Fantasy, SNSD, SOSHI FF, The Princess and The Witch

The Princess and The Witch [2]

TAEYEON & Tiffany

Copyright © 2017, @sasyaa95

Cerita ini diadaptasi dari novel The School for Good and Evil by Soman Chainmani

2

Kedatangan Sang Guru

Anak-anak sudah terkurung di gereja saat sinar matahari padam. Para ayah, ibu, kakak perempuan, dan nenek mereka berbaris memegangi obor di sekeliling hutan gelap, membuat lingkaran api untuk menghalangi Sang Guru.

Namun, ditengah semua huru-hara tersebut, Tiffany sudah bersiap membuka sekrup jendelanya. Dia ingin penculikan ini berjalan senyaman mungkin. Sejak dua ratus tahun lalu sepasang anak laki-laki atau perempuan atau keduanya menghilang setiap empat tahunnya. Awalnya para warga tidak mengerti, namun semakin lama polanya semakin terlihat. Selalu satu anak yang paling baik dan rupawan, dan satu anak yang paling jahat atau nakal. Dulu mereka mengira yang menculik anak-anak tersebut adalah beruang hitam, siluman beruang atau penyamaran beruang dari hutan sampai akhirnya, jelas bukan beruang sama sekali.

Hingga akhirnya wajah-wajah anak yang menghilang tadi muncul di setumpuk buku dongeng di toko buku Pak Gendut yang terletak di sudut desa, diampit antara pabrik roti dan tempat penggilingan daging. Pemilik toko tersebut, Pak Gendut mengaku bahwa setumpuk dongeng itu muncul begitu saja setiap pagi saat anak-anak baru di culik. Dia bersumpah tidak pernah melihat siapaun mengirim buku-buku tersebut. Setiap orang akan mengantre untuk mendapatkan buku tersebut. Kebanyakan anak-anak, namun banyak orang-orang tua yang membeli karena penasaran apakah anak-anak yang hilang tadi muncul di buku dongeng tersebut.

Pada awal menghilangnya anak-anak, para penduduk desa berusaha menembus hutan untuk mencari mereka, yang kemudian didepak oleh badai, banjir, topan dan pohon-pohon berjatuhan. Ketika akhirnya mereka memberanikan diri untuk menembusnya, mereka menemukan sebuah kota yang tersembunyi di balik pepohonan lalu mengepungnya dengan penuh rasa dendam. Namun ternyata, itu adalah kota mereka sendiri.

Semua buku yang muncul di toko buku Pak Gendut selalu memiliki lambang sepasang angsa; satu putih dan satunya lagi hitam dilengkapi dengan tiga huruf : S.K.K

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan

Dari balik jendela kamarnya, Tiffany dapat melihat ayahnya—Stefan, berdiri di tepi hutan berdampingan dengan janda yang ingin dinikahinya. Tentu saja Tiffany tidak memberinya restu, selama dia masih di desa ini.

Biarkan saja dia menikahi janda tolol itu setelah aku pergi dari sini, pikirnya sambil menatap tajam ayahnya dari balik jendela. Dari dulu ayahnya selalu menginginkan anak laki-laki, namun pria itu tidak tahu bahwa dia melewatkan satu fakta berharga: bahwa dirinya telah melahirkan seorang putri raja.

~

Segera setelah kepala Tiffany menghilang dari balik jendelanya, Taeyeon menjejalkan kue-kue jahe berbentuk hati ke mulutnya. Hanya tikus yang akan terpancing oleh kue-kue ini, pikirnya. Remah kue berjatuhan ke sepatu hitam tebalnya. Dia menguap dan beranjak pergi ketika jam kota hampir menunjukkan tengah malam.

Setelah berpisah dengan Tiffany usai berjalan-jalan, Taeyeon baru akan pulang ketika terbayang olehnya Tiffany berlari ke hutan mencari Sekolah Bodoh dan Sinting itu dan berakhir dengan diseruduk babi hutan. Dia kembali ke halaman rumah Tiffany dan bersembunyi di balik pohon, mendengarkan Tiffany membongkar jendelanya (sambil mendengarkan lagu bodoh tentang pangeran-pangeran), mengemas tasnya (kini sambil bernyanyi tentang lonceng pernikahan), memakai riasan wajah dan gaun terbaiknya (“Semua Suka Putri Bergaun Pink”?!), dan akhirnya (akhirnya!), berbaring di tempat tidur.

Dia baru pulang saat mengetahu bahwa Tiffany sudah aman dan besok akan terbangun sambil merasa bodoh. Taeyeon tidak akan mengungkitnya. Tiffany lebih membutuhkannya sekarang dan dia akan ada untuknya. Di dunia yang terpencil dan aman ini, keduanya akan membangun surga mereka sendiri.

Sembari berjalan ke rumahnya, Taeyeon mengamati bahwa bukit pekuburan tidak dipagari warga dengan obor-obor. Ternyata para penjaga yang bertanggung jawab atas pekuburan memutuskan bahwa yang tinggal di dalamnya tidak layak dilindungi. Mungkin dirinya merasa aman diantara daging-daging yang membusuk dimakan belatung.

Sejauh yang dia ingat, semua orang di desa yang ia kenal menjauhinya. Berbisik-bisik keras menyebutnya ‘penyihir’, ‘penjahat’, atau ‘Sekolah Kejahatan’ sampai akhirnya dia mencari-cari alasan untuk tidak keluar rumah. Berhari-hari, berminggu-minggu sampai akhirnya dia tinggal di pekuburan layanya hantu.

Taeyeon mencari-cari kesibukan seperti membuat puisi untuk menghibur diri, seperti (“Hidup yang Sengsara” dan “Surga Adalah Kuburan” merupakan karya terbaiknya) juga menulis dongengnya sendiri, “Kebahagiaan Abadi yang Suram”, tentang anak-anak cantik yang meninggal dengan tragis.

Ketika sampai di rumah, Taeyeon mendengar nyanyian dari dalam—

“Di hutan purbakala, berdirilah Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.”

Taeyeon memutar bola matanya lalu membuka pintu. Ibunya membelakanginya, bernyanyi riang sambil mengisi koper dengan jubbah-jubah hitam, sapu dan topi penyihir yang lancip.

“Dua menara bagai kepala kembar, Satu untuk yang tulus, Satu untuk yang keji, Sia-sia mencoba kabur, Satu-satunya jalan keluar adalah Melalui dongeng…”

“Mau pergi liburan eksotis?” sindir Taeyeon. “Seingatku tak ada jalan keluar dari sini kecuali Ibu bisa menumbuhkan sayap.”

Ibunya menoleh. “Menurutmu tiga jubbah cukup?”

Taeyeon mengernyit melihat betapa mirip ketiganya. “Semua sama persis.” Gumam Taeyeon. “Kenapa perlu tiga?”

“Untuk berjaga-jaga kalau kau perlu meminjamkannya pada seorang teman, Sayang.”

“Semua ini untukku?”

Namun ibunya terus-terusan mengoceh tentang topi lancip, sapu, ramuan lidah anjing, kaki kadal, kaki katak dan benda-benda klenik lainnya.

“Ibu, untuk apa semua ini?” Taeyeon menatap ibunya, terperangah.

“Tentu saja untuk acara Penyambutan Penyihir Baru!” Ibunya bersemangat. “Kau pasti tidak mau datang ke Sekolah Kejahatan dan terlihat seperti amatiran.”

“Mari kita lupakan dulu kenyataan bahwa dokter kota ini percaya pada dongeng konyol itu. Mengapa sulit sekali menerima kenyataan bahwa aku bahagia di sini? Aku punya segalanya yang kubutuhkan. Tempat tidurku, kucingku dan temanku.”

Ibunya tersenyum cerah dan melanjutkan berkemas. “Yah, kau seharusnya belajar dari temanmu, Sayang. Setidaknya dia menginginkan sesuatu dalam hidup ini. Tempat ini membuatmu lemah dan malas, juga ketakutan. Kau hanya menyia-nyiakan waktu sampai membusuk hingga Tiffany datang untuk membawamu jalan-jalan seperti anjing.”

~

Tiffany tidak bisa tidur. Tidak ada tanda-tanda penyusup akan menculiknya. Dia berlutut di tempat tidur dan mengintip melalui jendela. Di sekitar pinggiran desa, ribuan orang penjaga mengayunkan obor untuk menerangi hutan. Tiffany merengut. Bagaimana Sang Guru bisa melewatinya?

Saat itulah dia menyadari kue berbentuk hati di ambang jendelanya menghilang. Dia sudah ada di sini!

Taeyeon melonjak dari tempat tidur, terjaga karena mimpi buruk sementara ibu dan kucingnya tertidur lelap. Dia melirik koper dan sekantung kue madu yang sudah disiapkan ibunya sambil mendengus. Sambil menyambar kue tersebut, Taeyeon memandang keluar jendela kamarnya yang retak. Di bawah bukit, semua orang membentuk formasi penjagaan dengan nyala obor yang terang sementara di pekuburan tempat tinggalnya hanya ada satu penjaga bertubuh gempal yang mengangkat-ngangkat batu nisan layaknya barbell untuk membuatnya tetap terjaga.

Dia menatap hutan gelap namun tersedak kue madu terakhirnya saat sepasang mata biru berkilat balas menatapnya.

Taeyeon menyelinap keluar rumah dan terkaget-kaget saat menemukan penjaga kuburan pingsan di atas batu nisan yang patah, obornya padam. Ada yang berjalan pelan menjauhinya, sesosok bayangan kurus membungkuk. Tanpa tubuh.

Bayangan itu melayang di atas lautan makam tanpa sedikit pun terlihat terburu-buru, lalu menyelinap di bawah pagar kuburan dan menunruni bukit dengan mengendap menuju pusat nyala api di tengah desa.

Taeyeon merasakan kengerian mencekik jantungnya. Dia memang nyata. Siapapun itu.

Dan dia tidak mengincarku.

Rasa lega menghantamnya, diikuti rasa panik yang baru.

Tiffany!

~

Tiffany meringkuk di balik pohon bersama koper-kopernya, menunggu Sang Guru menculiknya. Dia menunggu. Dan menunggu. Lalu dia melihat sesuatu di tanah.

Remah-remah kue, hancur di atas jejak kaki. Jejak sepatu tebal yang menjijikkan, yang begitu buruk sehingga bisa dipastikan pemiliknya. Tangan Tiffany mengepal, lalu darahnya mendidih. Taeyeon.

Tangan menutup mulutnya dan sebuah kaki bersepatu tebal menendangnya ke jendela. Kepala Tiffany menghantam tempat tidurnya kemudian dia berbalik dan melihat Taeyeon. “Dasar kau cacing menyedihkan, tukang ikut campur!” jerit Tiffany, sebelum melihat sekilas ketakutan di wajah sahabatnya. “Kau melihatnya!” Tiffany terkesiap.

Taeyeon menutup mulut Tiffany dan menguncinya di atas tempat tidur sembari gadis itu berusaha melawannya. Dia takut-takut mengintip keluar jendela. Bayangan itu bergerak melewati alun-alun, melewati para penjaga yang tidak awas dan langsung menuju rumah Tiffany.

“Apakah dia tampan? Seperti pangeran? Atau seperti guru biasa yang berkacamata dan jas dan—?”

BUK

Taeyeon dan Tiffany menoleh ke pintu pelan-pelan.

BUK! BUK!

Tiffany mengerutkan hidung. “Dia bisa mengetuk pintu kan?”

Gembok dibuka. Engsel berderit.

Taeyeon menciut ke dinding, sementara Tiffany melipat tagannya dan mengembangkan gaunnya seolah menantikan kunjungan kerajaan. “Sebaiknya memberinya apa yang dia inginkan tanpa repot-repot.”

Ketika pintu membuka, Taeyeon menghantamkan tubuhnya ke pintu untuk menahannya.

“Oh, ya ampun, duduk sajalah.” Kata Tiffany.

Taeyeon masih berusaha menahan pintu saat genggamannya terlepas dan tubuhnya terlempar ke tengah ruangan.

Ternyata ayah Tiffany, pucat seputih kain seprai. “Aku melihat sesuatu!” ayahnya terengah, mengayun-ayunkan obornya. Lalu, mata Taeyeon menangkap sosok bunguk di dinding sedang menginjak bayangan besar ayah Tiffany. “ITU!” jeritnya. Stefan berputar, tetapi bayangan itu meniup obornya. Taeyeon menyambar korek api dari saku dan menyalakannya. Stefan terletak tak sadarkan diri di lantai. Tiffany hilang.

Terdengar jeritan dari luar.

Melalui jendela, Taeyeon menyaksikan orang-orang desa berteriak-teriak sambil mengejar Tiffany selagi bayangan itu menyeretnya ke hutan. Selagi semua warga berteriak panik—Tiffany tersenyum lebar-lebar.

Namun Taeyeon langsung menerjang keluar jendera dan berlari mengejar sahabatnya. Dia menghindari kobaran api yang meledak dari obor-obor warga yang hendak mencapai Tiffany.

Tiffany merasakan tubuhnya meninggalkan rerumputan halus dan menyapu tanah berbatu. Dahinya mengkerut membayangkan hadir ke sekolah dengan pakaian kotor. “Aku sungguh mengira akan ada pesuruh yang datang menjemput.” Ujarnya pada si bayangan. “Atau paling tidak kereta labu.”

Melihat kerusuhan yang terjadi di desa, Tiffany merasa lega mengetahui tidak ada yang bisa menyelamatkannya sekarang. Tapi mana anak yang satu lagi? Mana anak yang jahat? Selama ini anggapannya tentang Taeyeon salah.

Sambil melihat kobaran api yang membumbung di belakangnya, Tiffany melemparkan ciuman jauh pada kutukan akan kehidupan biasa. “Selamat tinggal semuanya! Selamat tinggal ambisi rendah! Selamat tinggal rata-rata—“

Lalu dia melihat Taeyeon berlari menembus api.

“Taeyeon! Jangan!” Jerit Tiffany.

Taeyeon melompat ke atas Tiffany dan keduanya diseret ke dalam kegelapan.

Tiba-tiba api di sekitar penduduk desa padam. Mereka bergegas masuk ke hutan, tetapi pohon-pohon secara ajaib bertambah lebat dan berduri, menahan mereka di luar hutan.

Sudah terlambat

~

“APA-APAAN KAU INI?” Raung Tiffany, mendorong dan mencakar Taeyeon sementara bayangan menarik mereka ke hutan gelap gulita. Taeyeon memukul-mukul dengan liar, berusaha melepaskan cengkeraman si bayangan pada tubuh Tiffany dan cengkeraman Tiffany pada si bayangan.

“KAU MENGACAUKAN SEGALANYA!” Pekik Tiffany.

Taeyeon menggigit tangannya “AAAAWWWW!”

Taeyeon memutar tubuh Tiffany dan memanjat ke bayangan, sepatu tebalnya menginjak wajah Tiffany.

“KALAU TANGANKU SUDAH BISA MENEMUKAN LEHERMU—“

Mereka merasa tubuh mereka meninggalkan tanah.

Ketika sesuatu yang memanjang dan dingin membungkus tubuh mereka, Taeyeon merogoh korek api dari bajunya, menggesekkannya ke pergelangan tangannya yang kering, lalu memucat. Bayangan itu sudah hilang. Mereka terbungkus dalam sulur-sulur pohon elm yang merambat dan mengantarkan mereka naik ke pohon yang sangat besar itu lalu memuntahkan mereka ke cabang yang terendah. Kedua gadis saling membelalak dan berusaha mengatur napas supaya bisa berbicara. Taeyeon berhasil lebih dulu.

“Kita pualng, sekarang.”

Cabang pohon itu bergoyang, mengayun ke belakang seperti ketapel, dan menembakkan mereka seperti peluru. Sebelum keduanya sempat berteriak, mereka sudah mendarat di cabang pohon yang lain. Taeyeon mengais-ngais mencari korek apinya. Namun tubuhnya terbanting-banting dari satu cabang ke cabang yang lain. “SETINGGI APA SIH POHON INI!” pekiknya.

Sampai akhirnya mereka berada di puncak pohon tertinggi. Seekor burung raksasa yang hanya berupa kerangka tulang melemparkan lengkingan marah yang menggetarkan gendang telinga mereka. Kemudian, cakar burung itu mencengkeram kerah gaun mereka lalu terbang dari pohon itu sementara mereka berteriak serempak, akhirnya sepakat akan satu hal. Burung tulang itu mengibaskan sayang menuju hutan gelap.

Mereka berdua memejamkan mata saking takutnya. Sampai keduanya merasakan kesunyian yang sama.

“Taeyeon…”

Taeyeon membuka matanya dan menjumpai sinar matahari. Dia melihat ke bawah dan terkesiap.

“Ternyata benar.”

Jauh di bawah mereka, dua kastel tinggi menjulang dan membentang di hutan. Salah satu kastel berkilau bermandikan cahaya matahari berkabut, dengan menara-menara yang berkilauan. Menara kedua tampak samar, suram dan bergerigi, puncak-puncaknya tajam menembus awan hitam bagaikan gigi-gigi monster.

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.

Si burung tulang melayang di atas menara Kebaikan dan melonggarkan cengkeramannya pada Tiffany. Taeyeon memegang erat sahabatnya dengan ketakutan, tetapi kemudian melihat wajah Tiffany yang berseri-seri bahagia.

“Taetae, aku seorang putri.”

Namun, si burung malah menjatuhkan Taeyeon.

Terpana, Tiffany mengawasi Taeyeon terjembab ke dalam kabut gula-gula kapas merah jambu. “Tunggu—bukan—“

Burung itu menyambar liar ke arah Menara Kejahatan, paruhnya mengincar mangsa baru.

“Tidak! Aku si Baik! Ini keliru!” Jerit Tiffany.

Lalu tanpa ragu, si burung menjatuhkan Tiffany ke dalam kegelapan yang mencekam.

***

Heavem

 

Q & A :

  1. Q : Nulis FF Yulsic?
    A : Nah for me. Kalo kalian baru di sini, silahkan berjalan-jalan dan berkunjung melihat-lihat. Saya ini Taeny shipper tulen yang kapalnya sudah tertambat di hati Taeyeon dan payah banget pas nulis ff dengan pairing selain Taeny.

Jika ada pertanyaan, silahkan tulis di kolom komentar di bawah ^^ Saya akan berusaha menjawab di post berikutnya. Terima kasih atas dukungannya ^^ Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menuntaskan cerita ini sebelum semester baru dimulai.

Thanks,

S2

Iklan

14 thoughts on “The Princess and The Witch [2]”

  1. Kan bener apa Yg gue pikirkan.. karna ketamakan pany ngebuat sisi sombongnya di kuasai kejahatan so memang pantes tp gimna dgn tae

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s