Fantasy, SNSD, SOSHI FF, The Princess and The Witch

The Princess and The Witch [1]

TAEYEON & Tiffany

Copyright © 2017, @sasyaa95

Cerita ini diadaptasi dari novel The School for Good and Evil by Soman Chainmani

DI HUTAN PURBAKALA

BERDIRILAH SEKOLAH KEBAIKAN DAN KEJAHATAN

DUA MENARA BAGAI KEPALA KEMBAR

SATU UNTUK YANG TULUS

SATU UNTUK YANG KEJI

SIA-SIA MENCOBA KABUR

SATU-SATUNYA JALAN KELUAR ADALAH

MELALUI DONGENG

~

1

Si Putri Berambut Emas dan Gadis Korek Api

Tiffany bosan hidup di desanya. Sudah ribuan kali dia berdoa supaya ada yang menculiknya keluar dari desa terkutuk itu dan membawanya menuju dunia yang selama ini dia impikan. Dunia dengan banyak pangeran yang menanti untuk dinikahinya. Dia membayangkan akan jadi seperti Cinderella yang kehilangan sepatunya tepat pada pukul 12 malam, kemudian sang pangeran akan memasangkan sebelah sepatunya yang tertinggal di undakan istana lalu menikahinya. Sungguh akhir cerita yang bahagia, bukan? Tiffany selalu menginginkan pangeran.

Selama empat tahun sekali di desanya yang terpencil dan dikelilingi oleh hutan tak bertepi, ada ritual yang selalu diadakan oleh seluruh warga desa. Selalu setiap malam pada tanggal 30 November, setiap anak laki-laki dan perempuan berusia 12-15 tahun akan diasingkan di dalam sebuah gereja. Anak-anak yang bersifat baik dan cantik, akan dicoreng-coreng wajahnya dengan arang dan lumpur supaya bertampang jelek sedangkan yang bersifat jahat akan didandani sebaik mungkin dan diminta untuk berbuat baik selama seharian.

Namun Tiffany tidak peduli dengan semua itu. Karena malam ini, sepasang anak; jahat dan baik akan diculik oleh Sang Guru dan dimasukkan dalam negeri dongeng. Sementara semua orang bersusah payah untuk melindungi anak-anak mereka dari drama penculikan yang sudah berlangsung selama dua ratus tahun itu, Tiffany justru ingin menjadi salah satu pesertanya. Dan dia yakin sekali akan dipilih oleh Sang Guru malam ini.

Dia bermimpi berada di sebuah pesta dansa dan dikelilingi oleh banyak pangeran yang menunggunya. Tiffany tampak kebingungan memilih salah satu dari sekerumunan pria bertampang maskulin tersebut sampai akhirnya dia bertemu tatap dengan seorang pria tinggi putih dengan otot-otot menonjol dari balik kemeja putih ketatnya, kulit mulus kecokelatan dan wajah sangat rupawan. Matanya mengingatkan Tiffany akan birunya samudera. Sepasang mata tersebut menatapnya dengan hangat seakan-akan menawarkan padanya Kebahagiaan Abadi… sampai sebuah palu menghantam dinding istana dan menghancurkan para pangeran itu menjadi berkeping-keping.

Mata Tiffany menjumpai pagi. Palunya memang sungguhan. Pangerannya tidak.

“Daddy, kalau aku tidak tidur sembilan jam, maka aku akan kelihatan bengkak.”

“Semua orang mengoceh bahwa kau yang akan diculik tahun ini.” Ujar ayahnya sambil memaku papan berbentuk tak keruan ke jendela kamarnya, yang kini terhalang gembok-gembok, paku-paku dan sekrup. “Mereka menyuruhku mencukur rambutmu dan memoles wajahmu dengan lumpur. Memangnya aku percaya dengan omong kosong dongeng itu? Tapi tidak ada yang bisa masuk ke sini malam ini. Itu pasti.”

“Kalau Sang Guru itu memang ada, dan dia ingin menculik seseorang yang baik, dia pasti akan membawa anak keluarga Kang itu.”

Tiffany menegang. “Ji Eun?”

“Dia anak yang sempurna,” kata ayahnya. “Selalu membawakan ayahnya masakan rumah untuk makan siang di pabrik, lalu memberikan sisanya untuk nenek-nenek gelandangan di alun-alun.”

Tiffany merasakan nada tajam ayahnya. Dia tidak pernah sekali pun memasak menu makanan lengkap untuk ayahnya, bahkan setelah ibunya meninggal. Tentu saja dia memiliki alasan yang bagus (minyak dan asap bisa saja menyumbat pori-pori kulitnya). Dia selalu menawarkan ayahnya makanan-makanan kesukaannya sendiri : pure bit, sup brokoli, asparagus rebus dan bayam kukus.

Ayahnya tidak menggembung layaknya badut seperti ayahnya Ji Eun. Lagi pula, gara-gara Ji Eun pula gelandangan di alun-alun itu jadi gemuk, jika seperti itu maka gadis itu sama sekali tidak baik melainkan jenis iblis yang paling buruk.

Namun Tiffany membalas dengan tersenyum. “Seperti kata Dad, semua itu omong kosong.” Tiffany turun dari tempat tidurnya dengan anggun lalu membanting pintu kamar mandi.

Dia mengamati wajahnya di cermin. Bangun mndadak telah menampakkan akibatnya. Rambut sepanjang pinggangnya yang bak untaian benang emas, tidak sekemilau biasanya, Warna hazel matanya juga tidak cemerlang. Bibir merahnya yang mengilap kini mongering. Tapi tetap saja seorang putri, pikirnya.

Ayahnya mungkin tidak menyadari hal itu, namun ibunya bisa. “Kau terlalu cantik untuk dunia ini, Tiffany.” Ucapnya sambil mengembuskan napas terakhir.

Malam ini dia akan dibawa ke hutan. Malam ini dia akan memulai hidup baru. Malam ini dia akan menjalani kehidupan dongengnya.

~

Tiffany menjalani ritual rutinnya, serangkaian perawatan yang membuat penampilannya selalu sempurna. Sambil menunggu maskernya mengering, Tiffany membolak-balik buku dongeng dan menyesap jus timun. Dia langsung membuka bagian kesukaannya, saat si penyihir tua jahat digulingkan menuruni bukit di dalam gentong kayu berpaku, sampai yang tersisa hanyalah gelangnya yang terbuat dari tulang anak laki-laki.

Tiffany masih memiliki satu hari lagi sebelum Sang Guru tiba dan dia masih bisa memoles kulitnya hingga sehalus porselen, mengingatkan Sang Guru mengapa dirinya layak diculik, bukan Ji Eun, Mi Eun atau Eun Ji atau para gadis penyamar lainnya.

Sahabat Tiffany tinggal di bukit dekat pekuburan. Tiffany sangat membenci hal-hal suram seperti abu-abu, hitam dan lain sebagainya. Semua orang pasti mengira dia akan mencari sahabat baru yang seperti dirinya. Namun, dia justru mendaki ke rumah di puncak Bukit Kuburan setiap hari selama seminggu ini sambil tersenyum, karena bagaimanapun memang itulah inti dari kebajikan.

Tiffany menghabiskan setiap harinya untuk berjalan sejauh satu kilometer dari pondok-pondok warga berwarna terang dan menara-menara kecil menuju sisi kelam hutan. Dia melewati para ayah yang tengah membuat penghalang pintu, para ibu yang menghias orang-orangan sawah dan anak-anak yang bersembunyi di balik buku dongengnya.

Sementara pikirannya sibuk mengamati kebun timun dan bertanya-tanya apakah di hutan tempatnya diculik ada cukup banyak timun untuk melakukan perawatan rutinnya, dia tidak menyadari ada seorang anak laki-laki bergigi tonggos dan berambut pucat tersenyum padanya. “Kau mau ke mana?”

Tiffany menoleh dan melihat Mark. Anak laki-laki jelek yang selalu membuntutinya setiap pagi menuju Bukit Kuburan. “Menemui teman.”

“Kenapa kau berteman dengan penyihir itu?” Tanya Mark.

“Dia bukan penyihir.”

“Dia aneh dan tidak punya teman. Itu artinya dia penyihir.”

Tiffany menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa jika demikian, Mark pun seorang penyihir. Namun Tiffany akhirnya tersenyum untuk mengingatkan bahwa dirinya sudah berbuat kebaikan dengan tidak melakukan hal tersebut,

“Sang Guru akan membawanya ke Sekolah Kejahatan lalu kau membutuhkan teman baru.”

“Kau mungkin lupa dia akan membawa dua anak.”

“Yang satu lagi Ji Eun. Tidak ada yang sebaik Ji Eun.”

Senyum Tiffany pudar.

“Aku bisa jadi teman barumu nanti.”

“Aku sudah kebanyakan teman.” Bentak Tiffany.

Wajah Mark berubah semerah tomat. “Kupikir… tadinya…”

Tiffany menyadari bahwa dia harus mengatakan hal-hal baik seperti terima kasih dan sebagainya, itu adalah perbuatan yang paling bijaksana. Namun, dia tak sanggup melakukannya. Dia cantik dan Mark jelek. Hanya orang jahat yang tega menipunya. Sang Guru pasti bisa memahaminya.

Sampailah Tiffany di pekuburan. Sembari membuka pagar yang berkarat, Tiffany merasakan rumput-rumput liar menggores kakinya. Di tengah-tengah pekuburan yang paling padat, berdirilah sebuah rumah yang tidak diberi penghalang pintu ataupun dikunci mati seperti pondok-pondok di tepi danau. Rumahnya bernuansa suram, lumut hijau berkilau di tangga menuju serambi. Atapnya runcing, hitam dan ramping menjulanng bagai topi penyihir.

Sambil mendaki tangga yang berderit, Tiffany berusaha mengabaikan bau tak sedap campuran bawang putih dan kucing basah, serta mengalihkan pandangannya dari serakan bangkai-bangkai burung tanpa kepala. Pasti kerjaan si kucing basah.

Diketuknya pintu dan mempersiapkan diri untuk bertengkar.

“Pergi saja!” terdengar suara serak itu.

“Bukan begitu cara berbicara pada sahabatmu,” rayu Tiffany.

“Kau bukan sahabatku.”

“Kalau begitu siapa?” tanyanya, terlintas dalam pikirannya mungkin Ji Eun sudah pernah datang kemari entah dengan cara apa.

“Bukan urusanmu.”

Tiffany menarik napas kuat-kuat. Dia tidak ingin ada insiden Mark lagi. “Kemarin kita bersenang-senang, Taeyeon. Kupikir kita bisa melakukannya lagi.”

“Kau mewarnai rambutku jadi jingga!”

“Tapi sudah kita perbaiki, kan?”

“Kau selalu menguji coba krim dan ramuanmu padaku untuk melihat hasilnya.”

“Bukankah memang itu gunanya teman?” Tanya Tiffany. “Untuk saling menolong?”

“Aku tidak akan pernah bisa jadi secantik kau.”

Tiffany mencari kalimat yang manis untuk diucapkan. Dia berpikir terlalu lama hingga terdengar suara langkah sepatu menjauh.

“Bukan berarti kita tidak bisa berteman!” Teriak Tiffany.

Seekor kucing botak dan keriput milik sahabatnya menggeram dari seberang serambi. Tiffany melesat ke pintu. “Aku bawa kue!”

Langkah sepatu itu berhenti. “Kue betulan atau kue buatanmu?”

“Renyah dan banyak mentega seperti yang kau suka!”

Si kucing mendesis.

“Taeyeon, biarkan aku masuk…”

“Katamu aku bau.”

“Kau tidak bau.”

“Lalu kenapa waktu itu kau bilang begitu?”

“Karena waktu itu kau bau! Taeyeon, si kucing muntah…”

“Mungkin dia mencium niat terselubung.”

Si Kucing mulai mengeluarkan cakarnya.

“Tae, buka pintunya!”

Sebelum sang kucing menghantam wajahnya dengan cakaran mautnya, sebuah tangan menghalangi mereka dan menghantam si kucing.

Tiffany yang ketakutan lalu mendongak. “Jack kehabisan burung.”

Rambut Taeyeon yang hitam berbentuk kubah konyol tampak seperti dilumuri banyak minyak. Gaun hitamnya menggembung, tanpa lekuk seperti karung kentang, tak bisa menyembunyikan kulit pucat menyeramkan dan tonjolan tulangnya. Matanya menyembul di wajah cekungnya.

“Kupikir kita bisa jalan-jalan.” Kata Tiffany.

Taeyeon bersandar di dinding. “Aku masih berusaha mencari tahu mengapa kau mau berteman denganku.”

“Karena kau manis dan lucu.” Jawab Tiffany.

“Kata ibuku, aku ini sengit dan penggerutu,” kata Taeyeon. “Jadi salah satu dari kalian pasti berbohong.”

Tiffany mengeluarkan kue tepung sekam tanpa mentega. Taeyeon memandang Tiffany penuh hina lalu kembali masuk ke rumah.

“Tidak bisakah kita mengobrol?” Tanya Tiffany.

Taeyeon melihat wajah memelas Tiffany saat hendak menutup pintu. Sepertinya gadis itu juga sangat menantikan jalan-jalan ini sama seperti dirinya sendiri.

“Sebentar saja.”Taeyeon melewatinya dengan langkah berat. “Tapi kalau kau mengatakan apa pun yang sok atau sombong atau dangkal, aku akan menyuruh Jack untuk membuntutimu sampai ke rumah.”

Tiffany berlari mengejarnya. “Tapi kalau begitu, aku jadi tidak bisa mengobrol!”

~

Rasa takut warga desa menjalar seperti kabut yang mewabah. Para orang tua sibuk mencari cara untuk menyelamatkan anak-anak mereka yang berpotensi untuk diculik. Serangkaian ritual dipersembahkan oleh sesepuh desa. Sementara warganya bernyanyi himne desa dan anak-anak mereka dirantai menjadi satu untuk disembunyikan di atap gereja.

Taeyeon melongo, menyaksikan semua itu dengan pandangan tak percaya. “Bagaimana bisa seluruh isi kota percaya pada dongeng?”

“Karena itu memang nyata.”

Taeyeon berhenti melangkah. “Kau tak mungkin percaya bahwa lagenda itu memang benar.”

“Tentu saja aku percaya,” kata Tiffany.

“Bahwa seorang guru menculik dua anak, membawa mereka ke sekolah, seorang mempelajari Kebaikan dan seorang lagi mempelajari Kejahatan, lalu mereka lulus sebagai dongeng?

“Sepertinya begitu.”

“Tolong beri tahu aku kalau ada oven.”

“Untuk apa?”

“Aku mau memasukkan kepalaku ke sana. Dan tolong beri tahu aku memangnya apa yang mereka ajarkan di sekolah itu?”

“Yah, di Sekolah Kebaikan, mereka mengajari anak laki-laki dan perempuan seperti aku, cara menjadi pahlawan dan putri, bagaimana cara memimpin kerajaan secara adil, bagaimana cara menemukan Kebahagiaan Abadi,” jelas Tiffany. “Sementara itu, di Sekolah Kejahatan, mereka mengajarimu cara menjadi penyihir kejam atau troll butung, juga cara menerapkan kutukan dan merapalkan mantra jahat.”

“Mantra jahat?” Taeyeon terkikik. “Siapa yang mengarangnya? Anak umur 4 tahun?”

“Taeyeon, buktinya ada di buku-buku dongeng! Kau bisa melihat anak-anak yang hilang itu pada gambar-gambarnya! Jack, Rose, Rapunzel… mereka semua masuk ke dongeng mereka sendiri…”

“Aku tidak melihat apa-apa karena aku tidak pernah membaca buku-buku dongeng tolol.”

“Lalu mengapa ada setumpuk buku dongeng di samping tempat tidurmu?” Tanya Tiffany.

Taeyeon merengut. “Begini ya, siapa yang bilang buku-buku itu memang nyata? Mungkin ini tipuan penjual buku. Mungkin ini hanya siasat para orang tua supaya anak-anak tidak pergi ke hutan, apa pun penjelasannya, bukan karena Sang Guru atau mantra jahat.

“Lalu siapa yang menculik anak-anak itu?”

“Tidak ada. Empat tahun sekali, dua anak tolol menyelinap ke hutan, berharap bisa menakut-nakuti orang tuanya, tapi malah tersesat atau dimakan serigala. Begitulah, dan lagenda itu pun berlanjut.”

“Itu penjelasan paling bodoh yang pernah kudengar.”

“Menurutku, bukan aku yang sedang bersikap bodoh,” tukas Taeyeon.

Dikatai bodoh, entah bagaimana bisa membuat darah Tiffany mendidih.

“Kau hanya takut,” katanya.

“Yang benar saja.” Taeyeon tertawa. “Memangnya kenapa aku harus takut?”

“Karena kau sendiri tahu kau akan pergi bersamaku.”

Taeyeon berhenti tertawa, kemudian pandangannya beralih ke alun-alun di belakang Tiffany. Semua penduduk desa menatap mereka seakan mereka adalah jalan keluar misteri ini. Si Baik berpakaian pink. Si Jahat berpakaian hitam. Pasangan yang sempurna untuk Sang Guru.

Dari ujung matanya, Tiffany melihat Ji Eun, berpakaian compang-camping dan gundul. Dengan kalut melumuri wajahnya sendiri dengan lumpur. Tiffany mendengus, gadis itu sama saja seperti yang lain. Ingin pernikahan yang menjemukan dengan pria gendut, menghabiskan hidupnya dengan memasak, menjahit, bersih-bersih, menyekop kotoran babi dan memerah susu sapi. Gadis itu ingin membusuk di desa mereka sampai bercak-bercak cokelat muncul di kulitnya dan giginya ompong.

Tiffany melihatnya sebagai kesempatan besar untuk menang. Malam ini, Sang Guru akan menculiknya karena dia adalah seorang putri. Bukan Ji Eun atau gadis-gadis lainnya. Wajahnya pun berseri-seri membalas tatapan penduduk desa yang menyedihkan.

“Ayo.” Ajak Taeyeon.

“Ke mana?”

“Menjauh dari orang-orang.”

~

Saat matahari meredup jadi bulatan merah, dua orang gadis, cantik dan jelek, duduk berdampingan di sisi danau. Tiffany mengemas timun ke dalam kantung sutra, sementara Taeyeon menjentikkan korek yang tersulut ke dalam air.

Pada korek yang kesepuluh, Tiffany memelototinya.

“Ini membuatku tenang,” ujar Taeyeon.

Sambil menata timunnya, Tiffany bergumam. “Mengapa orang seperti Ji Eun mau tinggal di sini? Siapa yang lebih memilih ini ketimbang dongeng?”

“Dan siapa yang memilih meninggalkan keluarga untuk selamanya?” dengus Taeyeon.

Mereka terdiam.

“Apa kau pernah memikirkan ke mana ayahmu pergi?” Tanya Tiffany.

“Sudah kubilang. Dia pergi setelah aku lahir.”

“Tapi dia mau pergi ke mana? Kita dikelilingi hutan! Menghilang tiba-tiba seperti itu..” Tiffany melantur. “Mungkin dia menemukan cara masuk ke cerita! Mungkin dia menemukan portal rahasia! Mungkin dia sedang menunggumu di sisi lain!”

“Atau mungkin dia kembali pada istrinya, berpura-pura aku tak pernah ada, dan mati sepuluh tahun lalu dalam kecelakaan pabrik penggilingan.”

Tiffany menggigit bibirnya lalu kembali mengurus timunnya.

“Ibumu tidak pernah ada di rumah kalau aku berkunjung.”

“Dia sekarang bekerja di kota,” ujar Taeyeon. “Pasien di sini kurang banyak. Mungkin karena lokasinya.”

“Pasti itu penyebabnya,” Sahut Tiffany. “Kurasa kuburan membuat orang merasa sedikit tidak nyaman.”

“Ada untungnya tinggal di kuburan.” Sahut Taeyeon. “Tidak ada tetangga-tetangga usil, penjual barang yang datang tiba-tiba. Tidak akan ‘teman’ mencurigakan yang membawa-bawa masker wajah dan kue-kue diet dan bilang kau akan masuk ke Sekolah Kejahatan di Negeri Dongeng.” Dia menjetikkan korek dengan puas.

Tiffany meletakkan timunnya, “jadi, aku mencurigakan ya?”

“Siapa yang memintamu datang? Aku baik-baik saja sendirian.”

“Kau selalu membiarkan aku masuk.”

“Karena kau selalu kelihatan kesepian,” kata Taeyeon. “Dan aku kasihan padamu.”

“Kasihan padaku?” Mata Tiffany berkilat. “Kau beruntung ada yang mau menemuimu sewaktu tak ada lagi yang mau. Kau beruntung orang sepertiku mau menjadi temanmu. Kau beruntung karena orang sepertiku mau menjadi temanmu. Kau beruntung karena orang seperti aku adalah orang baik.”

“Sudah kuduga!” Taeyeon tersulut. “Aku hanya bahan kebijakanmu! Sekadar pion dalam fantasi tololmu!”

Tiffany terdiam cukup lama.

“Mungkin awalnya aku memang menjadi temanmu untuk mengesankan Sang Guru,” Tiffany akhirnya mengakui. “Tapi sekarang lebih dari itu.”

“Karena sudah ketahuan,” gerutu Taeyeon.

“Karena aku menyukaimu.”

Taeyeon menoleh padanya.

“Di sini tak ada yang bisa memahamiku,” kata Tiffany sambil memandangi tangannya. “Tapi kau bisa. Kau melihat siapa aku sebenarnya. Itulah sebabnya aku selalu datang kembali. Kau bukan lagi kebajikanku, Taeyeon.” Tiffany menatap Taeyon. “Kau sahabatku.”

Leher Taeyeon merona merah.

“Ada apa?” Tiffany mengerutkan dahinya.

Taeyeon menyusupkan diri ke dalam gaunnya. “Hanya… emm… A-aku, eh… tidak biasa dengan persahabatan.”

Tiffany tersenyum dan meraih tangannya. “Nah, sekarang kita akan bersahabat di sekolah baru kita.”

Taeyeon mengerang dan menjauh. “Misalkan saja kecerdasanku merosot jadi setingkat dengan kecerdasanmu dan berpura-pura bahwa semua ini nyata, kenapa aku yang harus masuk ke Sekolah Kejahatan? Mengapa semua orang memilih aku menjadi Ratu Kejahatan?”

“Tidak ada yang mengatakan kau jahat, Taeyeon,” desah Tiffany. “Kau hanya berbeda.”

Taeyeon menyipitkan mata. “Berbeda bagaimana?

“Yah, pertama-tama, kau hanya memakai baju hitam.”

“Karena tidak akan kotor.”

“Kau tidak pernah meninggalkan rumahmu.”

“Tak ada orang yang memandangiku di rumah.”

“Dalam Lomba Mengarang Dongeng, ceritamu berakhir dengan Putri Salju mati dimakan burung bangkai dan Cinderella tenggelam di bak mandinya sendiri.”

“Menurutku itu akhir yang lebih bagus.”

“Kau menghadiahkan katak mati di hari ulang tahunku!”

“Untuk mengingatkan padamu bahwa kita semua akan mati membusuk dimakan belatung dalam tanah, maka kita harus menikmati ulang tahun kita selagi masih bisa. Menurutku itu butuh perhatian.”

“Taeyeon, kau berdandan sebagai pengantin untuk Halloween.”

“Pesta pernikahan memang menyeramkan.”

Tiffany ternganga.

“Baiklah. Aku memang sedikit berbeda,” Taeyeon melotot. “Lalu kenapa?”

Tiffany ragu sejenak. “Yah, hanya saja di dalam dongeng, biasanya yang berbeda menjadi, em… jahat?

“Maksudmu aku akan menjadi Penyihir Agung?” tukas Taeyeon merasa sakit hati.

“Maksudku, apapun yang terjadi, kau akan mempunyai pilihan.”Ucap Tiffany dengan lembut. “Kita beruda sama-sama akan memilih bagaimana dongeng kita berakhhir.”

Tayeon terdiam selama beberapa saat, lalu menyentuh tangan Tiffany. “Mengapa kau begitu ingin meninggalkan tempat ini?”

Mata Tiffany bertemu dengan mata besar Taeyeon yang tulus. Untuk pertama kalinya, dia membiarkan gelombang keraguan mengalir.

“Karena aku tidak bisa tinggal di sini,” jawab Tiffany, suaranya tertahan. “Aku tidak bisa menjalani kehidupan biasa.”

“Aneh,” kata Taeyeon. “Itulah sebabnya aku menyukaimu.”

Tiffany tersenyum. “Karena kau juga tidak biasa?”

“Karena kau membuatku merasa menjadi orang biasa.” Jawab Taeyeon. “Dan hanya itulah yang kuinginkan.”

Dentang berat suara jam mengalun suram di lembah, enam atau tujuh kali, mereka sudah lupa waktu. Taeyeon dan Tiffany sama-sama membuat permohonan. Suatu hari nanti, mereka akan tetap saling menemani.

Di mana pun itu.

***

Iklan

13 thoughts on “The Princess and The Witch [1]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s