One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Photograph [One Shoot]

photograph

cr all pics to the owner

~S2 Present, romance, yuri, angst ~

Copyright © 2017, @sasyaa95

Nenekku dulu sekali pernah berkata pada ibuku, ‘lihatlah bintang-bintang itu, sangat indah bukan?’ dan dia pun mengangguk, saat itu kota masih bebas dari polusi. ‘Di sanalah tempat orang-orang yang kau cintai berada.’ Ibuku masih belum tahu artinya, namun dia tetap mengangguk. Beberapa tahun kemudian setelah nenek meninggal, ibu mendaki gunung bersamaku untuk memandangi alam semesta. ‘Di sanalah dia berada.’ Katanya padaku. ‘Orang-orang yang kau cintai akan bersinar bersama bintang-bintang.’ Dan aku pun mengangguk, sama seperti ibu.

Taeyeon menatap seuntai kalung berlian dalam kotak berwarna hijau tosca yang dia genggam, kilau berlian itu mengingatkannya pada gemintang. Kalung itu adalah hadiah sempurna untuk sang kekasih. Malam ini tepat tiga tahun mereka bersama dan satu tahun lagi sebelum mereka melaksanakan pernikahan. Dia sudah merencanakan untuk melamar kekasihnya. Taeyeon tidak bisa lebih bahagia dari pada itu.

Wait for me to come home, baby :*

Taeyeon mengamankan kotak tersebut dalam sakunya setelah mengirimkan pesan pada gadis yang sedang menunggunya di rumah.

Okay, be safe babe… ❤

Senyumnya pun merekah, mengalahkan bintang-bintang yang bersinar malam itu. Taeyeon berjalan melewati ribuan orang yang berlalu lalang di sepanjang trotoar di jalanan kota Seoul. Walau demikian, senyum tersebut tidak hilang dari wajahnya.

Taeyeon mendesah. Hari ini mobilnya tidak mau menyala, sehingga dia harus menggunakan bus untuk berpergian. Dia sudah memesan kalung ini sebulan yang lalu dan baru siang tadi dia mendapat pemberitahuan bahwa kalungnya sudah selesai dan dapat diambil. Taeyeon tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Dia ingin memberikan hadiah itu pada kekasihnya di malam yang spesial ini.

Begitu melihat tempat duduk kosong di halte pemberhentian, Taeyeon segera menempatinya. Dia begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang kejutan yang akan diberikan pada kekasihnya hingga dia tidak memperhatikan seorang gadis di sampingnya sedang berusaha mengajaknya berbicara.

“Hey… maaf, aku baru di kota ini. Boleh aku tahu ke mana pemberhentian selanjutnya?”

Taeyeon tersenyum padanya. “Ke Gyeonggi”

“Oh, baiklah. Terima kasih.”

Taeyeon mengangguk dan kembali tenggelam dalam pikirannya.

“Dia cantik, kekasihmu?” Dengan enggan Taeyeon mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

“Ya.”

“Dia pasti sedih jika kau pergi terlalu lama.”

“Huh?”

Namun gadis itu hanya tersenyum. “Cinta dapat menyakitimu, namun cinta juga dapat menyembuhkanmu.” Lalu gadis itu pun pergi menembus kerumunan. Gadis aneh. Namun Taeyeon tidak memikirkannya lagi.

I love you.

Suara bus yang datang langsung membuyarkan lamunannya. Taeyeon tak sabar untuk segera bertemu dengan kekasihnya. Malam ini akan jadi malam yang sangat panjang. Pikirnya sambil tertawa.

*

‘Kau suka?’ Taeyeon mengalungkan berlian itu di leher kekasihnya. ‘cantik’ Dia menatap pantulan diri sang kekasih di depan cermin, lalu mengecup pundaknya.

‘Sangat.’ Tiffany menyusuri kalung itu dengan jarinya. ‘Seperti bintang-bintang.’ Lalu gadis itu berputar dan mengecup bibir Taeyeon. ‘Terima kasih.’

‘Sebuah kebahagiaan bagiku dapat memilikimu seperti ini.’

Lengan Tiffany melingkari pinggangnya. Mereka saling menatap dalam keheningan di antara bintang-bintang.

‘Jangan pernah tinggalkan aku…..’

“Nona, nona!”

Seseorang mengguncang tubuhnya dengan keras. “Apa? Apakah sudah sampai?”

Namun wajah wanita itu begitu menunjukkan kekhawatiran. “Kita punya masalah besar.”

Kantuk langsung meninggalkan tubuhnya. “Ya?” Taeyeon melihat sekelilingnya. Semua orang berwajah tegang, khawatir bahkan beberapa anak kecil menangis dalam pelukan orang tuanya. “Ada apa?”

“Bus ini tidak mau berhenti. Remnya blong.”

Jantung Taeyeon serasa berhenti berdetak. “Tidak.. Tidak…Seberapa jauh Gyeonggi dari sini?” Tanyanya.

“Sebenarnya kita sudah melewatinya.” Wajahnya tampak menyesal. “Kita sudah melewati tujuan kita karena bus sialan ini tidak mau berhenti.”

Taeyeon melihat ponselnya. Ada beberapa pesan khawatir dari kekasihnya. Dia melihat jam, seharusnya dia sudah sampai di rumah dua puluh menit yang lalu. Tepat sekali karena sekarang ponselnya bordering.

“Tae? Di mana kau?”

Taeyeon berusaha membuat suaranya setenang mungkin. “Aku masih di bus.”

“Oh…” Suaranya berhenti sejenak, menilai. “Apakah semuanya baik-baik saja?”

Taeyeon melihat kegaduhan di sekelilingnya: suara orang menangis, suara orang berteriak-teriak dan suara kondektur yang berusaha menenangkan mereka. Kepanikan mulai merayap di tenggorokannya. “Fany…” Dia mengambil napas. “Dengar… sedang.. uh? Ada masalah di sini. Aku tidak tahu kapan aku sampai rumah tapi..” Apakah dia bisa sampai rumah? “Tetap di tempatmu, okay. Aku akan berusaha kembali secepat mungkin.”

“Taeyeon…” suaranya berubah serak, khawatir. “Katakan padaku ada apa.”

“…”

“Taeyeon?”

“Busnya… tidak mau berhenti… Remnya tidak befungsi.”

Ada keheningan sejenak sebelum Taeyeon mendengar ada suara benda yang pecah dan isak tangis kekasihnya.

“Hey… hey Fany.. aku akan…” akankah dia baik-baik saja? “berusaha yang terbaik. Kau tetap di tempatmu ya.. aku akan memb….”

Seluruh penumpang terlempar ke depan dengan suara gedebuk keras. Sepertinya bus telah menabrak sesuatu, namun sayangnya hal itu tidak menghentikan bus tersebut.

Kepalanya berdenyut setelah terantuk kursi penumpang di depannya. Ouch. Rasanya sakit sekali. Begitu tersadar, Taeyeon langsung mencari ponselnya yang juga terlempar.

“Fany…”

Sialan.

Ponselnya mati. Mungkin karena guncangan.

Taeyeon berusaha menyalakannya kembali. “Kumohon… menyalalah..” Dia melihat pasangan kekasih di seberang deretan kursinya. Mereka berpelukan erat dan Taeyeon mendengar isak tidak masalah asalkan kita bersama-sama.

Sialan!

“Bu, akankah kita selamat?” Seorang anak merengek pada ibunya, sang ibu pun memeluknya. Taeyeon melihat sang ibu sudah menyerah namun dia tidak ingin menyakiti anaknya yang mungkin saat ini adalah saat terakhirnya. “Ya, sayang. Sebentar lagi kita pulang.” Taeyeon tidak ingin tahu ke mana mereka akan pulang. Dia hanya memikirkan kekasihnya yang sedang menunggu di rumah.

“Kita mungkin tidak akan selamat malam ini.” Kata seseorang di belakangnya, Taeyeon menoleh. Gadis itu!

Dia tersenyum dan mengulurkan tangan, “hai. Kita bertemu kembali.” Sialan. Dia tidak kelihatan khawatir sama sekali. Matanya dipenuhi kabut kegembiraan yang menyedihkan.

“Bagaimana kau bisa tersenyum di saat seperti ini?” Taeyeon tidak dapat menyembunyikan kepanikannya.

“Yah, kita semua akan mati pada akhirnya.” Lalu gadis itu menatapnya lekat. “Akan sangat disayangkan apabila kita mati tanpa memberitahu orang yang paling kita sayangi bahwa kita mencintai mereka.” Lalu gadis itu kembali berlalu.

Benda sialan! Menyalalah.

Taeyeon hampir berteriak saat melihat layarnya kembali menyala dan ponselnya dibombardir oleh berpuluh-puluh pesan. My Love.

Taeyeon mengernyit. Aku harus menghubunginya sebelum semuanya terlambat.

“TAEYEON!” Adalah hal pertama yang dia dengar beserta isak tangis kekasihnya.

“Fany…”

“DI MANA KAU?” Dia tidak tahu.

“Di bus…”

“Di mana tepatnya?”

“Tetaplah di rumah, Fany… Aku akan berusaha kembali.”

“Aku akan menjemputmu.”

“Fany…” Dia tahu dia sudah tidak punya banyak waktu lagi saat bau asap mulai mencekik tenggorokannya. “Dengarkan aku…”

“….”

“Aku berencana memberimu kejutan…” Kemudian Taeyeon tertawa, terasa getir. “Namun sepertinya semua tidak berjalan sesuai rencana.”

“Tidak.. Taeyeon..”

“Aku ingat hari ini.. Tepat tiga tahun kita bersama, bagaimana denganmu? Apa kau mengingatnya? Saat pertama kali kita bertemu? Kita saling menabrak di bawah jembatan dan ponsel kita tidak sengaja tertukar?”

Taeyeon tidak dapat lagi menahan isaknya. “Aku tidak pernah merasa sekesal dan sebahagia itu di dalam hidupku.”

Aku harus mengatakannya sekarang.

“Taeyeon… jangan…”

“Aku tidak tahu apakah aku bisa mengatakan hal ini, Fany. Aku tahu ini tidak ideal.. Semua ini…. yang sudah kurencanakan. Aku tak ingin semuanya berakhir sia-sia. Setidaknya aku masih bisa mengatakannya padamu malam ini, Fany..”

Hanya isak tangis yang terdengar. Taeyeon merasa hatinya hancur berkeping-keping mendengar kekasihnya menangis dengan begitu menyakitkan.

“Maaf, aku tak sempat menyiapkan dinner romantis dan, hadiah ini mungkin tidak akan sampai ke tanganmu.”

“Hentikan Taeyeon, katakan kau akan baik-baik saja.”

“Ya.. aku ingin sekali mengatakannya…”

Lalu kata-kata gadis aneh itu terngiang di kepalanya ‘Cinta dapat menyakitimu, namun cinta juga dapat menyembuhkanmu.’

Dia akan memberikan hadiah terakhir pada kekasihnya…

“Dengar Fany… Jika semua ini bertambah buruk, jika… jika aku sudah tidak lagi..”

“HENTIKAN TAEYEON!”

“Fany… biarkan aku bicara, kumohon..”

Hanya isak tangis yang menjawab pertanyaannya. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal ini. Jika dia bisa, dia akan melompat dan terbang menemui kekasihnya lalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja,  tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Taeyeon akan menghapus air mata dari wajah kekasihnya dan mereka akan berpelukan di bawah bintang-bintang. Jika semua itu dapat dia lakukan, demi apapun dia akan melakukannya.

“Aku ingin kau bahagia. Jika aku gagal… jika aku gagal menemuimu. Kumohon, bahagialah bersama orang yang kau cintai.”

“Aku hanya mencintaimu.”

“Kau tidak sendirian, Fany… dan kau harus berjanji kau tidak akan sendiri.”

“……….”

“Fany?”

“…………..”

“Fany… kumohon…”

“Aku… aku berjanji..”

Taeyeon tersenyum di sela-sela isaknya. “Dengarkan…”

‘Loving can hu-urt… loving can hu-urt sometimes..

But it’s the only thing tha-at I know…

Maafkan aku yang melanggar janjiku untuk tidak akan pernah melepaskanmu, Fany…

And when it gets ha-ard, you know it can get ha-ard sometimes…

It is the o-only thing that makes us fe-el alive…

Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kulakukan dalam hidupku..

We keep this love in a photogra-aph..

We make these memories for ourse-elves..

Where our eyes a-are never closing, hearts a-are never broken, and time’s forever frozen sti-ll..

Apapun yang terjadi hari ini, kuharap kau takkan pernah melupakanku…

So you can ke-ep me, inside the po-ocket of your ripped jeans..

Holding me clo-oser till our eyes meet, you won’t ever be alo-one..

Wait for me to come home..

Berjanjilah kau akan bahagia, arasso?

Loving can he-eal, loving can me-end your soul..

And that’s the only thing that I know..

Walaupun bukan lenganku yang kaupeluk…

I swear it will get e-asier, remember that with every piece of you-u..

And it’s the only thing we take with us when we die-e.. uhuk..

Walaupun bukan bibirku yang kaucium…

We keep this love in a photogra-aph..

We make these memories for ourse-elves..

Where our eyes a-are never closing, hearts are never broke-en, and time’s forever frozen sti-ll..

Walaupun bukan tubuhku yang kau sentuh….

So you can ke-ep me, inside the po-ocket of your ripped jeans..

Holding me clo-oser till our eyes meet, you won’t ever be alo-one..

And if you hu-urt me, well that’s okay baby only wo-ords bleed..

Inside the pa-ages you just hold me, and I-I won’t ever let you go..

Wait for me to come ho-ome.. Uhuk..

Berjanjilah kau takkan membiarkan dirimu larut dalam kesedihan, kesengsaraan dan kesendirian..

Wait for me to come ho-ome..

Walaupun itu artinya kau harus bahagia bersama orang lain, dan orang itu bukan aku…

Wait for me to come h-oome..

Ingatkah kau akan janji-jianji kita di bawah gemintang?

Wait for me to come ho-ome..

Kita akan hidup bahagia sampai kita tua dan keriput, melihat anak cucu kita tumbuh menjadi orang-orang hebat?

Oh you can fit me-e, inside the necklace you got when you were six-teen..

Next to your heartbeat where I-I should be, keep it deep within your so-ul..

Aku tidak akan melupakannya.. Aku akan melihat mereka bersinar seperti bintang-bintang malam itu…

And If you hu-urt me, well that’s okay baby only words ble-ed…

Inside the pages you just ho-old me, and I won’t ever let you go-o..

Berjanjilah kau juga akan bersinar seperti mereka…

When I’m aw-ay, I will reme-mber how you ki-issed me..

Under the lamp-post back on si-xth street, hearing you whisper through the pho-one..

Walau tanpaku disisimu…

Wait for me to come home…

 

Jika ini adalah saat terakhirnya, Taeyeon akan memberikan yang terbaik untuk Tiffany, walaupun hanya sebuah lagu yang dapat ia persembahkan. Akan dia lakukan dengan segenap hatinya.

I love…..

hrr-BUM

you….

*

Dengan berlinang air mata, Tiffany berlari menyambar kunci mobilnya.

Dia melacak GPS nya, mencari tahu tempat terkahir ponsel Taeyeon menyala. Sialan! Sangat jauh.

Tapi apapun yang terjadi, apapun yang Taeyeon katakan, dia akan menjemput kekasihnya.

Seharusnya malam ini tidak berakhir begini!

Merkeka seharusnya menikmati dinner romantis lalu dilanjutkan dengan bercinta sepanjang malam. Bukan seperti ini!

Tiffany mengendarai mobilnya dalam kecepatan penuh. Bodoh! Kim Taeyeon bodoh! Dia sudah menawari mobilnya namun gadis itu memaksa berpergian dengan bus.

Kecepatan mobilnya tidak berkurang, sampai dia harus berhenti bersama puluhan kendaraan lainnya.

Lampu merah sialan!

Dia melihat layar televisi di depan sebuah toko roti yang menyiarkan berita terkini: sebuah kecelakaan bus yang menabrak pembatas jalan dan meledak. Tiffany kembali memacu mobilnya, kali ini lebih kencang. Mengabaikan pandangannya yang kabur dan mobil polisi yang meraung-raung di belakangnya.

Degup jantungnya tidak mau melambat, seperti air mata yang terus mengalir di wajahnya. Kenapa Taeyeon? Kenapa harus begini?

Tiffany tidak sempat bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai di tempat itu dengan waktu yang sangat singkat, dia tidak peduli saat mobil polisi memintanya untuk memperlambat kecepatan. Persetan! Bagaimana jika kekasihmu dalam bahaya! Dia berteriak pada dirinya sendiri.

Hancur. Semuanya sudah hancur, seperti perasaannya. Puing-puing berserakan di sana sini. Asap membumbung di sekitar badan bus. Ada garis polisi yang dipasang di sekitar tempat kejadian. Tiffany berlari, melompati garis kuning tersebut lalu berlari lagi.

Tenggorokannya tercekat, bau asapnya menusuk khas logam yang terbakar, begitu tajam sampai mengiris lidah seperti pisau. Tiffany mengabaikan debu kuning lengket yang menutupi kulitnya. Sangat halus namun menyengat seperti semut api, dan dia langsung mengusapnya dengan lengan baju.

Seorang polisi mengejarnya, berlari sambil berteriak ‘berhenti dan berbahaya’ namun dirinya terlalu hancur untuk memedulikannya. Untuk momen sejenak yang terasa gila, Tiffany mempertimbangkan untuk melompat dalam kobaran api dan mencari kekasihnya. Namun dia berhenti, memandang setajam yang bisa dilakukan matanya yang penuh air mata, namun yang dapat ia lihat hanya gundukan campur aduk logam hancur yang bengkok dan keling-keling pecah.

Tenggorokannya terbakar, hatinya patah dan Tiffany menggigil walaupun udara begitu panas karena api. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Taeyeon, tanpa melihat senyumnya, tanpa mendengar suaranya.

Tanpa dia.

Matanya menangkap sebuah kotak tosca yang jatuh cukup jauh dari puing-puing bus yang hancur. Di sekitar rerumputan, Tiffany harus melompati pembatas jalan untuk dapat mengambilnya.

Sambil berjuang mencari udara, Tiffany membuka kotak tersebut dan menemukan secarik kertas bertuliskan: ‘Untuk cintaku, Tiffany.’

Wait for me to come home…

*

Untuk cintaku, Tiffany…

Nenekku dulu sekali pernah berkata pada ibuku, ‘lihatlah bintang-bintang itu, sangat indah bukan?’ dan dia pun mengangguk, saat itu kota masih bebas dari polusi. ‘Di sanalah tempat orang-orang yang kau cintai berada.’ Ibuku masih belum tahu artinya, namun dia tetap mengangguk. Beberapa tahun kemudian setelah nenek meninggal, ibu mendaki gunung bersamaku untuk memandangi alam semesta. ‘Di sanalah dia berada.’ Katanya padaku. ‘Orang-orang yang kau cintai akan bersinar bersama bintang-bintang.’ Dan aku pun mengangguk, sama seperti ibu.

Tahukah kau, berlian ini mengingatkanku pada perkataan ibuku. Namun lebih dari itu, berlian ini mengingatkanku padamu…

Saat aku melihat matamu, yang kulihat adalah bintang-bintang…

Dan kau bersinar lebih terang dari rembulan…

Kau adalah hal terindah yang pernah kumiliki…

Aku mencintaimu lebih dari bintang-bintang itu, mereka tidak bersinar apabila kau bersedih dan mereka menghilang apabila kau pergi..

Aku ingin menjaga bintang-bintang itu supaya mereka tidak bergi.. Aku ingin memiliki bulan itu selamanya…

Maukah kau menjadi milikku selamanya?

Bisakah aku memanggilmu Nyonya Tiffany Kim?

Bersediakah kau?

“Ya…. aku bersedia…..”

*

Terkadang, apa yang benar-benar kau inginkan, tak pernah bisa kau miliki. Orang-orang yang optimis mungkin akan berkata hal itu tidak ditakdirkan untuk menjadi milikmu karena itu bukan yang terbaik untukmu. Orang-orang yang pesimis mungkin akan menyerah dan berkata bahwa dunia ini begitu tidak adil karena telah merenggut satu-satunya hal yang dia inginkan—bahwa takkan ada lagi hal yang lebih baik untuknya.

Bagi Tiffany, cinta itu tidak menyakitkan. Kesendirian lah yang menyakitkan. Kehilangan seseorang yang kau cintai, itu sangat menyakitkan. Keinginan untuk memiliki hal yang tidak dapat kau miliki, itu juga menyakitkan. Namun pada kenyataannya cinta adalah satu-satunya hal di dunia ini yang menyembuhkan rasa sakit dan membuat seseorang merasa lebih baik lagi. Cinta adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak membuatmu sakit. Seperti bintang, mereka akan tetap bersinar—terkadang awan hanya menutupinya namun mereka tidak benar-benar menghilang. Kau hanya butuh menyingkirkan awan-awan tersebut hingga kau dapat melihatnya.

Tiffany tersenyum menatap gemintang di langit. Ponselnya berkedip lalu sekilas dia melirik jam digital di atas mejanya. “Ups.. aku akan terlambat.”

Sebelum pergi, Tiffany menyempatkan diri untuk mengecup foto orang yang sangat penting baginya yang dia letakkan di sudut meja. Langkahnya begitu ringan seperti gadis remaja yang hendak menemui kekasihnya di sudut jalan. “Tunggu aku, Sayang…”

“Harum sekali..” Aroma mawar merebak memenuhi kerongkongannya. “Dia pasti menyukainya.” Tiffany mengikik. “Ah, aku sudah tak sabar menemuinya..”

Di sepanjang perjalanan, Tiffany memikirkan semua hal yang akan mereka lakukan bersama-sama. Makan es krim, nonton film sampai bercinta hingga matahari terbit kembali. Sangat menyenangkan!

“Aha! Itu dia!” Tiffany berlari menemuinya.

Gadis itu tersenyum padanya, Tiffany balas tersenyum.

Matanya bersinar seperti bintang-bintang. “Hey, aku merindukanmu..”

Tiffany menyerahkan buket bunga itu padanya. “Aku membawakanmu mawar—kau selalu menyukainya kan?”

Gadis itu masih tersenyum padanya dan Tiffany langsung meledak dalam serangkaian ocehan tentang harinya.. “Yah, hari ini aku lelah sekali! Banyak pesanan desain yang harus kubuat—dan mereka semua sangat cerewet! Aku ingin melupakan hari ini bersamamu. Kita bisa makan es krim bersama di Freezing Planet, nonton film romantis sambil berpelukan lalu kita akan bercinta dengan layar televisi yang masih menyala. Pasti akan menyenangkan! Aku sungguh tidak sabar melakukannya bersamamu!”

Terdengar suara guntur yang menyambar dari kejauhan. Dia mendongak menatap langit yang mendadak begitu gelap. “Ugh! Kenapa harus hujan di saat seperti ini? Kenapa rencana kita selalu gagal?”

Tiffany merasakan butiran air mulai membasahi tubuhnya, mulanya begitu lembut lalu semakin lama semakin deras. Selama beberapa menit, dia tidak lagi dapat merasakan air dingin yang menghantam tubuhnya.

Tiffany mengadah, menatap sepasang mata tersenyum di hadapannya. Tubuhnya seketika melemas, dia tidak dapat melakukan apapun. Semua hal yang ingin dia katakan seolah pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian dan kesunyian yang menyesakkan.

“Lanjutkan.. jangan pedulikan aku.”

Tiffany akhirnya pecah dalam serangkaian isak tangis yang menyakitkan. Dia merentangkan tangan, menyentuh wajah yang begitu dia rindukan lalu mengecup bibirnya. Terasa dingin dan tidak nyata. Bibir yang tersenyum itu berlapis kaca, mata yang bersinar itu berlapis kaca, bahkan wajah dan rambutnya berlapis kaca.

Tiffany kembali menatap wajah kekasihnya yang berbingkai bunga-bunga. Menyusuri setiap jengkal yang dapat dia sentuh.

“Aku merindukannya… Sangat merindukannya….”

“Kau tahu, tak pernah seharipun aku tak merindukannya.. Memikirkan bagaimana jika dia kembali dalam hidupku. Bagaimana jika kami menjalani kehidupan seperti dulu lagi. Sebelum hal mengerikan itu terjadi… Kau tahu..”

“Ya… aku tahu…”

“Tidak… kau tidak tahu! Tidak ada yang tahu… hanya kami berdua yang tahu…”

Keheningan melingkupi mereka selama beberapa menit selanjutnya. Hanya terdengar isak tangis samar yang teredam bunyi hujan.

“Pulanglah… Miyoung menunggumu di rumah..”

Mendengarnya, Tiffany langsung tersenyum. Selama beberapa saat dia menatap keheningan sebelum berdiri dan mencium wajah kekasihnya yang masih menampilkan ekspresi yang sama seperti sebelumnya, tersenyum menatapnya.

“Sampai bertemu kembali… Aku selalu merindukanmu… Forever… and always…”

Sebelum beranjak, Tiffany sempat berbisik padanya… Sebuah janji. Janji yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Janji yang selalu dia ucapkan padanya… Satu janji yang hingga saat ini belum ditepati oleh kekasihnya dulu…

Wait for me to come home…

***

Ps. Well, sebenernya aku dilema memilih judul. A million Stars atau Photograph.. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih yang kedua.. hehehe..

Ah, seharusnya aku memosting MAGIC 3/3 cuman ide cerita ini terus meledak-ledak di kepalaku sampai bikin pusing. Hehehe.. Jadi kutuliskan saja.. walaupun agak aneh jadinya.. Yah, loving can hurt sometimes… And life as an adult is hard… we all are so fucked up.. yeah..

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

20 thoughts on “Photograph [One Shoot]”

  1. Suka sama os ini, sayang sih udah keburu ending padahal moment taeny kurang banyak tapi overall bagus thor 🙂 saya suka, walau sad ending :’)
    Ditunggu karya lainnya

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s