One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Like You Wanna be Loved [One Shoot]

bravery
cr all pics to the owner

~S2 Present, romance, yuri~

Copyright © 2017, @sasyaa95

Preview post : Photograph

_Meanwhile… In the parallel world_

Tiffany yakin akan banyak hal, dia yakin akan apa yang dia inginkan untuk makan siang, dia yakin akan design pakaian seperti apa yang akan dia launching pada musim panas yang sebentar lagi akan tiba, dia yakin akan karir seperti apa yang ingin dia capai lima tahun kedepan. Dia yakin akan segalanya. Namun, ada satu hal yang terkadang membuatnya bingung. Satu hal menyangkut masa lalunya. Hal yang membuatnya takut akan kenyataan yang sebenarnya.

Taeyeon meragukan banyak hal. Dia bingung menentukan apa untuk makan malam, dia ragu apakah lukisannya akan laku terjual pada pameran akbar bulan depan, dia ragu apakah yang akan dia lakukan lima tahun kedepan. Taeyeon selalu ragu-ragu dalam membuat keputusan. Namun, ada satu hal yang membuatnya memiliki keyakinan absolut. Satu hal mengenai masa sekarang dan masa depannya. Hal itu membuatnya bersemangat dalam melanjutkan hidupnya yang seolah tengah berada dalam ambang batas.

Dunia berjalan dalam keseimbangan yang selaras. Ekuilibrium. Bahkan bumi memiliki dua kutub yang berbeda. Contoh saja sebuah magnet, kedua kutubnya memiliki sifat yang sangat berbeda. Positif dan Negatif. Namun, dengan adanya perbedaan itulah yang membuat mereka saling tarik menarik. Sempurna.

Yin-Yang memiliki makna dimana lingkaran luar dalam simbol Ying-Yang menunjukkan everything, maksudnya keseluruhan yang ada di dunia. Kemudian Yin (black) dan Yang (White) keduanya merupakan simbol segala sesuatu yang tak terpisahkan. Memang tidak akan pernah terjadi hitam dan putih secara bersamaan. Namun ada saatnya terjadi hitam dan ada saatnya terjadi putih. Sebuah prinsip keseimbangan yang saling mengisi dan melengkapi.

Bagi Tiffany, tak ada yang membuatnya ragu selain Taeyeon.
Bagi Taeyeon, tak ada yang membuatnya yakin selain Tiffany.
Mereka bekerja dengan cara seperti itu.

*

Sinar mentari menerpa kaca jendela, membiaskan keindahan spektrum cahaya bekas hujan semalam. Meninggalkan jejak embun membasahi hijaunya dedaunan. Musim semi sebentar lagi tiba, seolah menyambut, kehangatannya membangunkan gadis brunette dari tidurnya. Gadis itu meregangkan tubunya dan menguap lalu berbalik, pandangannya terpaku pada sosok blonde yang berbaring dengan cantik di sampingnya.

Tiffany tersenyum. Setelah bercinta semalam, Taeyeon bersikeras untuk membuka gorden jendela kamar mereka jadi rembulan dapat menjadi saksi akan cinta mereka. Tak dapat menolak permintaan istri nya, Tiffany pun menurutinya.

Mengingatnya, membuat Tiffany tertawa kecil. Istrinya. Taeyeon adalah istrinya. Kim Taeyeon. Kim Taeyeon Hwang. Tiffany mengingatkan dirinya sendiri, bahwa gadis itu sekarang adalah miliknya dan hanya miliknya seorang.

Di pagi hari, saat matahari baru saja terbit Taeyeon seolah bersinar seperti gemintang di matanya. Mi hermosa amor (My beautiful love). Tiffany dengan perlahan mulai melayangkan kecupan-kecupan pada leher istrinya, menghirup aroma unik Taeyeon yang berbau seperti vanilla. Bagi Tiffany, aroma vanilla tersebut merepresentasikan segalanya tentang Taeyeon, kebaikannya, kecantikannya dan kesetiaannya pada cinta mereka.

Saat mata coklat gadis itu perlahan mulai terbuka akibat ulahnya, pikiran-pikiran Tiffany mulai dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan tentang masa depan mereka berdua. Tentang janji-janji yang diucapkan di bawah gemintang. Untuk hidup selamanya bersama-sama terlepas dari apapun yang akan terjadi pada keduanya. Mereka akan setia menunggu satu sama lainnya.

Setelah kejadian mengerikan itu, aku harus benar-benar menghukumnya karena telah mengatakan hal terlarang itu. Apapun yang terjadi aku takkan pernah bisa bahagia dengan orang lain. Tidak jika yang terbaring di sampingku saat ini adalah representasi dari sesosok bidadari.

“Selamat pagi Nyonya Tiffany Kim.” sebuah suara yang lebih merdu dari madu mengalun di telinganya. Tiffany tersenyum saat dia menatap bintangnya yang bersinar di terpa sinar matahari pagi.

“Selamat pagi Nyonya Taeyeon Hwang.”

_

Dengan berlinang air mata, Tiffany berlari menyambar kunci mobilnya. Dia melacak GPS nya, mencari tahu tempat terkahir ponsel Taeyeon menyala.

Sialan! Sangat jauh.

Tapi apapun yang terjadi, apapun yang Taeyeon katakan, dia akan menjemput kekasihnya.

Seharusnya malam ini tidak berakhir begini!

Merkeka seharusnya menikmati dinner romantis lalu dilanjutkan dengan bercinta sepanjang malam.

Bukan seperti ini!

Tiffany mengendarai mobilnya dalam kecepatan penuh. Bodoh! Kim Taeyeon bodoh! Dia sudah menawari mobilnya namun gadis itu memaksa berpergian dengan bus.

Kecepatan mobilnya tidak berkurang, sampai dia harus berhenti bersama puluhan kendaraan lainnya.

Lampu merah sialan!

Dia melihat layar televisi di depan sebuah toko roti yang menyiarkan berita terkini: sebuah kecelakaan bus yang menabrak pembatas jalan dan meledak. Tiffany kembali memacu mobilnya, kali ini lebih kencang. Mengabaikan pandangannya yang kabur dan mobil polisi yang meraung-raung di belakangnya.

Degup jantungnya tidak mau melambat, seperti air mata yang terus mengalir di wajahnya.

Kenapa Taeyeon? Kenapa harus begini?

Tiffany tidak sempat bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai di tempat itu dengan waktu yang sangat singkat, dia tidak peduli saat mobil polisi memintanya untuk memperlambat kecepatan. Persetan! Bagaimana jika kekasihmu dalam bahaya! Dia berteriak pada dirinya sendiri.

Hancur. Semuanya sudah hancur, seperti perasaannya. Puing-puing berserakan di sana sini. Asap membumbung di sekitar badan bus. Ada garis polisi yang dipasang di sekitar tempat kejadian. Tiffany berlari, melompati garis kuning tersebut lalu berlari lagi.

Tenggorokannya tercekat, bau asapnya menusuk khas logam yang terbakar, begitu tajam sampai mengiris lidah seperti pisau. Tiffany mengabaikan debu kuning lengket yang menutupi kulitnya. Sangat halus namun menyengat seperti semut api, dan dia langsung mengusapnya dengan lengan baju.

Seorang polisi mengejarnya, berlari sambil berteriak ‘berhenti dan berbahaya’ namun dirinya terlalu hancur untuk memedulikannya. Untuk momen sejenak yang terasa gila, Tiffany mempertimbangkan untuk melompat dalam kobaran api dan mencari kekasihnya. Namun dia berhenti, memandang setajam yang bisa dilakukan matanya yang penuh air mata, namun yang dapat ia lihat hanya gundukan campur aduk logam hancur yang bengkok dan keling-keling pecah.

Tenggorokannya terbakar, hatinya patah dan Tiffany menggigil walaupun udara begitu panas karena api. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Taeyeon, tanpa melihat senyumnya, tanpa mendengar suaranya.

Tanpa dia.

Matanya menangkap sebuah kotak tosca yang jatuh cukup jauh dari puing-puing bus yang hancur. Di sekitar rerumputan, Tiffany harus melompati pembatas jalan untuk dapat mengambilnya.

Sambil berjuang mencari udara, Tiffany membuka kotak tersebut dan menemukan secarik kertas bertuliskan: ‘Untuk cintaku, Tiffany.’

Wait for me to come home…

“Uhuk…”

Tiffany berdiri tegak saat mendengar suara dari balik semak-semak. Dia mengantongi kotak tersebut dalam sakunya sebelum instingnya menggerakkan tubuhnya untuk beranjak dari tempat itu dan melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Terlepas dari terangnya api yang berkobar dari bus yang terbakar, Tiffany kesulitan untuk melihat sesosok tubuh yang tergeletak tidak jauh dari semak-semak yang sudah tidak beraturan bentuknya.

Tiffany mengambil ponsel dari sakunya lalu menyalakan senter untuk menerangi pandangannya. Betapa terkejutnya gadis itu saat sudah berhasil melihat sosok tersebut hingga ia hampir saja menjatuhkan ponselnya. Dia berlari sekuat tenaga lalu berlutut dan melihat sosok yang kini terbaring di hadapannya. Tidak sulit untuk mengenali rambut pirang, tubuh mungil dan mantel biru yang sedikit terbakar di beberapa tempat. Walaupun sosok tersebut kondisinya sangat menyedihkan, dengan wajah penuh abu yang terbakar dan darah yang berkucuran.

“F—fany? Uhuk..”

“YA TUHAN! TAEYEON!”

Tiffany merengkuh tubuh kekasihnya dalam pangkuannya. Taeyeon berusaha membuka mata namun cahaya dari bara api yang membara membuat matanya kesakitan, lalu tangannya mencari-cari tangan yang sedang merengkuh wajahnya. “Fany? Kaukah?”

“Iya.. Ini aku, sayang. Tunanganmu. Aku Tiffany.. Tiffany Kim.”

Tiffany melihat gadis dalam pangkuannya tersenyum, hingga tanpa sadar dirinya ikut tersenyum walaupun air mata tak berhenti membanjiri wajahnya.

“Tiffany Kim… Uhuk..”

Panik mulai merayap di tenggorokannya saat dia merasakan tubuh Taeyeon mulai melemah.

“Taeyeon… bertahanlah. Kumohon. Aku akan mencari bantuan untukmu.”

Secepat kilat Tiffany membuka mantelnya lalu berhati-hati meletakkan kepala Taeyeon di atasnya. Gadis itu lalu berdiri dan berlari menuju mobil-mobil polisi kemudian berteriak.

“TOLONG! ADA KORBAN SELAMAT DAN DIA BUTUH BANTUAN SEGERA! SEGERA!”

Bertahanlah Taeyeon, kumohon…

_

“Psst…”

Taeyeon merasa kasurnya bergerak di sampingnya, lalu dia membuka mata perlahan-lahan berusaha melawan rasa kantuknya.

“T-Tiffany? Apa yang kau—Jam berapa sekarang?”

“2 Pagi. Shh—dengarkan suara lagu ini..”

Mata Tiffany bersinar di bawah cahaya rembulan yang menyeruak ke dalam kamarnya melalui jendela, senyum menghiasi wajah cantiknya, alisnya bermain-main dengan nakal. Taeyeon mempertajam pendengarannya untuk mendengar suara musik yang mengalun lembut dari iPod di atas meja tidurnya. Tidak memerlukan waktu lama untuknya mengenali nada yang mengalun lembut milik Ed Sheeran.

Settle down with me
Cover me up
Cuddle me in

“Kau dengar itu?” Bisikan Tiffany memenuhi kesunyian ruangan tersebut.

“Yeah.” Jawab Taeyeon. “Kiss Me, Kan?”

“Mmh..” Tiffany tertawa kecil, dan, okay, ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perut Taeyeon saat mendengarnya benar-benar membuatnya merasa tidak adil. Dia merasakan wajahnya memanas, jadi dia memutuskan untuk menutup matanya dan mendengarnya perlahan-lahan.

And hold me
In your arms
And your heart’s against my chest, lips pressed to my neck
I’m falling for your eyes, but they don’t know me yet
And with a feeling I’ll forget, I’m in love now

Dia merasakan kasurnya kembali bergerak lalu perlahan-lahan dia membuka mata melihat Tiffany berdiri di atas kasur, meregangkan kedua tangan ke arahnya. “Menarilah bersamaku.” Dia melihat gadis itu tersenyum.

“Fany…”

“Ayolah.” Suara Tiffany mengecil sekarang. “Kumohon.”

You wanna be loved
You wanna be loved
This feels like falling in love

Yeah, Taeyeon tak pernah berhasil menolak permintaan Tiffany lagi pula.

Falling in love
We’re falling in love

Taeyeon menghela napas. “Baiklah.”

Dengan rasa kantuk yang masih mendominasi dirinya, Taeyeon memaksakan dirinya untuk bangun dan berdiri. Kehangatan dari selimut yang dia kenakan langsung lenyap digantikan oleh rasa dingin dari AC yang langsung menerpa tubuhnya, membuat kakinya kedinginan. Tiffany mengisyaratkannya untuk mendekat, dan mereka pun berpelukan di atas tempat tidurnya.

And I’ll be your safety
You’ll be my lady
I was made to keep your body warm
But I’m cold as the wind blows so hold me in your arms, oh no

Taeyeon melingkarkan lengannya di leher Tiffany, dan gadis itu meletakkan tangannya di pinggang Taeyeon. Mereka saling tersenyum satu-sama lain, tertawa perlahan saat rasa dingin menerpa kedua tubuh mereka. Tiffany mulai bergoyang, lalu Taeyeon mengikutinya.

Lips pressed to my neck
I’m falling for your eyes, but they don’t know me yet
And with this feeling I’ll forget, I’m in love now

“Fany..” Bisik Taeyeon.

“Yeah?”

Taeyeon menatap kedua mata Tiffany—dia melihat galaksi, menenangkan, dan tersesat di dalamnya. Dia tersenyum. “I love you.”

Senyum merekah di wajah gadis itu. “I love you too..”

Taeyeon sedikit mengangkat kepalanya—Tiffany mengerti dan menundukkan sedikit wajahnya, lalu kedua bibir mereka bertemu. Taeyeon meleleh dalam ciuman mereka. Jenis ciuman ini adalah salah satu yang paling dia suka, jenis yang tak akan membuatnya bosan—perlahan, ciuman lembut yang ia bagi dengan Tiffany, tidak terburu-buru dan penuh dengan rasa cinta dan kata I love you yang tak terucap.

This feels like falling in love
Falling in love
We’re falling in love

Tiffany menghentikan ciuman mereka, kedua matanya terpejam dan dia menggumamkan melodi lagu tersebut sambil menggoyangkan pinggang secara perlahan. Taeyeon menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tiffany dan menghela aroma tubuhnya.

Yeah I’ve been feeling everything
From hate to love
From love to lust
From lust to truth
I guess that’s how I know you

Taeyeon menarik tubuhnya sedikit. “Fany?”

“Yeah, babe?”

Dia menatap kedua mata Tiffany selama beberapa waktu sebelum mengalihkan pandangannya. “Aku berjanji aku akan siap, dalam waktu dekat.” Dia tak menjelaskan lebih lanjut, namun dari bagaimana tatapan mata Tiffany melembut, dia tahu dan dia mengerti.

“Oh, baby..”

“Hm?”

“Kau tidak—kau tidak perlu terburu-buru. Aku disini, dan aku tidak akan kemana-mana, Taeyeon. Selamanya.” Lalu dia tersenyum nakal. “Apa kau sudah lupa? Aku milikmu, Taeyeon. Proudly so.”

Napas Taeyeon tercekat di tenggorokannya. Kata-kata itu, proudly so- bermain-main di kepalanya karena terakhir kali kata-kata itu terucap dari mulut Tiffany, dia masih menjadi milik orang lain dan saat itu rasanya dunia Taeyeon seolah runtuh, namun sekarang saat mereka sudah bersama dan setelah semua ini, setelah apa yang mereka lalui, rasa sakit, patah hati—dan dia masih bernapas saat ini, dengan Tiffany di pelukannya. Dia merasa rasa takutnya perlahan sirna.

Taeyeon masih merasa takut menunjukkan bagian tubuhnya yang terkena luka bakar cukup parah akibat insiden yang terjadi hampir setahun lalu, termasuk pada tunangannya, Tiffany. Namun syukurlah gadis itu tetap bersabar dan tidak pernah memaksa Taeyeon untuk melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan. Gadis itu percaya bahwa suatu hari nanti dia akan sembuh, bahwa suatu hari nanti dia akan dapat bercinta dengannya dari matahari terbenam sampai ia terbit lagi. Tiffany tidak pernah berhenti memberinya semangat dan kesabarannya terkadang membuat Taeyeon malu pada dirinya sendiri.

“Fany…”

“Tae?”

“I-I love you. I love you. I love you.”

Tiffany melandaskan kecupan di keningnya. “Aku juga mencintaimu, Taeyeon.”

Kiss me like you wanna be loved
You wanna be loved
You wanna be loved
This feels like a falling in love
Falling in love
We’re falling in love

*

Untuk cintaku, Tiffany…

Nenekku dulu sekali pernah berkata pada ibuku, ‘lihatlah bintang-bintang itu, sangat indah bukan?’ dan dia pun mengangguk, saat itu kota masih bebas dari polusi. ‘Di sanalah tempat orang-orang yang kau cintai berada.’ Ibuku masih belum tahu artinya, namun dia tetap mengangguk. Beberapa tahun kemudian setelah nenek meninggal, ibu mendaki gunung bersamaku untuk memandangi alam semesta. ‘Di sanalah dia berada.’ Katanya padaku. ‘Orang-orang yang kau cintai akan bersinar bersama bintang-bintang.’ Dan aku pun mengangguk, sama seperti ibu.
Tahukah kau, berlian ini mengingatkanku pada perkataan ibuku. Namun lebih dari itu, berlian ini mengingatkanku padamu…
Saat aku melihat matamu, yang kulihat adalah bintang-bintang…
Dan kau bersinar lebih terang dari rembulan…
Kau adalah hal terindah yang pernah kumiliki…
Aku mencintaimu lebih dari bintang-bintang itu, mereka tidak bersinar apabila kau bersedih dan mereka menghilang apabila kau pergi..
Aku ingin menjaga bintang-bintang itu supaya mereka tidak bergi.. Aku ingin memiliki bulan itu selamanya…
Maukah kau menjadi milikku selamanya?
Bisakah aku memanggilmu Nyonya Tiffany Kim?
Bersediakah kau?

“Ya…. aku bersedia…..”

Dan dengan begitulah keduanya saling jatuh cinta satu-sama lain tanpa lelah, tanpa kenal waktu, tanpa kenal usia.

Terkadang, Tiffany takut, dia ragu apakah cintanya pada Taeyeon sudah cukup kuat untuk membuat mereka bertahan selamanya? Terkadang dia ragu apakah dirinya sudah cukup baik untuk Taeyeon?

Namun Taeyeon selalu yakin akan cinta mereka. Taeyeon yakin akan cinta Tiffany padanya. Dia yakin bahwa hanya Tiffany lah yang dapat menangkapnya ketika dia terjatuh, bahwa Tiffany lah yang akan menciumnya dan memeluknya walau tubuhnya penuh luka. Taeyeon yakin, dia tak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan siapapun kecuali Tiffany.

‘Ya, kau lebih dari cukup. Kau menyempurnakan diriku.’—Taeyeon.

‘Terima kasih sudah menyediakan tempat untukku di hatimu.’—Tiffany.

~Fin

Ps. Njir… Gue telat! Maap gue ngebut bikin cerita ini dalam waktu satu setengah jam!

Anyway~ Happy April Fools Day everyone!! Wkwkwkw..

Soal tutup menutup blog, yes.. it’s just part of April Fools! Wkwkwkw~

Projek ini dilakukan bersama ketujuh author lainnya dalam ‘Project April Fools’ yang dipelopori oleh author terkejeh sedunia.. wkwkwkw… Yeah, that.

Anyway see you soon!~

It's April Fool's Day! (4)

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

16 thoughts on “Like You Wanna be Loved [One Shoot]”

  1. Kereen kereenn!!! Ternyata ini lanjutannya toh haha. Udah dibkin galau kmren, skrg dibkin diabetes. Sykurlah happy ending.
    Keren thor keren lah pkokny!!

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s