Fantasy, SNSD, SOSHI FF, The Princess and The Witch

The Princess and The Witch [3]

TAEYEON & Tiffany

Copyright © 2017, @sasyaa95

Cerita ini diadaptasi dari novel The School for Good and Evil by Soman Chainmani

Recomended song :

Where are you now?
Was it all in my fantasy?
Where are you now?
Were you only imaginary?

~Faded by: Alan Walker

3

Sebuah Kekeliruan

Tiffany terbangun di dalam parit berbau busuk yang dipenuhi lumpur hitam pekat meluap hingga ke tepinya. Dinding suram mengapitnya di segala sisi. Tiffany berusaha berdiri tetapi kakinya tidak menemukan dasar dan dia pun tenggelam; lumpur memenuhi lubang hidungnya dan membakar tenggorokannya. Tiffany tersedak, tetapi kemudian menemukan pegangan, yang ketika dilihatnya adalah bangkai kambing yang tubuhnya setengah termakan. Tiffany terkesiap dan berusaha berenang menjauh tapi tak bisa melihat apa pun berjarak satu inci dari wajahnya. Teriakan-teriakan menggema dari atas dan Tiffany pun mengadah.

Lusinan burung tulang menghantam kabut dan menjatuhkan anak-anak yang berteriakan ke dalam parit. Seekor burung menukik langsung ke arahnya dan dia menghindar, pada saat itu juga wajanya menerima semburan lumpur. Saat sudah berhasil menyeka matanya, Tiffany dihadapkan dengan seorang anak laki-laki kurus, bertelanjang dada, tampak rapuh dan pucat. Dari kepala kecilnya mencuat hidung panjang, gigi bergerigi dan rambut hitam jatuh menutupi mata kecilnya. Anak itu kelihatan seperti musang kecil yang jahat.

“Burung itu memakan bajuku.” Katanya. “Boleh kupegang rambutmu?”

Tiffany melesat mundur.

“Biasanya penjahat tidak punya rambut seperti putri,” katanya seraya berjalan mendekati Tiffany.

Dengan putus asa, Tiffany mencari senjata—tongkat, batu, bangkai kambing.

“Mungkin kita bisa jadi teman sekamar atau sahabat atau teman apa saja,” katanya, sekarang beberapa inci di depan Tiffany. Rasanya seperti Mark berubah menjadi hewan pengerat dan memperoleh keberanian. Anak laki-laki itu mengulurkan tangan kurus keringnya untuk menyentuh Tiffany dan dia sudah siap akan menonjok matanya saat seorang anak berteriak jatuh diantara mereka. Tiffany menggunakan kesempatan itu untuk kabur ke arah yang berlawanan.

Tiffany melihat sekelompok anak yang sudah berhasil sampai di sisi parit dan menemukan koper mereka, berjalan dengan terburu-buru dan saling bertubrukan diiringi dengan segerombolan serigala berseragam jaket merah darah dan celana kulit hitam, berdiri dengan dua kaki sambil membawa cambuk.

Tiffany berpegangan pada pinggiran parit untuk mengeluarkan diri, tetapi mematung saat melihat pantulannya di parit. Gaunnya bersimbah lumpur dan kuning telur, wajahnya mengilap dilumuri lendir berbau amis, dan rambutnya menjadi sarang keluarga cacing tanah. Napasnya tercekat.

Tolong! Aku ada di sekolah yang sa—“

Seekor serigala menyeretnya dan menendangnya ke dalam barisan. Saat ia hendak protes, Tiffany melihat si Anak Musang berlari ke arahnya, “Tunggu aku!”

Tiffany mempercepat langkahnya dalam barisan anak-anak dalam gelap, menembus kabut sambil mencabuti cacing-cacing dan meratapi tas-tasnya yang dikemas sempurna, jauh di sana.

Gerbang menara terbuat dari jeruji besi, berselang-seling seperti kawat berduri, setelah melihat dari dekat, barulah Tiffany menyadari bahwa ternyata bukan kawat sama sekali melainkan ular-ular yang mendesis ke arahnya. Tiffany memikik dan cepat-cepat berlari.

Tepat di hadapannya terpampang tulisan yang diampit dua ukiran angsa hitam :

SEKOLAH PENDIDIKAN KEJAHATAN DAN PENGEMBANGAN DOSA

Serigala-serigala menggiring anak-anak tersebut memasuki menara sekolah yang menjulang bagaikan iblis bersayap lalu merangkak ke dalam terowongan panjang bergerigi yang berbentuk seperti moncong buaya. Tiffany mengerutkan hidungnya, baunya seperti ikan busuk.

Sambil berjalan pelan dalam barisan, Tiffany menelusuri kolom-kolom dalam dinding bertuliskan N-E-V-E-R. Sampai akhirnya nyala obor menerangi ruangan tempat pemberhentian mereka, Tiffany dapat melihat murid-murid lainnya dengan jelas dan nyaris pingsan.

Seorang gadis bergigi tonggos mengerikan, berambut tipis, seorang anak bermata satu, tepat di tengah-tengah keningnya. Seorang anak perempuan berkulit hijau, bertubuh seperti adonan kue, perut buncit, kepala botak dan hal-hal mengerikan lainnya.

Mereka semua kelihatan sebaya dengannya, tetapi hanya itu saja kemiripan mereka. Inilah segerombolan orang-orang menyedihkan dengan bentuk tubuh tidak keruan, berwajah aneh dan memiliki ekspresi yang sama-sama kejam. Mereka semua menatap Tiffany dan seketika menemukan apa yang mereka incar. Seorang putri bersepatu kaca dan berambut ikal keemasan yang terpaku ketakutan.

Mawar merah di antara duri-duri.

~

Di sisi lain parit, Taeyeon nyaris membunuh seorang peri. Dia terbangun di bawah bunga-bunga lili merah dan kuning yang tampak sedang asyik mengobrol. Taeyeon yakin dirinyalah objek pembicaraan mereka karena dedaunan dan puncuk bunga-bunga lili itu menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan kasar.

Dengan susah payah dirinya berdiri dan memandang padang penuh dengan gadis-gadis, bermekaran dengan riang di sekeliling danau yang berkilauan. Dia menatap mereka tak percaya, gadis-gadis itu tumbuh begitu saja dari tanah. Gadis-gadis itu sama sekali tidak mirip dengannya.

Wajah mereka ada yang cerah ada yang gelap, mulus dan bersinar karena sehat. Rambut mereka semua sangat sempurna. Beberapa dari mereka tinggi, ada juga yang pendek. Namun semuanya memamerkan pinggang kecil, kaki-kaki langsing dan bahu yang ramping.

Sementara padang itu ditumbuhi murid-murid baru yang tumbuh dari tanah, Taeyeon melihat tiga peri berdengung di antara setiap murid-murid itu; membantu mereka berdiri, membersihkan gaun-gaun mereka dari tanah, menuangkan teh madu ke cangkir untuk mereka dan mengantarkan mereka menuju koper-koper mereka yang tumbuh dari tanah bersama pemiliknya.

Taeyeon tidak peduli sama sekali dengan asal para gadis-gadis cantik itu. Dia mencari-cari yang sama seperti dirinya, berwajah masam atau berpenampilan acak-acakan supaya dirinya tidak perlu merasa asing. Namun, sekumpulan Tiffany lengkap dengan segala hal yang tak dimilikinya terus saja bermekaran. Rasa malu yang sudah akrab serasa mencabik perutnya. Dia membutuhkan lubang untuk dimasukinya, atau kuburan tempat bersebunyi, sesuatu yang bisa membuat mereka semua pergi.

Pada saat itulah seorang peri menggigitnya.

“Apa-ap—“

Taeyeon berusaha mengibas-ngibaskan tangannya untuk membuat makhluk yang bergemerincing itu pergi, tapi makhluk itu malah terbang dan menggigit lehernya, lalu bokongnya. Tak ada seorang pun yang boleh menyentuh bokongnya! Peri-peri lain berusaha untuk menenangkan peri nakal itu, tapi peri itu malah melesat bagai petir. Taeyeon pun melompat-lompat tanpa hasil sampai akhirnya tanpa sengaja peri itu masuk ke mulut Taeyeon dan tertelan. Taeyeon mendesah lega lalu mendongak.

Enam puluh gadis cantik membelalak ke arahnya sambil ternganga. Seekor kucing di sarang burung.

Taeyeon merasakan cubitan di dalam kerongkongannya lalu terbatuk sambil memuntahkan peri tadi. Tak disangka ternyata peri itu laki-laki.

Sebelum dia sempat kabur, Taeyeon merasakan tubuhnya diangkat oleh dua peri ke udara. Semua anak sudah dilepaskan oleh peri-peri mereka saat sudah menjejak di depan kastel kaca. Namun kedua peri itu tetap saja memeganginya dan menyeretnya seperti tahanan. Taeyeon menoleh ke seberang danau di belakangnya. Di mana Tiffany?

Namun yang terlihat hanyalah kegelapan di balik sebuah parit berlumpur yang menjijikkan. Dan jika dia ingin menyelamatkan sahabatnya, dia harus mencari cara untuk menyebrangi parit itu. Namun sebelumnya dia harus melepaskan diri dari hama-hama bersayap ini.

Matanya menangkap tulisan dari cermin melengkung di atas gerbang-gerbang emas di depan:

SEKOLAH PENCERAHAN DAN PESONA KEBAIKAN

Taeyeon menangkap bayangannya sendiri di dalam tulisan tersebut lalu berpaling. Dia benci pada cermin dan sebisa mungkin menghindarinya. (Babi dan anjing tidak pernah bersantai-santai sambil memandangi diri mereka sendiri, pikirnya.)

Peri-peri itu menyeretnya memasuki pintu kastel lalu terbang pergi. Pintu-pintu kaca itu berhias dua angsa putih. Setelah pintu-pintu itu terbuka, tersingkaplah puluhan gadis-gadis cantik yang mengelilinginya seperti hiu. Mereka menatapnya selama sesaat, seolah menunggunya membuka topeng dan menyingkap seorang putri yang ada di baliknya. Taeyeon berusaha membalas tatapan mereka, tetapi dia justru menatap wajahnya sendiri yang memantul di cermin sebanyak ribuan kali dan segera mengunci pandangannya ke lantai marmer.

Akhirnya, salah seorang gadis melangkah maju, rambutnya pirang sepanjang pinggang, bibirnya mengilap dan matanya biru topaz. Dia begitu cantik sehingga kelihatan tidak nyata.

“Halo, aku Yoona,” katanya manis. “Aku tidak mendengar namamu tadi.”

“Itu karena aku tidak pernah bilang siapa namaku,” jawab Taeyeon, matanya terpaku ke lantai.

“Kau yakin berada di tempat yang benar?” Tanya Yoona, kini bertambah manis.

“Em, aku eh—.”

“Mungkin kau tadi berenang ke sekolah yang salah.” Yoona tersenyum.

Tiba-tiba dia teringat apa yang hendak dilakukannya. Pengalihan! Taeyeon menatap mata Yoona yang berkilauan. “Ini Sekolah Kebaikan, kan? Sekolah yang melegenda karena gadis-gadis cantik dan berjasa yang ditakdirkan menjadi putri?”

“Oh,” sahut Yoona, bibirnya mengerut. “Jadi kau tidak tersesat?”

“Atau linglung?” Tanya seorang lainnya yang berkulit cokelat dan berambut hitam pekat.

“Atau buta?” Tanya gadis ketiga yang berambut keriting merah tua.

“Kalau begitu, aku yakin kau pasti punya Tiket Kebun Bunga,” tukas Yoona.

Taeyeon mengerjap-ngerjap. “Punya apa?”

Tiket masuk ke Kebun Bunga,” kata Yoona. “Tahu kan, cara kita semua bisa sampai di sini. Hanya murid-murid yang resmi diterima di sini yang memiliki tiket masuk ke Kebun Bunga.”

Semua anak mengacungkan tiket besar berwarna emas, memamerkan nama mereka yang tertera dalam tulisan kaligrafi mewah, bersegel angsa hitam-putih dari Sang Guru.

“Oooh, Kartu Kebun Bunga yang itu,” ejek Taeyeon. Dia memasukkan tangannya ke saku-saku baju. “Kemarilah, akan kutunjukkan padamu.”

Gadis-gadis itu berkerumun penasaran. Sementara itu tangan Taeyeon meraba-raba untuk mengalihkan—korek api… koin… daun kering…

“Mm, lebih dekat sini.”

Gadis-gadis itu berimpitan sambil bergumam. “Harusnya tidak sekecil ini,” cetus Yoona kesal.

“Mengerut sewaktu dicuci,” jawab Taeyeon membongkar-bongkar lebih banyak korek api, cokelat meleleh, burung tanpa kepala (Jack menyembunyikan bangkai-bangkai burung di dalam bajunya). “Ada di sini—“

“Mungkin sudah hilang,” kata Yoona.

Kamper.. kulit kacang… bangkai burung lagi…

“Atau salah taruh.” Kata Yoona.

“Atau berbohong bahwa kau punya tiketnya.”

“Oh, sudah terasa sekarang—“

Namun yang dirasakan Taeyeon hanyalah raca cemas yang menjalar ke lehernya—

“Ini dia—“ Lakukan sesuatu!

Gadis-gadis mengerumuninya dengan seram.

Lakukan sekarang juga!

Taeyeon melakukan hal pertama yang terpikir olehnya, lalu mengeluarkan kentut pendek dan keras.

Pengalihan yang efektif dapat menciptkan kekacauan sekaligus kepanikan. Dan Taeyeon berhasil.

Ternyata tidak, karena Yoona berhasil menghalanginya membuka pintu. Namun dirinya langsung melemparkan bangkai burung tanpa kepala pada gadis itu lalu melihatnya berteriak sambil menyelamatkan diri.

Sambil berkonsentrasi menyelamatkan Tiffany, dia menerjang pintu beku dan berlari ke danau. Namun, rencana brilian itu terpaksa gagal karena ada air yang meluap tinggi menjadi ombak raksasa dan menghantamnya masuk kembali ke dalam pintu, menabrak gadis-gadis yang memikik.

Taeyeon berdiri sempoyongan dan terpaku.

“Selamat datang, para putri baru.” Kata seorang peri air berukuran dua meter yang melayang-layang. “Selamat datang di Sekolah Kebaikan.”

~

Tiffany mencium bau busuk tempat itu. Setelah bergabung ke barisan, dia menutup hidungnya karena bau sekumpulan tubuh yang tak pernah mandi, batu-batu jamuran dan serigala berbau busuk. Murid-murid lain melemparkan pandangan mengenaskan padanya tetapi dibalasnya dengan senyum termanis, berjaga-jaga kalau semua ini ternyata ujian belaka. Sudah pasti ini sebuah ujian atau kekeliruan atau lelucon atau sesuatu.

Tiffany menoleh pada si serigala abu-abu. “Bukannya aku meragukan wewenangmu, atau mendiskreditkan Sang Guru, tapi bolehkah aku bertemu dengannya? Kurasa dia—“ Si serigala meraung, mencipratkan ludahnya sampai Tiffany basah kuyup. Tiffany tidak melanjutkan kata-katanya.

Berjalan bersama barisannya, Tiffany merosot ke dalam sebuah ruangan karam. Tiga buah tangga tampak di hadapannya. Pada satu tangga terukir gambar monster bertuliskan MALICE (dengki) di sepanjang birainya, pada tangga kedua terdapat ukiran laba-laba bertuliskan MISCHIEF (Jail) dan yang ketiga terdapat ular dengan tulisan VICE (licik).

Di sekeliling tiga tangga itu, Tiffany melihat tembok-tembok yang digantungi pigura-pigura dengan warna berbeda-beda. Pada setiap pigura terpampang foto seorang anak, di samping lukisan anak tersebut ada dalam buku dongeng pada saat kelulusannya. Sebuah pigura emas memperlihatkan foto seorang gadis serupa peri, dan di sampingnya, gambar yang bagus sekali akan dirinya sebagai penyihir yang menjikikkan, berdiri di depan seorang gadis yang pingsan. Sebuah plakat emas terpasang di bawah dua ilustrasi itu:

1

Pada pigura di sebelahnya terdapat foto seorang anak laki-laki beralis tebal menyambung, di samping lukisan dirinya setelah dewasa yang mengacungkan pisau ke leher seorang wanita:

2

Di atas Minsoo, ada foto seorang anak laki-laki kurus berambut pirang terang dalam pigura perak, berubah menjadi selusin orge yang tengah membinasakan sebuah desa:

3
Kemudian matanya menatap pigura tembaga lapuk di dekat lantai yang berisi seorang anak laki-laki kecil botak, matanya besar ketakutan. Seorang anak yang dikenalnya. Namanya NamJi. Dulu dia suka menggigit semua gadis cantik di desanya hingga akhirnya diculik empat tahun lalu. Namun tidak ada lukisan disamping gambarnya. Hanya plakat bertuliskan:

4

Tiffany memandang wajah ketakutan NamJi dan merasa perutnya mulas. Apa yang terjadi padanya?

Diamatinya ribuan pigura yang berisi: penyihir membunuh pangeran, raksasa melahap manusia, demon membakar anak-anak, dan hal-hal mengerikan lainnya. Bahkan para penjahat yang mati mengenaskan: serigala dalam cerita Si Tudung Merah, digambarkan dalam momen keemasan mereka, seakan-akan mereka menang di akhir cerita.

Mereka pun berbelok ke koridor yang lebih luas di ujung ruangan. Selagi berencana menarik perhatian para penjaga untuk mengambil tindakan keselamatan, Tiffany tiba-tiba menyadari bahwa pigura-pigura di tembok ini memampang wajah-wajah yang familier. Ada si anak gumpalan adonan menyerupai babi yang tadi dilihatnya, berlabel BONE DARI SEMAK ROCH. Di sebelahnya, lukisan seorang gadis bermata satu, rambut tipis: ARACHNE DARI HUTAN RUBAH. Tiffany meneliti potret teman-teman sekelasnya, menantikan transformasi mereka menjadi penjahat. Pandangannya terhenti pada si Anak Musang. JISOO DARI SUNGAI DARAH. Jisso. Kedengarannya seperti penyakit. Dia bergerak maju di barisan, siap-siap untuk berteriak pada si kurcaci.

Lalu dilihatnya pigura di bawah palu si kurcaci.

Wajahnya sendiri tersenyum kepadanya.

Sambil menjerit, Tiffany berlari keluar barisan, dengan panik menggapai-gapai tangga, lalu merebut fotonya dari tangan si kurcaci yang terpana. “Tidak, aku di Sekolah Kebaikan!” teriaknya, sampai pada akhirnya Tiffany dan kurcaci tersebut saling berebut fotonya.

Si kurcaci kemudian berteriak dan mengayunkan palunya ke arah Tiffany. Tiffany menghindar tetapi malah menabrak tembok kanan-kirinya. Dalam posisi melintang di antara anak tangga di udara, Tiffany melihat serigala-serigala menggeram dan anak-anak yang membelalak di bawahnya—“Aku harus menemui Sang Guru!”—kemudian genggamannya terlepas, meluncur di tangga, dan jatuh tak berdaya di depan barisan.

Seorang nenek jelek berkulit gelap dengan bisul luar biasa besar di pipi menyodorkan selembar perkamen ke tangannya.

5

Tiffany mendongak, terperangah. “Sampai ketemu di kelas, Penyihir dari Hutan Luar.” Kata si nenek tua dengan parau sebelum Tiffany sempat merespons, sesosok orge menjatuhkan setumpuk buku yang diikat pita ke tangannya.

Monolog Jahat Terbaik, edisi ke-2

Mantra Penyiksa, kelas 1

Petunjuk Penculikan & Pembunuhan untuk Pemula

Menguasai Kejelekan Dalam & Luar

Cara Memasak Anak-anak (dengan Resep-resep Baru!)

Buku-bukunya sudah cukup buruk, tapi kemudian Tiffany menyadari pita pengikatnya ternyata seekor belut. Dia menjerit dan menjatuhkan buku-buku itu, sebelum sesosok satyr totol-totol menyisipkan kain hitam apak kepadanya. Setelah membukanya, Tiffany menyingkir dari tunik hitam, panjang dan mengerikannya.

Tiffany memandang gadis-gadis lainnya tak percaya. Mereka dengan riang mengenakan seragam tengik itu, membaca-baca buku mereka, dan menyamakan jadwal. Perlahan, Tiffany memandang jubbah hitamnya. Lalu buku-buku dan jadwalnya yang basah terkena lendir belut. Kemudian potret dirinya yang tersenyum manis, sudah terpasang kembali di tembok.

The Witch

Tiffany berlari menyelamatkan diri.

~

Taeyeon tahu dirinya berada di tempat yang salah karena staff pengajarnya pun memandang aneh padanya. Mereka bersama-sama membariskan anak-anak menghadap keempat tangga spiral ruangan lobi kaca megah itu, dua berwarna merah jambu dan dua lagi biru, menebarkan konfeti ke murid-murid baru. Para professor berdandan dengan aksesoris berkilauan, entah itu laki-laki maupun perempuannya. Mereka semua mengenakan lambang yang sama; angsa perak.

Taeyeon langsung menyadari bahwa mereka semua lebih menarik daripada orang dewasa manapun yang pernah dilihatnya. Bahkan yang lebih tua sekalipun. Taeyeon selalu berusaha untuk meyakinkan diri bahwa kecantikan itu taka da gunanya karena bersifat sementara. Di sini terbukti kecantikan itu bertahan selamanya.

Saat itulah dia melihat seorang yang tidak seperti yang lainnya. Di depan lingkaran jendela kaca patri, mengenakan setelan hijau daun, rambut keperakan dan mata cokelat berkilau, dia berseri-seri memandangnya seolah Taeyeon memang layak berada di sana.

Wajah Taeyeon memerah. Siapa pun yang berpikir dia layak berada di sini adalah orang sinting. Taeyeon berpaling, menikmati keberadaannya di antara gadis-gadis yang memelototinya, jelas belum memaafkannya atas insiden di koridor tadi.

“Mana anak laki-lakinya?” Taeyeon mendengar salah seorang bertanya pada yang lainnya ketika mereka berjalan menuju tiga orang peri air raksasa dengan warna rambut dan bibir menyala yang melayang-layang, menyerahkan jadwal, buku dan jubbah mereka.

Taeyeon mengamati tembok besar berwarna merah muda, dengan malaikat-malaikat dan peri tergambar cantik pada pinggirannya. Tulisan EVER terlukis indah dalam warna merah muda dan biru. Pada setiap sudutnya, ada empat tangga spiral yang simetris. Salah satu tangga tertera HONOR (kehormatan) berhias kesatria dan raja, satunya lagi VALOR (keberanian) dengan relief-relief biru berbentuk pemburu dan pemanah. Pada kedua tangga merah muda, tertera PURITY (kemurnian) dan CHARITY (kedermawanan) berwarna emas serta barisan pahatan gadis, putri, dan hewan-hewan penyayang.

Di tengah ruangan, potret-potret alumni menyelimuti dinding-dindingnya. Terpampang dalam pigura emas atau perak dan bagi mereka yang bernasib kurang beruntung menjadi tangan kanan, ibu rumah tangga yang patuh dan ibu peri.

Namun terlepas dari apakah mereka jadi Ratu Salju atau tukang sapu cerobong asap, Taeyeon melihat semua murid itu punya wajah cantik, senyum tulus dan mata penuh perasaan. Dan, di dalam istana kaca di tengah hutan ini, semua yang terbaik dalam hidup berkumpul untuk mengabdi pada Kebijakan. Dan inilah dia, Nona Merana, mengabdi pada kuburan dan kentut.

Taeyeon menahan napas sambil menunggu sampai akhirnya dia bisa mencapai peri air berambut merah muda, berwajah lembut. “Sudah terjadi kekeliruan!” Taeyeon terengah-engah, air dan keringat bertetesan dari tubuhnya. “Sahabatku, Tiffany, yang seharusnya berada di sini.”

Peri itu tersenyum.

“Aku berusaha menghalanginya kemari, tapi aku justru membuat burung itu kebingungan dan sekarang aku berada di sini dan dia ada di menara yang satu lagi. Tapi dia cantik dan menyukai pink, dan aku… yah, lihat saja aku ini. Tolong bantulah aku mencarinya karena kami tidak bisa tinggal di sini. Kami harus pulang.”

Peri itu hanya tersenyum dan menyerahkan secarik perkamen padanya:

6

Taeyeon terpana menatap perkamen itu. “Tapi—“

Seorang peri air berambut hijau menyodorkan sekeranjang buku, sebagian menyembul keluar:

Keistimewaan Orang Cantik

Mendapatkan Pangeran

Buku Resep Tampil Cantik

Putri Raja dengan Cita-cita

Bahasa Binatang I : Gonggongan, Ringkikan & Kicauan

Kemudian peri-peri air itu memegangi seragamnya: rok celemek merah muda pendek yang mengerikan berlengan gembung, serta hiasan bunga-bunga anyelir di sekelilingnya, dikenakan di luar blus renda putih yang tampaknya kehilangan tiga kancing.

The Witch (2)

Taeyeon terpana memperhatikan calon-calon putri raja di sekelilingnya yang sedang mengikatkan gaun mereka, menata buku-buku mereka dan langsung merasa tolol. Kemudian dia mendongak ke arah guru yang tampan tadi, masih tersenyum padanya, seolah menantikan hal terbesar dari Taeyeon dari Hutan Luar.

Taeyeon melakukan satu-satunya hal yang diketahuinya setiap kali dihadapkan dengan pengharapan.

Taeyeon berlari menaiki tangga biru Honor, melalui koridor-koridor hijau laut. Para peri bergemerincing marah di belakangnya. Dia melesat cepat di koridor-koridor, berjuang menaiki tangga, dia tak punya waktu untuk mengaggumi sekitarnya.

Sampailah dia di ujung tangga dan mendobrak pintu menuju atap menara. Di hadapannya matahari menyinari tanaman-tanaman dan para peri menembakkan jaring emas lengket dari mulut untuk menangkapnya.

Taeyeon mengempaskan diri untuk menghindar, merangkak seperti serangga di sepanjang pagar tanaman yang luar biasa besar. Kemudian melompat ke sebuah patung—seorang pangeran yang sedang mengacungkan pedangnya jauh di atas kolam. Namun lama kelamaan para peri mulai megerumuninya dengan jaring-jaring. Pegangan Taeyeon terlepas hingga dirinya tercebur ke dalam air.

Ketika membuka mata, tubuhnya sudah benar-benar kering.

Kolam tadi pastilah sebuah portal, karena sekarang dia berada di luar, di pintu lengkung kritstal biru. Taeyeon mendongak dan mematung. Dia berdiri di tepi jembatan batu sempit yang terbentang menembus kabut tebal ke menara busuk di seberang danau. Jembatan penghubung dua sekolah itu.

Air mata menyengat matanya. Tiffany! Dia bisa menyelamatkan Tiffany!

“Taeyeon!”

Taeyeon menyipitkan mata dan melihat Tiffany berlari keluar dari kabut.

“Tiffany!”

Tangan-tangan terulur, kedua gadis itu berlari menyeberangi jembatan, saling meneriakkan nama satu sama lain—

Hingga akhirnya mereka terbanting, menabrak penghalang tak terlihat, terpental ke bawah.

Kesakitan dan setengah sadar, dengan ngeri Taeyeon menyaksikan serigala-serigala menyeret rambut Tiffany kembali ke Kejahatan.

“Kalian tidak mengerti,”teriak Tiffany, melihat peri-peri penjaring Taeyeon. “Ini semua kekeliruan!”

“Tidak ada yang keliru,” geram seekor serigala.

Ternyata mereka bisa bicara.

***

Another Characters :

The Witch (1)The Witch (3)

Q & A :

  1. Q : Kok bisa kepikiran adaptasi cerita ini ke TaeNy?
    A : Sederhana, karena setiap lembar yang kubaca dari novel ini yang terbayangkan di benakku cuma Taeny. Haha.

Jika ada pertanyaan, silahkan tulis di kolom komentar di bawah ^^ Saya akan berusaha menjawab di post berikutnya. Terima kasih atas dukungannya ^^ Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menuntaskan cerita ini sebelum semester baru dimulai.

Thanks,

S2

Iklan

10 thoughts on “The Princess and The Witch [3]”

  1. Hehehe… Dasarnya gue juga tiap baca apa juga suka kebayang taeny XD

    Jangankan taeyeon(disini) gue ajah geli2 gimana gitu dia Musti dandan macam putri2 itu XD

  2. ‘Cara Memasak Anak-anak (dengan Resep-resep Baru!)’. WTF!

    Bisa-bisanya kakak inilah dapet novel kayak gini.

    Awal-awal ngakak kok tiba-tiba gue kediem ya? Mungkin saking dihayati, ngeri sendiri Tipp dijambak sama serigala busuk itu.

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s