One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Broken Promises [One Shoot]

the lost

Warn : short and angsty.

Copyright © 2017, @sasyaa95

“Kehilangan terasa sedemikian menyakitkan karena kita pernah terlalu merasa memiliki”

 “Tiffany,” Taeyeon berbisik, setengah terjaga dari tidurnya. Tangannya meraih selimut lalu menyingkirkan benda tersebut dari tubuhnya, suaranya masih serak dengan rasa kantuk. “Matikan alaramnya.”

Setelah beberapa menit berlalu dan dering alaram tersebut tak kunjung berhenti, Taeyeon berbalik dan menghempaskan lengannya pada tubuh seorang gadis yang tertidur pulas di sebelahnya. “Tiffany, kubilang—…”

Dia terhenyak selama beberapa saat, menyadari bahwa tubuh yang biasanya bergelung di sampingnya kini tak ada lagi. Tempat itu kosong, seperti hatinya.

Oh.

Oh.

Kesedihan langsung mengusirnya dari rasa kantuk, dan perutnya terasa melilit. Yeah, benar. Pikirnya. Tentu saja. Dengan setengah hati dia berdiri dan mengambil alaram tersebut dari meja lalu mematikannya.

Taeyeon langsung menyesali kondisinya saat ini, keheningan yang menyelimuti kamarnya, menyedihkan dan terlalu hampa. Tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan, Taeyeon akhirnya merapikan rambut lalu mengembalikan jam tersebut ke tempatnya dan berjalan dengan lemas ke kamar mandi. Lagi pula, dia tidak sedang mengharapkan keadaannya akan berbeda, kan? Mungkin dia setengah berharap Tiffany akan kembali saat tengah malam dan menyelinap ke dalam kamarnya diam-diam, dan segalanya akan kembali seperti dulu. Mungkin, namun dia tidak benar-benar berpikir bahwa hal itu akan terjadi.

Tidak sekarang. Tidak setelah apa yang dia katakan dan lakukan. Tidak setelah dia menyakiti gadis itu lagi dan lagi, sejak mereka kali pertama mereka beretemu semasa remaja. Dia selalu berakhir menyakiti hati gadis itu, kan? Sekarang mereka sudah dewasa, tidakkah seharusnya mereka sudah saling memahami?

Mungkin tidak. Mungkin hal itu takkan pernah berubah.

Namun Taeyeon menemukan dirinya berharap, demi Tiffany, jika saja mungkin. Jika saja dia bisa, mungkin dia dapat menjadi seseorang yang layak untuk Tiffany.

Taeyeon menggelengkan kepala, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya menelusuri setiap furniture yang ada di belakangnya. Dulu itu adalah bentuk janji-janji mereka. Janji yang dibuat bersama atas dasar kesetiaan dan rasa cinta yang menggebu. Sampai kita bisa membeli semua barang-barang yang dibutuhkan untuk mengisi rumah ini. Namun sekarang semua itu berdiri di sana, kosong, dingin dan mengintimidasi. Seperti janji yang patah karena Taeyeon tak pernah berpikir semua ini akan terjadi, sekarang.

Sudah berapa lama mereka seperti ini? Taeyeon tak dapat lagi mengingatnya. Apa yang membuat mereka jadi seperti ini? Bahkan jika ia dapat mengingatnya, dia masih tidak mengerti betapa pentingnya hal tersebut.

Pasti sangat penting bagi Tiffany sampai dia pergi dariku. Taeyeon mengingatkan dirinya, dan perutnya kembali dililit rasa sakit.

“Apakah dia baik-baik saja?” Satu-satunya pertanyaan yang selalu diutarakan teman-temannya. Betapa besar efek yang dihasilkan oleh Tiffany hingga ketiadaan dirinya menganggu semua aktivitasnya. Taeyeon yakin dia tidak lagi dapat merasakan romansa dengan gadis itu seperti dulu. Mungkin akan lebih baik jika kita kembali berteman. Namun dia menyadari hal tersebut mustahil dilakukan. Mereka sudah melangkah terlalu jauh dan Taeyeon sudah tersesat dalam serangkaian kebiasaan yang dia lakukan dengan Tiffany di sisinya. Kehilangan gadis itu mengubah seluruh hidupnya. Mungkin begini lebih baik.

Saat sore kembali, dia mendapati Tiffany menyantap semangkuk ramen di meja makan dan sejenak menyangka semua itu hanya mimpi. Namun gadis itu kembali dan melontarkan seulas senyum padanya. Taeyeon mendadak lupa apa yang membuatnya tidak lagi mencintai gadis itu. Kehilangan sejenak itu membuatnya menginginkan Tiffany lebih dari apapun. Jadi saat dia memeluk gadis itu, Taeyeon merasa lega. Taeyeon tersenyum senang, hidupnya dapat kembali seperti dulu lagi.

Walaupun itu berarti dia harus mengabaikan wangi parfum maskulin yang tertinggal dan masih melekat di kemeja kekasihnya. Walaupun untuk beberapa saat, dia harus memasukkan pemikiran-pemikiran itu dalam ketidaksadarannya. Setidaknya, untuk sejenak dia merasa bahagia. Dia seolah berada di rumah. Entah sejak kapan, namun saat ini Tiffany adalah rumahnya.

“Kita tidak lagi saling jatuh cinta, tapi kita menolak untuk saling meninggalkan.”

Ps. Seharusnya saya belajar untuk UTS besok. Well, seharusnya saya mengerjakan tiga paper yang belum tersentuh. Ngomong2 soal paper, keseringan nulis paper dengan bahasa-bahasa ilmiah bikin saya kangen nulis roman~ dan, yeah beginilah hasilnya. Semoga kata-kata ilmiahnya tidak lenyap begitu saja dalam kepala akibat pemulihan spontan nulis fanfics. lol.

Ah, actual posternya nyusul yah, belum sempet bikin gituan 😀

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

12 thoughts on “Broken Promises [One Shoot]”

  1. Senyum senyum sendiri bacanya cuman hati rasanya nyes, kebawa dalam suasana cerita. Sakitlah, Tiffany disini macem kayak layangan, jika Taeyeon tidak membutuhkan dia mengulur layang itu jauh tapi jika membutuhkan dia menariknya kembali. Hehehehehe

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s