One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Grateful [One-Slice-of-Life-Shoot]

gratefull
cr all pics to the owner

~S2 Present, romance, yuri, slices of life ~

Copyright © 2017, @sasyaa95

Tiffany duduk termangu, menatap aliran sungai yang tenang. Dia lelah berpikir. Seharian otaknya terpaksa diperas untuk menemukan solusi dari masalah yang sedang dia alami. Direkturnya marah besar karena kelalaiannya dalam melaksanakan tugas dengan tepat waktu. Laporan itu seharusnya tersubmit minggu lalu dan kini mereka tidak lagi mendapatkan kesempatan memenangkan tender. Semua itu memang murni kesalahannya, karena hal itu tertera dalam deskripsi pekerjaannya.

Saat ini Tiffany dilanda masalah besar. Kariernya tengah berada di ambang batas dan dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Mengajukan Surat Pengunduran Diri? Dia tidak tahu harus bekerja di mana setelah ini. Banyak tagihan-tagihan yang masih harus dibayar dan keluarga kecilnya membutuhkan dirinya untuk menyokong keuangan.

Sebenarnya, Tiffany tidak betah berada di sana. Jika saja keadaannya berbeda, dia akan memilih untuk kabur saja dan mencari pekerjaan lain. Persetan dengan bos dan semua omong kosongnya. Namun dia tidak bisa begitu saja pergi.

Aku begitu bodoh hingga melupakan hal sepenting itu!

Namun jauh dalam dirinya dia tahu, bahwa bekerja di sebuah perusahaan bukanlah passionnya. Sejak dulu dia menyukai fashion dan design. Dia ingin membuka label designnya sendiri. Namun hal itu bisa dilakukan nanti-nanti. Sekarang, yang harus dia pikirkan adalah bagaimana mencari solusi untuk masalah yang sedang dia alami.

Pertama, yang harus dia lakukan adalah, mengkomunikasikan masalah tersebut dengan keluarganya. Walau bagaimanapun juga, mereka harus tahu dan memahami apa maksudnya sebelum mengambil keputusan. Baik, dia sudah lelah menjadi seseorang yang diharapkan semua orang. Sebenarnya, dia sudah memiliki pilihan. Dia hanya harus meyakinkan orang-orang yang disayanginya bahwa keputusan yang dia ambil sudah benar-benar dipikirkan dengan matang. Lagi pula, apa salahnya berbagi dengan orang lain? Dia yakin keluarganya memahami alasannya.

Kedua, mengajukan Surat Pengunduran Diri. Ini bukanlah hal yang mudah. Alasan apa yang akan disampaikannya di dalam surat tersebut masih menjadi sebuah misteri—dan harus segera dipecahkan. Dia tidak ingin terlihat menyalahkan perusahaan karena kelalaiannya, namun dia juga tidak ingin merendahkan dirinya di depan perusahaan karena tidak dapat memenuhi ekspektasi yang diharapkan. Dia harus menjawab dengan diplomatis! Dan itu bukan hal yang mudah.

Tiffany mendesah, menyesap secangkir coffee latte untuk yang kesekian kalinya.

Semua ini begitu sulit! Pemikiran-pemikiran ini takkan pernah ada jika kamu tidak terlalu bodoh untuk melupakannya!

Dan, dia merutuki dirinya kembali untuk yang kesekian kalinya. Kemudian, dia teringat satu hal yang sangat penting—dan bagaimana mungkin dia melupakannya tadi?

Ketiga, mau apa dia setelah ini? Mau kerja di manakah dia? Jikapun dia diterima bekerja di tempat lain, apakah income yang dia dapatkan tetap sama? Dia memang digaji besar untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak disukainya. Setidaknya, hal tersebut dapat membuat seluruh keluarganya hidup dengan layak dan tidak terlantar di jalanan. Hal itu mendatangkan pemikiran lain, jadi apakah selama ini aku hidup hanya untuk memuaskan orang lain? Apa yang benar-benar aku inginkan bukan lagi menjadi prioritas dalam hidupku lagi? Untuk apa aku hidup jika seluruh hidupku kudedikasikan untuk kebahagiaan orang lain? Apa bedanya aku dengan mesin-mesin itu?

Itu adalah pertanyaan dengan jawaban yang sulit. Tidak semua orang dapat menjawabnya dengan benar—walaupun Tiffany tahu bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, semua yang dia pikirkan—apapun yang menurutnya benar, sesungguhnya hanyalah sebuah perspektif.

Kemudian lamunannya dibuyarkan oleh sebuah suara.

“Kak, berikan sedikit kebaikan hatimu. Aku dan adikku belum makan seharian ini.”

Tiffany melihat gadis kecil yang kini tengah berada di hadapannya dengan sorot mata penuh harap. Pakaiannya lusuh dan sangat kotor. Hal yang membuatnya benar-benar tidak percaya adalah bayi kecil yang berada di pelukannya. Berapa usianya? Tiffany tidak tahu. Gadis itu mungkin berusia sekitar 10 tahun dan bayi tersebut setidaknya dua tahun.

Tiffany merasa malu karena menganggap hidupnya benar-benar menyedihkan. Dia merasa malu karena merasa bahwa dia memiliki masalah lebih besar dari orang-orang kebanyakan. Dia melupakan sekitarnya dan berfokus pada masalah-masalah yang dia alami.

Tanpa pikir panjang, Tiffany mengeluarkan beberapa lembar uang yang paling tidak dapat mencukupi kebutuhan kedua anak tersebut selama beberapa hari. Gadis kecil itu menatapnya setengah tidak percaya, setengah terharu dan berterima kasih. Saat gadis itu hendak pergi, Tiffany teringat sesuatu. Dia mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan pada gadis tersebut. Dia memiliki teman yang mengelola sebuah panti asuhan, dengan singkat dia menjelaskan pada gadis tersebut dan berharap bahwa kelak, kedua anak itu akan mendapatkan kehidupan yang layak.

Gadis itu tersenyum, menyampaikan ucapan terima kasihnya dan berlalu. Tiffany merasa sedikit beban terangkat dari pundaknya. Dia bukan satu-satunya orang yang memiliki masalah dalam hidup ini. Gadis itu pasti menemui banyak masalah dalam hidupnya—dan sekecil itu?

Tiffany menggeleng, aku harus lebih bersyukur dengan apa yang aku miliki!

Guff!Guff!Guff!

Seekor anjing kecil mengendus kakinya dan menelilingi tubuhnya, membuat Tiffany terkikik geli lalu mengangkatnya.

“Hai, kau lucu sekali. Siapakah namamu?”

“Taeyeon.”

“Huh?” Tiffany mengangkat wajahnya kemudian bertemu tatap dengan seorang gadis yang seolah senyumnya tak pernah luput dari wajahnya.

“Namanya Taeyeon, imut kan?”

Tiffany tersenyum, mengangguk. Memikirkan apa yang dipikirkan gadis yang selalu terlihat ceria itu? Sepertinya dia tidak memiliki masalah.

Taeyeon menjilati wajahnya dan terlihat bersemangat sekali seolah ingin memusatkan perhatian Tiffany hanya padanya.

Gadis baik!

“Aww, aku juga menyukaimu Taeyeon..”

Gadis di hadapannya tiba-tiba tersenyum dan beringsut memeluknya. “Aku juga..”

“Ya! Ya! Aku kan sedang berbicara dengan Taeyeon, bukan kau.”

“Tapi aku Taeyeon!” Gadis itu cemberut membuat Tiffany terkikik melihatnya.

“Tadi kau bilang namanya Taeyeon.”

“Hmph. Baiklah.” Gadis yang mengaku bernama Taeyeon tersebut bersidekap. “Namanya Prince. Dan, asal kau tahu saja, dia laki-laki.”

Tiffany tertawa. Kedua hal tersebut mengalihkan pikirannya dari semua masalah-masalahnya.

“Oh? Benarkah?”

“Baiklah jika kau tidak percaya. Ayo Prince, kita mencari gadis cantik lainnya untuk dikejutkan.” Taeyeon berpura-pura kesal dan hendak pergi sebelum Tiffany menarik lengannya.

“Oh… tidak… Prince hanya boleh menggodaku, tidak untuk gadis-gadis lain.”

Taeyeon menatapnya tidak percaya. “Baiklah, kalau begitu aku boleh menggoda gadis lain!”

Tiffany menyeret gadis itu duduk di pangkuannya, lalu mengecup bibirnya tanpa aba-aba. “Apalagi Taeyeon. Jelas tidak boleh.

Gadis dalam pangkuannya tersenyum, melingkarkan lengan di lehernya. “Jadi, apa yang kau lakukan di sini? Bukannya pulang ke rumah? Aku memasak untukmu.”

“Sesuatu.” Tiffany menatapnya, berharap kata-kata itu keluar dari mulutnya. Namun dia tidak bisa menodai keceriaan gadis itu dengan masalah-masalahnya saat ini.

Taeyeon mengangguk lalu menggenggam tangannya. Gadis itu selalu tahu apa yang dia pikirkan. Seolah meyakinkannya. Kau tidak sendiri, aku disini bersamamu apapun yang terjadi. Dan Tiffany tidak tahu apa yang membuatnya meragukan hal itu sebelumnya.

Taeyeon akan menerima dirinya apapun yang terjadi. Apa yang dia takutkan lagi?

Dalam diam mereka berbicara..

Melalui bahasa yang disampaikan angin malam..

Lihatlah, Fany! Lihatlah sekelilingmu.. Banyak hal indah yang kau lewatkan apabila kau hanya berfokus pada masalahmu. Nikmati semilir angin, kerlip cahaya gemintang, kesibukan yang jauh berlalu-lalang, tawa seorang anak kecil yang tengah bermain dengan anjingnya. Syukuri yang ada di sekitarmu, karena kebahagiaan adalah sebuah pola pikir–perspektif. Apabila kau berpikir bahwa kau bahagia, maka bahagialah dirimu.

Taeyeon membisikinya melalui kata-kata yang tak terucap, mengenyahkan apapun pikiran gila mengenai hidupnya. Ketakutannya lenyap seketika.

Ya, untuk apa aku takut? Apapun yang terjadi, Taeyeon akan ada di sini untukku. Menggenggam tanganku dan membuatku merasakan apa kebahagiaan itu sebenarnya. Mengembalikan arti hidupku lagi.

Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak lagi takut karena aku tahu mereka takkan meninggalkanku sendirian. Taeyeon membuatku merasa dicintai.

Aku akan pergi, mengejar mimpiku.. bersama Taeyeon, dan Prince–tentunya.

Ah, keluarga kecilku ♥

Note:

Ehem, pasti kalian semua pada bingung dengan apa yang terjadi dengan wp ini? Yekan. 😀

Saya sedang merekonstruksi dan merenovasi beberapa hal dari blog ini.

Oh ya, jika kalian ada waktu luang mohon sempatkan untuk berjalan di kamar-kamar lain, silahkan menjelajah blog ini. Open house is in the line! Hahaha.

Bagaimana menurut kalian penampilan baru di tahun baru ini? Please rate!

Oke, keep sharing because sharing is caring *bye*

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

19 thoughts on “Grateful [One-Slice-of-Life-Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s