilakukan banyak perubahan disana sini, jadi jangan kaget jika mendadak tampilan wp nya berubah.. 😀

Oke, keep sharing because sharing is caring *bye*

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

23 thoughts on “The First Time [One Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s