SNSD, SOSHI FF, Three Shoot

MAGIC [2/3]

 

magic

~S2 Present, Fantasy, Yuri~

Copyright © 2017, @sasyaa95

Untuk membaca cerita sebelumnya klik : Magic [1/3]

***

Sepasang mata saling menatap dalam keheningan yang mencekam. Ruangan itu seketika terasa menyusut. Dalam pikirannya hanya ada gadis yang kini tengah menatapnya dengan tajam, seolah di dunia ini yang menjadi pusat perhatiannya hanya sang gadis dan sepasang burung merpati putihnya.

Kejutan apa lagi yang akan dia mainkan?

Erika tahu lawannya adalah orang yang hebat. Sang Master tidak salah memilih rival. Walau demikian, dia tahu kelemahan gadis yang ada di depannya kali ini. Bertahun-tahun hidup bersama dan mengamatinya dari dekat, Erika tahu semua trik yang dia gunakan.

Semoga dia tidak berubah banyak.

Ya, tidak berubah. Itu yang diharapkan Erika. Apakah perasaannya masuk hitungan? Jika Tiffany tidak berubah, matanya takkan pernah menggambarkan kebencian seperti saat ini. Sepasang mata yang dulunya memancarkan cinta dan kehangatan.

Kini di hadapan Erika hanyalah seorang gadis dengan tatapan dingin dan kosong. Dan dirinya bertanggung jawab akan hal tersebut. Dia lah yang telah mematahkan janji yang telah mereka sepakati di bawah gemintang. Namun dia tidak dapat melakukan apapun tentang hal itu, walau bagaimanapun takdir mereka sudah digariskan sejak kecil.

“Tak akan ada yang dapat mematakan pengikatan, Nak. Cepat atau lambat kau akan segera bertarung dengannnya. Dan taruhannya adalah nyawa.”

Kata-kata Sang Master terngiang begitu jelas di kepalanya, berulang-ulang seolah ada tape recorder usang yang tertanam di benaknya.

Dan, untuk pertama kali dalam hidupnya dia begitu membenci suara Sang Master.

Oktober 2002

Sang gadis ternyata sudah menunggu di depan sebuah gazebo, tempatnya kemarin menyusup. Gadis itu masih memakai pakaian yang sama dan Erika berpikir apakah dia pernah mengganti bajunya. Tatapannya juga masih sama, lembut dan penuh rasa ingin tahu.

Tiffany, nama itu meluncur begitu mulus di lidahnya. Seperti Erika.

Dia sangat suka mengulang nama itu di kepalanya, di atas tempat tidurnya sebelum dia terlelap semalam. Nama yang cantik untuk seorang gadis cantik. Dia bertaya-tanya apakah namanya juga terdengar seindah itu? Erika cemberut, sang gadis berambut merah itu mengatakan namanya tidak cocok untuknya. Itu berarti namanya terdengar jelek. Mengapa Sang Master memberikan nama itu untuknya?

“Hai! Apa kau menungguku?” Tanya Erika begitu dia berada cukup dekat dengannya.

Gadis berkostum renda-renda itu tersenyum, mengangguk. “Ya.”

“Bagaimana kalau aku tidak datang?”

Kali ini tatapannya tajam, seolah menilai gadis di depannya. “Aku tahu kau akan datang.”

“Baiklah. Apakah kau akan melaporkanku pada ayahmu sekarang?” Erika kembali menatapnya. 

Gadis itu tertawa kosong, seolah mengejeknya. “Aku tidak melaporkanmu kemarin, apa yang membuatmu berpikir aku akan melaporkanmu hari ini?” Tatapannya berkilat dan Erika bertanya-tanya, apakah dia merasa tersinggung?

“Tidak ada. Kau menatapku seperti itu. Aku hanya penasaran saja.”

Tatapan sang gadis berubah lembut, “aku hanya sedang menggodamu.”

Erika merasakan pipinya panas. “Oh.”

Mereka berjalan melewati berpuluh-puluh gazebo kayu dan pualam. Untuk apa halaman rumah sebesar ini dipenuhi gazebo? Bukankah lebih baik dibiarkan saja ditumbuhi pohon dan bunga-bunga atau dibuat semacam labirin seperti yang ada di rumahnya? Bukankah satu atau dua gazebo saja sudah cukup? Erika tidak berpikir Tiffany memiliki begitu banyak anggota keluarga. Sejujurnya rumah ini terlihat sepi dan menyeramkan.

“Kau membawa sarung tanganku?” Tiffany bertanya begitu mereka sampai di gazebo terbesar, Jupiter.

“Ya.” Erika mengeluarkan sarung tangan putih itu dari saku jaketnya. Menimbang-nimbang mengapa gadis itu memberikan sarung tangan itu padanya dan apa yang akan dia lakukan dengan hal itu.

“Pakailah.” Kata Tiffany.

Erika menatapnya aneh. “Tapi ini hanya sebelah.”

“Kau akan baik-baik saja.”

Erika menyadari Tiffany selalu memakai sarung tangan. Apakah dia khawatir tangan Erika membawa semacam virus yang akan mengotori halaman rumahnya?

“Pakai saja.”

Erika mengangguk, dia tidak ingin dilaporkan pada ayah gadis itu apabila dia tidak menurutinya. Lagi pula, itu hanya sarung tangan kan?

“Kenapa kau selalu memakai sarung tangan?”

“Karena… di sini selalu dingin.” Jawabnya ragu-ragu lalu menyembunyikan kedua tangan di balik tubuhnya. 

Erika tidak bertanya lebih lanjut.

“Pakai sarung tangan itu setiap kali kau kemari.”

*

Februari 2004

Malam itu cuacanya sangat dingin. Sisa-sisa salju musim dingin tahun ini masih belum mencair padahal musim semi sudah di depan mata. Sementara dua tubuh mungil berbaring di atas rerumputan hijau, tak mengeluhkan keadaan tersebut. Gundukan salju mencair di sekeliling mereka.

“Mendekatlah, kau kedinginan bukan?” Tanya Tiffany, menyisihkan gaunnya yang berenda.

Erika beringsut mendekat, dia tidak kedinginan. Dia sudah tahu cara untuk membuat udara di sekitarnya menjadi lebih hangat. Dia seorang ahli kimia, sang Master menyebutnya.

Kau akan belajar perusakan. Kau dapat menggerakkan apapun di sekitarmu, termasuk menghancurkannya. Itu adalah kekuatanmu. Termasuk partikel sekalipun.

Erika mengingat-ingat pelajaran tentang kabut yang diajarkan padanya minggu lalu. Kabut perenggan, dia dapat membuatnya. Kabut perenggan terjadi apabila ada dua masa udara yang berbeda. Dia dapat membuat masa udara lebih rendah dan mereka takkan terlihat.

“Ajarkan padaku.” Tiffany berkata dengan suara seraknya yang khas, menyibakkan kabut di kepalanya.

“Apa?”

“Apapun yang kau bisa.”

Master akan marah apabila aku menunjukkan kekuatanku pada orang lain.

Erika menggeleng, “aku tidak bisa apapun selain menjatuhkan barang-barang.”

Erika merasakan sebelah tangannya digenggam oleh Tiffany, sementara gadis itu menawarkan senyumnya. Erika merasa kepalanya kembali dipenuhi kabut. Semua ini tidak diajarkan oleh Sang Master. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Mari membuat janji.” Kata Tiffany. “Apapun yang terjadi di masa depan, jangan pernah lepaskan satu sama lain. Apapun yang terjadi, kita akan terus bersama seperti ini memandang bintang-bintang di atas rerumputan. Aku akan menggenggam tanganmu seperti ini dan kau takkan melepaskannya. Janji?”

Ya. Tentu saja. “Janji.”

*

November 2005

Pada musim dingin sebelum natal tiba, Erika hendak menyusup untuk kesekian kalinya demi bertemu temannya, Tiffany. Namun malam itu dia tidak cukup beruntung, malahan dia hanya menemukan sepucuk surat di dekat pagar jeruji besi bersama sepasang sarung tangan putih.

Tiffany telah pergi, pindah bersama ayahnya ke belahan dunia yang lain. Meninggalkannya bersama perasaannya yang dipenuhi kabut.

Dia merasa kecewa pada Tiffany. Mengapa gadis itu tidak mengatakan padanya semalam sebelumnya? Mereka baik-baik saja. Bahkan Tiffany sempat membawakan mereka secangkir cokelat hangat dengan irisan strawberry di atas cangkirnya. Mereka juga sempat tertawa dan Erika mengajarkannya beberapa hal kecil tentang reaksi kimia dan labirin yang telah dipelajarinya dari Sang Master. Tiffany tampak sangat antusias mendengarnya dan Erika–walaupun dilarang memberitahu siapapun perihal kekuatannya, akan melakukan hal apapun demi dapat melihat wajah terpesona Tiffany. Apalagi jika hal itu disebabkan olehnya.

Selama sebulan setelahnya, Erika terus mengunjungi tempat itu. Berharap Tiffany akan menunggunya di balik jeruji, atau di dalam gazebo.

Setelah sekian lama, tubuhnya membesar dan dia tidak dapat masuk dan keluar tempat itu segampang sebelumnya. Jadi Erika memutuskan untuk berhenti. Dia masih belum dapat menemukan jalan keluar dari sketsa labirin tersebut.

Lama-lama dia melupakannya, melupakan Tiffany dan sarung tangannya. Memfokuskan diri pada pertarungan yang semakin dekat. Dia harus menang, begitu kata Sang Master. Dan dia akan menang.

*

Oktober 2010

Sepucuk surat datang di depan pintu apartemennya. Ini surat spesial. Surat tagihan dan surat kabar mingguan biasanya akan masuk ke dalam kotak surat. Namun, menemukan sepucuk surat yang tergeletak di depan pintu sangat tidak biasa. Terlebih, fakta bahwa surat itu hanya berisi empat kata, tanpa sapaan sopan, atau sekadar berbasa-basi dengannya menunjukkan bagaimana sang pengirim surat juga bukan merupakan orang yang biasa-biasa saja.

Datanglah ke pertunjukan ini.

Erika menemukan sebuah undangan terselip di antara amplop dan surat tersebut.

Sebuah tiket pertunjukan sulap. Tiket itu tak lebih besar dari telapak tangannya, berwarna merah dengan dekorasi elegan. 

Midnight Gala Spectacle ‘Brighter than Gems’

National Theater, London, 01-11-10, 11:11 pm.

midnight-gala-spectacle

Erika merengut, untuk ukuran pertunjukan sulap yang hebat. Mengapa artis ini menggunakan tempat terbuka dan bergaya modern? Padahal, apabila pertunjukan sulap ini sehebat yang digembor-gemborkan orang, mengapa tidak menggunakan Royal Opera House atau Victoria Theatre?

Erika memang baru tiga bulan tinggal di London karena Sang Master memintanya untuk mempealajari hal-hal menarik di sini. Namun, sejauh ini dia belum menemukan hal yang menarik perhatiannya. Kecuali beberapa gadis yang cantik tapi hobi bersenang-senang dan mabuk-mabukan.

Ya, dia akan datang. Erika tahu surat itu berisi perintah, bukan undangan.

*

November 2010

Pintu masuknya berukuran tidak lebih dari satu meter, jelas sekali pertunjukan ini hanya dikhususkan untuk orang-orang ramping. Dari sudut matanya, Erika menangkap renda-renda dan corak warna pelangi mewarnai dekorasi pertunjukan. Apa orang-orang ini bercanda? Nuansa pertunjukan ini sangat kontras dengan design tiket pertunjukan yang dikirimkan padanya beberapa hari lalu. 

Erika telah mendengar beberapa hal menarik tentang pesulap muda ini, walaupun dia belum pernah melihatnya secara langsung.

Sangat hebat dan sangat muda!

Sangat berbakat!

Dia memiliki sentuhan ajaib! Seolah bakat itu mengalir di tubuhnya sejak lahir!

Namun Erika terlalu sibuk membaca buku-bukunya dan menulis beberapa catatan mengenai unsur-unsur dan zat, membuat jurnal penelitian dan pengamatan langsung terhadap beberapa hal sebelum mengujicobanya.

Erika mencomoh, dia tidak percaya adanya bakat alam. Semuanya adalah ilmiah dan dapat dipelajari. Sulap, walau sehebat apapun, hanyalah perpaduan antara reaksi kimia dan percobaan fisika yang melahirkan trik-trik hebat. Semuanya adalah tentang matematika dan kalkulasi. Sang Master sudah mengajarkan hal tersebut padanya di usianya yang masih belasan.

Sekarang dia akan melihat sehebat apa pesulap terkenal ini.

Midnight Gala Spectacle

Terpampang jelas di depan pintu masuk dengan ukuran cukup besar untuk dilihat dari jarak seratus meter lebih. Tulisan itu bergaya rumit–mungkin latin atau semacamnya? Namun entah mengapa tulisan itu terlihat begitu familiar untuknya. Sepertinya dia pernah melihat tulisan itu di suatu tempat, namun ingatannya kabur seperti kabut di malam itu.

Erika merapatkan mantelnya. Udara di London pada bulan November tidak terlalu bersahabat. Sejak pagi angin bertiup cukup kencang untuk menerbangkan dedaunan kering di jalan-jalan. Orang-orang berlalu lalang mengeluhkan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini. Beberapa tampak tak sabar menantikan pesulap idaman mereka, sebagian lagi tampak bosan menunggu karena tidak punya hal lain untuk dilakukan malam ini.

Erika memutuskan untuk berjalan lebih jauh, kemudian dia melihat dua anak kecil bergandengan tangan dan berlarian. Mereka terlihat kembar namun berbeda. Salah satu dari mereka memiliki rambut perak panjang dan satunya lagi berambut merah menyala. Menurut kalkulasinya, salah seorang dari mereka akan menabraknya.

Dan benar saja, gadis kecil berambut merah yang sedang berlari dikejar oleh temannya itu tersandung dan menabraknya. Sialnya, anak itu membawa apel berlapis cokelat dan makanan itu menempel di mantelnya. Gadis cilik itu menggumamkan maaf berkali-kali padanya setelah Erika membantu gadis cilik itu berdiri. Wajahya jelas penuh penyesalan. Sementara gadis lainnya hanya berdiri, menunggu.

Sesuatu di dalam diri gadis itu mengingatkan Erika pada sesuatu yang bertahun-tahun lalu sudah dia lupakan. Kelembutan dan kehangatan yang terpancar di matanya membuat kepala Erika kembali dipenuhi kabut. Dia segera mengenyahkan pemikiran itu, karena walau dilihat dari segi manapun–menyukai anak di bawah umur adalah perbuatan yang salah.

Sang gadis berambut perak yang sedari tadi hanya menunggu, kini melangkah dan menggenggam tangan anak berambut merah. “Maafkan Miyoung, dia tidak melihat jalanan dan tersandung. Apa yang bisa kami lakukan untuk mengembalikan mantelmu seperti semula?”

Anak itu terlihat dingin, dan dewasa. Sepertinya dia berperan untuk memastikan bahwa keadaan di sekitar mereka baik-baik saja. Erika beranggapan bahwa tatapan gadis itu sangat tajam dan terlihat penuh pengetahuan akan sekitarnya.

“Tidak perlu, aku bisa mengatasinya. Lain kali berhati-hatilah.” Erika memandang gadis kecil itu sekilas, lalu pergi. Berharap kenangan itu akan hilang sendiri, seperti kabut di pagi hari yang hilang bersama jejak kakinya. 

Pertunjukan ini sepertinya diminati banyak orang. Semakin malam, jalanan semakin sesak pengunjung. Di sepanjang lapangan, terhampar puluhan tenda bergaris vertikal merah, putih, kuning dan biru yang berjajar-jajar. Sejenak, Erika mengira dia datang ke pertunjukan sirkus alih-alih pertunjukan sulap.

Ada banyak pengunjung yang membawa makanan dan Erika menyadari bahwa tenda-tenda yang berjajar di tengah lapangan itu adalah festival makanan yang mungkin diadakan bersamaan dengan pertunjukan ini.

Bisnis, ejek Erika. 

Seharusnya dari awal dia sudah tahu bahwa orang-orang ini menggunakan seni hanya untuk mengambil keuntungan pribadi. Menjual word-of-mouth pada orang-orang. Ekspektasi Erika pada siapapun pesulap yang akan dia hadiri pertunjukannya malam ini menurun drastis.

Bakat alam untuk menggerus kantung orang lain maksudnya?

Dan Erika mulai mempertanyakan apakah keputusannya malam ini sudah benar. Namun intuisinya mengatakan bahwa malam ini adalah malam penting dalam hidupnya. Dan dia mempercayai dirinya sendiri lebih dari apapun di dunia ini.

Erika melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Masih pukul 10:30. Dia datang terlalu sore untuk hingar bingar yang terasa palsu. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak dan membeli makanan di salah satu dari tenda-tenda bergaris vertikal itu.

Beberapa menit berlalu dan dia kembali bertemu dengan kedua gadis cilik itu, yang tengah mengantre di salah satu tenda yang diasumsikan Erika menjual aneka makanan dari cokelat. Halloween masih beberapa minggu lagi dan cokelat sudah selaris itu?

Penasaran, Erika mencoba melihat dari dekat. Plang di depannya bertuliskan, ‘Gratis bagi pemegang tiket platinum & Gold.’

Erika mengeluarkan tiket dari saku mantelnya. Dia tidak mengerti jenis tiket apa yang dia punya dan dia tidak tertarik untuk mengetahui. Toh, kalaupun dia mau apapun makanan disini, dia bisa membelinya.

Seseorang terkesiap di sampingnya lalu berteriak pada sang penjual makanan. “Mom, lihatlah! Dia mendapat tiket gold!” 

Ternyata sang gadis kecil berambut merah dari tadi mengamatinya dan kini dia menyeret Erika melewati berpuluh-puluh antrean. “Mom, lihat!”

Seorang wanita paruh baya yang tengah sibuk melayani pembeli pun sejenak berhenti. “Oh, Miyoung! Lihatlah gadis ini membawa tiket emas. Sudah lama sekali aku tak melihatnya.”

“Memangnya apa itu tiket emas?” Erika bertanya dan wanita itu tersenyum padanya.

“Oh, tiket emas biasanya diperuntukan bagi tamu-tamu spesial keluarga Hwang atau orang-orang yang dianggap penting. Biasanya mereka tidak perlu repot-repot untuk berjalan-jalan di sekitar arena pertunjukan karena apapun yang mereka butuhkan sudah di sediakan di ruang VIP.” 

Erika mengamati wanita itu berbicara sambil melayani pelanggan. 

“Tapi jangan bilang siapapun tentang hal terakhir itu. Oh, dan silahkan mengambil apapun yang kau suka. Mereka akan melayanimu dengan senang hati.”

Erika mengangguk. Memilih cokelat hangat dengan strawberry di atasnya–dia memilihnya karena alasan-alasan emosional dari masa lalunya.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan tiket itu?” Gadis berambut merah itu bertanya padanya.

“Hush, Miyoung. Apa yang kubilang padamu soal bersikap sopan pada semua tamu penting keluarga Hwang?”

Seketika gadis itu menunduk dan Erika tersenyum. “Tiket itu datang secara ajaib di depan pintuku.”

Matanya berbinar-binar. “Benarkah? Aku tahu Miss Hwang benar-benar memiliki bakat alam.”

“Dia hanya mengirimkannya lewat pos, Miyoung. Jangan mengada-ada.” Gadis berambut perak tiba-tiba berdiri disampingnya dan menatap Erika dengan tajam, seolah menganalisisnya. 

“Yah, TaeTae… Miss Hwang selalu membantumu dan baik padamu. Kenapa kau selalu bersikap begitu padanya.” Tegur Miyoung.

“Aku tidak membencinya.”

“Tapi kau tidak menyukainya.”

Gadis itu mengangkat bahu dan berbalik. “Dia terlalu misterius, dan aku tidak suka berada di dekat orang-orang misterius.”

“Yah! Kau ini! Tunggu aku.” Gadis itu tersenyum padanya dan melambaikan tangan. “Senang bertemu denganmu, nona. Silahkan nikmati cokelat hangatnya.” Lalu dia pun pergi mengejar sang gadis kecil berambut perak.

*

Saat menatap kedua mata gadis itu, Erika tahu dia sedang dalam bahaya besar.

Pertunjukannya sangat spektakuler dan Erika merasa terkesan dibuatnya. Trik-trik sulapnya tidak biasa dan sangat luwes, seolah gadis itu telah melakukannya sejak lahir. Dia terlahir dengan bakat alam. Orang-orang itu tidak mengada-ada saat menyebut gadis itu sangat hebat.

Yang jadi masalahnya adalah, gadis itu ternyata adalah rivalnya. Musuh yang selama ini sedang dia tunggu untuk dikalahkan. Erika tahu begitu sang gadis melempar kedua sarung tangannya, dia dapat melihat cukup jelas segaris luka di jari manisnya–mirip seperti miliknya. Walaupun di kegelapan malam, dia mengenali garis itu karena dia juga memilikinya. Namun, disamping semua itu, yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa gadis itu adalah Tiffany, hantu dari masa kecilnya. Teman sepermainan yang lama menghilang.

Bodohnya, Erika tidak pernah tahu jika gadis itu bisa bermain sulap.

Ajarkan padaku. Apapun yang kau tahu.

Sekarang dia mengerti.

Apapun yang terjadi, Sang Master berkata dia harus mengalahkan musuhnya karena pengikatan itu bersifat kekal, abadi dan tidak mudah dihancurkan.

Kemanapun kau berlari, takdir itu akan mengikutimu.

Kata-kata Sang Master terngiang di kepalanya begitu menjengkelkan hingga dia kehilangan sebagian akal sehatnya.

Aku harus menang. Aku harus mengalahkan Tiffany Hwang.

Dan hal pertama yang harus dia lakukan adalah: menyusun sebuah rencana.

fresh-summer-looks-by-style-bloggers

PS:

Okay, i know… i know ini sudah sangat lama dan aku menyesal telah mengabaikannya selama… lebih dari setahun?

Okay, i know… i know cerita ini seharusnya hanya terdiri dari dua part sebelum aku benar-benar mengakhirinya. Namun, setelah kupaksa menuliskan idenya ternyata cerita ini terlalu panjang jika dibuat dua part dan terlalu pendek jika dijadikan multishoot. Jadi, aku memutuskan untuk menjadikannya tiga part secara keseluruhan.

Aku tidak bisa berjanji akan menyelesaikan part terakhir dalam waktu dekat ini namun aku akan berusaha semampu yang kubisa. (Mumpung masih libur semesteran.. hahaha)

Okay, i know…. i know design tiket di atas sama sekali tidak elegan dilihat dari perspektif manapun. Bahkan sangat jauh dari kata ‘keren’. Hehehe.. Maafkan saya dengan kemampuan terbatas yang saya miliki.

Dan aku membuat dua poster untuk cerita ini, karena sejujurnya aku menghabiskan waktu dua hari ini dengan proporsi : 20% menulis, 30% mendesign, 30% menyesali fakta bahwa besok adalah hari senin dan segunung kerjaan yang kubiarkan tergeletak padahal deadline sudah di depan mata karena hayati sudah lelah, 25% browsing dan nonton film, 5% benar-benar menulis. Jadi sekali lagi maapkan apabila ada hal-hal yang tidak diharapkan. Kritik akan sangat berguna demi perbaikan-perbaikan di masa depan 😀

Oh ya, saya mengubah kembali tampilan wp nya. Hehehe… Yah, itu termasuk ke dalam 30% proporsi waktu mendesign.. hahaha…

Jadi, katakan poster mana yang paling kalian suka?

And last, happy birthday to Sooyoung and myself! (wkwkwkwkwkw)

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

15 thoughts on “MAGIC [2/3]”

  1. Tak disangka, tak di duga ff yg sudah tersimpan lama ini akhirnya muncul lanjutan nya juga hahaha. Duhh apa fany tau klo takdirnya dia itu bertarung sama taeyeon, terus dia minta ajarin taeyeon tentang apapun…semoga aja pertarungan nya gak berujung ke dalam hal2 yg tidak diinginkan. Gua sih suka sama poster yg kedua (dibawah) hihihi

  2. salam kenal,, met ultah author,, sehat n sukses sllu. semangat buat nulisnya. oya thor, kok bisa tae n fany yg kepilih bertarung ya. trz fany wkt nangis di kamar pas kecilnya itu sambil liat jarinya, apa dia udh tau tae jd takdir bertarungnya fany, trz klo udh menang kalah dptnya apa bagi master n ayahnya. apa mereka bermusuhan kok harus milih bertarung sampai mati buat lepas takdir? yang dimaksud projek atau bisnis seperti apa antara ayah fany n master ya ? apa gda cara laen selain bertarung, ya ntr mati dunk ttp salah satu atau gimn? mksh author,,

  3. Yeoni kira nih ff udh hiatus buat selamanya but its okay that u r back thor . Sampai lupa nih awal ceritanya kayak apa thor. But which is i knoe plotnya dikit dikit. 😆😆
    Semangat thornya

  4. wowwww gak nyangka lu bkalan ngelanjutin ni ff stelah skian lama terbengkalai haha #viss
    apa”an ini?? erika dan tiffany hrus bertarung??? gmn dgn hubungan mreka slnjut’y??? miyoung dan taetae junior ngegemesin, taetae sprti biasa sok cool haha

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s