Fantasy, SNSD, SOSHI FF, The Princess and The Witch

The Princess and The Witch [4]

TAEYEON & Tiffany

Copyright © 2017, @sasyaa95

Cerita ini diadaptasi dari novel The School for Good and Evil by Soman Chainmani

Recomended song :

Do you ever feel like breaking down?
Do you ever feel out of place?
Like somehow you just don’t belong
And no one understands you?

~Welcome to My Life by : Simple Plan

4

Teman Baru

Tiffany tidak yakin kenapa butuh enam serigala untuk menghukumnya, tetapi dia menyimpulkan satu serigala saja mungkin kurang meyakinkan. Mereka mengikatnya di panggangan, menjejalkan buah apel ke mulutnya dan mengaraknya ke seluruh enam lantai Gedung Malice. Murid-murid baru berjajar di tembok sambil menunjuk-nunjuk dan tertawa. Namun tawa tersebut berubah menjadi cemberut saat mereka menyadari anak aneh merah muda ini akan jadi teman seasrama mereka.

Serigala-serigala itu segera menyeret Tiffany yang merengek-rengek lalu menjebloskannya ke dalam kamarnya. Tiffany menggelincir hingga wajahnya membentur sebuah kaki bau.

“Sudah kubilang kita pasti dapat dia,” ujar suara tak enak.

Masih terikat ke panggangan, Tiffany mendongak ke arah seorang gadis tinggi dengan rambut hitam berminyak, lipstick hitam, cincin di hidung, dan tato mengerikan bergambar tengkorak demon merah bertanduk di sekeliling lehernya. Gadis itu memelototi Tiffany, mata hitamnya berkilat.

“Baunya pun seperti seorang Ever.”

“Sebentar lagi peri-peri pasti akan mengambilnya,” kata suara di seberang ruangan.

Tiffany memutar kepalanya ke arah gadis sehitam jelaga, matanya merah cekung, memberikan rebusan dari ketel untuk makan tiga tikus hitam besar. “Sayang sekali. Padahal kita bisa menggorok lehernya dan menggantungnya di aula untuk hiasan.”

“Tidak sopan sekali,” kata yang ketiga. Tiffany menoleh pada gadis rambut cokelat yang tersenyum di tempat tidur sambil memegang es serut cokelat. “Lagi pula membunuh sesama murid itu melanggar peraturan.”

“Kalau membuatnya cacat sedikit bagaimana?” Tanya si gadis hitam.

“Menurutku dia menyegarkan suasana,” ujar si rambut cokelat sambil menggigiti es serut, “tidak semua penjahat harus bau dan kelihatan depresi.”

“Dia bukan penjahat,” tukas si gadis hitam dan si gadis jakung bertato serentak.

Sambil melepaskan diri dari tali, Tiffany mengulurkan lehernya dan untuk pertama kalinya bisa memandang kamar itu secara menyeluruh. Dulu kala, mungkin berupa deretan kamar yang bagus dan nyaman sebelum ada yang membakarnya. Dinding batasnya terbakar jadi terak. Bahkan semua perabotannya kelihatan hangus. Namun sembari matanya mencari, Tiffany tersadar ada masalah yang lebih besar lagi di kamar itu.

“Di mana cerminnya?” Tiffany terkesiap.

“Coba kutebak,” si gadis jakung bertato mendengus. “Itu Bella atau Ariel atau Anastasia.”

“Itu lebih mirip Buttercup atau Sugarplum,” sahut si hitam.

“Atau Clarabelle atau Rose atau Willow-di-tepi-Laut.”

“Tiffany.” Tiffany beranjak dengan tubuh berlumur jelaga. “Namaku Tiffany. Aku bukan ‘penjahat’, aku bukan ‘itu’ dan ya, jelas ini bukan tempatku, jadi—“

Si gadis hitam dan bertato terbahak sampai terbungkuk-bungkuk. “Tiffany!” yang kedua terkekeh. “Lebih buruk dari yang bisa dibayangkan siapa pun!”

“Apapun yang bernama Tiffany bukan di sini tempatnya,” desis si hitam. “Tempatnya di kurungan.”

Tempatku di menara yang satu lagi,” Ujar Tiffany, berusaha lebih sengit dari mereka. “Itulah sebabnya aku harus menemui Sang Guru.”

“Aku harus menemui Sang Guru,” ejek si hitam. “Bagaimana kalau kau melompat saja keluar jendela, lalu coba lihat apa dia mau menangkapmu?”

“Kalian semua tidak punya sopan santun,” bentak si gadis berambut cokelat, mulutnya terisi penuh cokelat. “Aku Bora. Ini Sooyoung,” katanya, menunjuk gadis tinggi bertato. “Dan si cerah secerah cahaya matahari ini.” Ejeknya sambil menunjuk si hitam yang langsung memelototinya. “Yuri.”

“Selamat datang di kamar kami—kita,” ujar Bora, dan dengan sekali kibasan tangan, dia mengebut abu dari tempat tidur yang belum ditempati.

Tiffany meringis melihat seprai yang sudah dimakan ngengat dan bernoda mengerikan itu. “Kuhargai sambutannya, tapi aku benar-benar harus pergi,” katanya sambil memunggungi pintu. “Mungkin kalian bisa tunjukkan padaku arah ke kantor Sang Guru?”

“Pangeran-pangeran pasti kebingungan kalau melihatmu,” tukas Bora. “Penjahat biasanya tidak kelihatan seperti putri raja.”

“Dia bukan penjahat,” geram Yuri dan Sooyoung.

“Apa aku harus membuat janji sebelum menemuinya?” desak Tiffany. Atau mengirim surat untuknya atau—“

“Kau bisa saja terbang, kurasa,” kata Bora seraya menarik dua telur cokelat dari sakunya. “Tapi mungkin kau akan digigit stymph.”

“Stymph?” Tanya Tiffany.

“Burung-burung yang menjatuhkan kita itu, Say.” Bora melantur sambil mengunyah. “Kau harus bisa melewati mereka dulu dan kau tahu sendiri betapa mereka benci penjahat.”

“Sekali lagi,” seru Tiffany. “Aku bukan penja—“

Suara denting dari tangga. Gemerincing manis, begitu elok, begitu lembut yang hanya dimiliki—

Peri. Mereka datang untuk menjemputnya!

Namun ternyata tidak—peri-peri itu hanya melewati kamarnya. Selagi Sooyoung dan Yuri membicarakan betapa tidak bergunanya para putri-putri, Tiffany menerjang pintu dan mendapati sekelebat bulu serigala. Tiffany tersentak mundur lalu Sooyoung membanting pintu.

“Kita semua bisa dihukum gara-gara kau,” Sooyoung menggeram.

“Tapi mereka sudah di sini! Mereka mencariku!” jerit Tiffany.

“Kau yakin kita tidak boleh membunuhnya?” Tanya Yuri, mengawasi tikus-tikusnya menelan si tikus kecil.

“Terus kau berasal dari hutan bagian mana, Say?” Tanya Bora.

“Aku bukan berasal dari hutan,” jawab Tiffany tak sabar, sambil mengamati dari lubang intip. Serigala-serigala itu pasti membuat para peri ketakutan. Di ujung koridor, tiga ekor serigala sedang melahap lobak panggang di atas piring besi.

Serigala makan lobak? Menggunakan garpu?

Bahkan ada yang aneh lagi di atas piring serigala itu. Para peri mengais makanan dari binatang buas itu. Seorang peri laki-laki yang imut mendongak ke arahnya. Dia melihatku! Sambil mengatupkan kedua tangan, mulut Tiffany mengisyaratkan “Tolong!” dari balik kaca. Si peri laki-laki tersenyum mengerti, dan berbisik di telinga serigala dan serigala itu melihatnya. Dengan sekali tendangan sadis Tiffany terempas ke belakang lalu terdengar cekikikan dan tawa riuh.

Sepertinya peri-peri itu tidak berniat menyelamatkannya.

“Apa maksudmu kau bukan berasal dari hutan?” Tanya Sooyoung dan Tiffany melihat ketiga teman sekamarnya melongo menatapnya kebingungan.

Tiffany sebenarnya sedang tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh, tetapi sekarang anak-anak tolol inilah satu-satunya harapannya untuk bisa menemui Sang Guru.

“Aku berasal dari desa.” Jawabnya sambil menahan isak tangis. “Kalian bertiga sepertinya tahu banyak tentang tempat ini, jadi aku akan berterima kasih kalau kalian bisa memberitahuku di man—“

“Apa dekat Pegunungan Berbisik?” Tanya Bora.

“Hanya anak-anak Never yang tinggal di Pegunungan Berbisik, bodoh.” Omel Sooyoung.

“Pasti dekat Badai Pelangi.” Kata Yuri. “Kebanyakan anak-anak Ever menyebalkan berasal dari sana.”

“Maaf, aku tidak mengerti,” Tiffany mengernyit. “Ever? Never?”

“Tipe Rapunzel kuper dikurung-di-menara.” Ujar Yuri. “Pantas saja.”

“Ever adalah panggilan untuk pelaku-pelaku kebaikan, Say.” Kata Bora padanya. “Tahu kan segala omong kosong mereka soal menemukan Kebahagiaan Abadi.”

“Jadi, berarti kalian ‘Never’?” Tanya Tiffany sambil mengingat-ingat huruf-huruf pada pilar di ruang tangga.

“Kependekan dari Nevermore—takkan pernah,” kata Sooyoung riang. “Surga bagi para pelaku kejahatan. Kita akan mendapatkan kekuatan tak terbatas di Nevermore. Menyerpih jiwa kita. Menaklukan Kematian. Kesunyian yang kekal.”

“Kedengarannya seperti penderitaan. Taeyeon pasti akan senang di sini.” Gumam Tiffany.

“Desa… apa itu dekat Bukit Pifflepaff?”Tanya Bora ringan.

“Oh, yaampun, tidak dekat apa-apa,” erang Tiffany. Dia mengacungkan jadwalnya, “TIFFANY DARI HUTAN LUAR” tertera di bagian atas. “Desaku ada di balik hutan. Dikelilingi hutan di segala sisinya.”

“Hutan Luar?” Tanya Sooyoung.

“Siapa rajamu?” Tanya Bora.

“Kami tidak punya raja,” jawab Tiffany.

“Siapa ibumu?” Tanya Yuri.

“Sudah meninggal,” jawabnya.

“Dan ayahmu?” Tanya Bora.

“Dia seorang pekerja tambang. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat pribadi—“

“Lalu dia berasal dari keluarga dongeng apa?” Tanya Yuri.

“Nah, sekarang kalian benar-benar aneh. TIdak ada keluarga yang dari keluarga dongeng. Aku berasal dari keluarga normal yang punya kekurangan-kekurangan seperti keluarga kal—“

“Sudah kuduga.” Kata Sooyoung pada Yuri.

“Menduga apa?” Tanya Tiffany.

“Hanya pembaca yang bisa sebodoh ini.” Kata Yuri pada Sooyoung.

Kulit Tiffany terasa terbakar. “Maaf ya, kalau aku satu-satunya orang di sini yang bisa membaca berarti bukan aku yang bodoh, jadi coba saja kalian berkaca, itu juga kalian bisa menemukan cer—“

Pembaca.

Kata-kata itu menghantamnya bagai badai di siang bolong. Mereka semua tampak riang, tidak kelihatan rindu rumah, berenang dengan suka rela ke arah serigala-serigala di parit dan bukannya melarikan diri. Dan kenapa mereka semua tahu banyak tentang sekolah ini?

“Dia berasal dari dongeng apa?”

Mata Tiffany menemukan meja nakas Sooyoung. Ada sebuah lukisan dibingkai kayu alakadarnya. Di dalamnya terdapat gambar seorang penyihir perempuan aneh di depan sebuah rumah.

Sebuah rumah yang terbuat dari kue jahe dan permen. Penyihir yang mati dalam oven dalam cerita Hansel & Gretel.

Matanya kemudian beralih pada Yuri, dan perutnya terasa diaduk-aduk. Dongeng favoritnya berakhir dengan seorang penyihir terguling dalam tong kayu berpaku sampai yang tersisa hanyalah gelangnya yang terbuat dari tulang-tulang anak laki-laki. Sekarang gelang itu melingkar di pergelangan tangan teman sekamarnya.

“Ternyata kau tahu banyak soal penyihir, ya,” lirik Yuri. “Nenek pasti tersanjung.”

Tiffany berputar untuk melihat poster di atas tempat tidur Bora. Seorang laki-laki tampan berpakaian hijau berteriak saat kapak pemenggal membelah kepalanya.

7

“Daddy berjanji akan membiarkan aku melakukan tebasan pertama.” Kata Bora.

Mereka tidak perlu membaca dongeng. Mereka berasal dari dongeng. Mereka terlahir untuk membunuh.

“Seorang Putri sekaligus Pembaca,” kata Sooyoung. “Dua jenis manusia terburuk.”

“Bahkan Ever pun tidak menginginkannya,” kata Yuri. “Kalau tidak, peri-peri pasti sudah datang sekarang.”

“Tapi mereka memang sudah datang!” Jerit Tiffany. “Aku ini Baik!”

“Yeah, tapi kau tidak bisa kemana-mana, Say,” kata Bora. “Jadi, kalau kau ingin tetap hidup, sebaiknya berusahalah menyesuaikan diri.”

Menyesuaikan diri dengan para penyihir! Menyesuaikan diri dengan para kanibal!

“Tapi aku Baik.” Rengek Tiffany.

“Kau dari tadi bilang begitu,” dalam sekejap, Sooyoung mencengkeram lehernya dan menjepitnya ke jendela yang terbuka. “Dan tetap saja tidak ada bukti.”

“Aku menyumbangkan korset untuk nenek-nenek gelandangan! Aku ke gereja tiap Minggu,” teriak Tiffany saat hampir jatuh dari ketinggian.

“Mmm… tidak ada tanda-tanda ibu peri,” kata Sooyoung. “Coba lagi.”

“Aku tersenyum pada anak-anak! Aku bernyanyi untuk burung-burung.” Tiffany tersekat. “Aku tidak bisa bernapas.”

“Tidak ada tanda-tanda Pangeran Tampan juga,” kata Yuri sambil mengangkat kedua kaki Tiffany. “Kesempatan terakhir.”

“Aku berteman dengan seorang penyihir! Aku sebaik itu! Dia yang seharusnya di sini, bukan aku!” raung Tiffany.

“Tidak ada yang tahu kenapa Sang Guru membawa anak aneh tak berguna sepertimu ke dunia kami,” desis Sooyoung. “Tapi hanya ada satu sebab. Dia bodoh.

“Tanya Taeyeon! Dia akan bilang padamu! Dialah yang penjahat!”

“Belum ada buktinya…”

“LIHAT SAJA AKU LALU LIHAT DIRI KALIAN! AKU CANTIK KALIAN JELEK!”

Sooyoung dan Yuri menjatuhkannya. Mereka saling bertatapan terpana, lalu menatap Tiffany yang membungkuk di atas tempat tidur, sesak menahan tangis.

“Sudah kubilang, dia itu penjahat,” kicau Bora.

Kegaduhan terdengar dari luar kamar, sekelompok anak sedang berlarian. Saling bentur, saling sikut. Tiffany berlari mengikuti mereka.

“Mau kemana kita!” teriaknya pada Bora.

“Sekolah kebaikan!” jawabnya. “Untuk penyambut—“

Seorang anak laki-laki menendangnya hingga jatuh menelungkup.

Sekolah Kebaikan! Dibanjiri harapan, Tiffany mengikuti kawanan mengerikan itu menuruni tangga, merapikan gaun merah mudanya untuk pertemuan pertamanya dengan teman-teman sekolah yang sesungguhnya.

Namun sebelum kakinya melangkah lebih jauh, seekor serigala putih ganas menarik lengannya dan membenturkannya ke birai tangga.

“Tidak—“ Tiffany terkesiap—

Serigala itu pun membereskannya dengan caranya sendiri.

~

Meskipun putri-putri Purity terbagi menjadi tiga orang perkamar, Taeyeon akhirnya tinggal sendiri di kamarnya.

Sebuah tangga kaca merah muda yang menghubungkan kelima lantai Menara Purity, memutar dihiasi pahatan replika rambut panjang Rapunzel yang tak habis-habisnya. Pada pintu kamarnya di lantai lima terpampang papan tanda berkelap-kelip berbentuk hati:
Selamat datang Seohyun, Somi, Taeyeon!” Namun, Seohyun dan Somi tidak tinggal lama. Seohyun yang terberkahi dengan kulit mulus serta mata abu-abu cemerlang, bersusah payah memasukkan kopernya yang luar biasa besar ke kamar dan ternyata menjumpai Taeyeon lalu langsung mengeluarkan kopernya. “Pokoknya dia kelihatan jahat.” Taeyeon mendengarnya terisak. “Aku tidak mau mati!” (“Pindahlah ke kamarku.” Dia mendengar suara Yoona. “Para peri pasti mengerti.”

Dan benar, peri-peri itu memang mengerti. Mereka pun mengerti saat si rambut merah Somi yang berhidung mancung serta alis tipis, pura-pura takut ketinggian dan meminta kamar di lantai bawah. Taeyeon pun sendirian, membuatnya merasa seperti di rumah sendiri.

Namun, kamar itu membuat Taeyeon gelisah. Cermin-cermin raksasa berhias permata di dinding merah muda tampak menyilaukan. Mural rumit di dinding menampakkan putri-putri cantik mencium pangeran-pangeran menawan. Taeyeon sebisa mungkin menjauh dari semua itu dan meringkuk di sudut jendela, baju hitam menggumpal di tembok merah muda.

Dari balik jendela, dia bisa melihat danau berkilauan di sekeliling Menara Kebaikan berubah menjadi parit berlumpur di tengah-tengah sebagai pelindung Menara Kejahata. “Teluk Separuh Jalan.” Kata mereka.

Taeyeon yang penasaran apa yang ada di belakang kedua kastel tersebut pun, memanjat birai jendela, berpegangan ada lis kaca. Taeyeon berjinjit ke samping birai, memutar kepalanya dan nyaris terjatuh karena kaget.

Di belakang Sekolah Kebaikan dan Kejahatan terdapat hutan biru yang sangat luas. Pepohonan, semak-semak, dan bunga-bunga bermekaran dengan segala nuansa biru, belukar biru, pegunungan es hingga biru indigo. Nuansa biru itu hanya sampai pada pagar emas tinggi yang mengelilingi setiap sisi. Di balik pagar, hutan kembali menghijau dan membentang hingga kegelapan tak dikenal.

Ketika Taeyeon bergeser mundur, dilihatnya sesuatu di depan sekolah, menjulang dari Teluk Separuh Jalan. Tepat di tengah-tengah bagian, air membelah seimbang antara lumpur dan air jernih. Dia hampir tak dapat melihatnya dari balik kabut… menara bata perak berkilat tinggi dan ramping. Serombongan peri berdengung mengelilingi puncak menara, sementara para serigala membawa busur panah berjaga-jaga di atas papan kayu yang mencuat dari dasar menara ke dalam air.

Apa yang mereka jaga?

Taeyeon menyipitkan mata ke puncak menara setinggi langit itu, tapi yang bisa dilihatnya hanya sebuah jendela yang tertutup awan.

Lalu tiba-tiba, jendela itu tersorot cahaya dan Taeyeon melihatnya. Membayang hitam disinari matahari.

Bayangan bungkuk yang menculik mereka.

Sepatu Taeyeon terlepas dan tubuhnya oleng ke depan di atas Menara Charity yang mematikan. Setelah berjuang menggapai-gapai, dia berhasil mencengkeram lis jendela tepat pada waktunya dan terjembab masuk kembali ke kamar.

Dia harus segera menyelamatkan sahabatnya.

Beberapa menit kemudian, Taeyeon menyingkir dari depan cermin. Seragam merah jambu tanpa lengan memperlihatkan bagian tubuh kurus keringnya yang putih dan belum pernah terkena sinar matahari. Kerah rendanya membuat Taeyeon merasakan gatal yang sama setiap kali dia merasa cemas. Bunga-bunga anyelir pada pinggiran lengannya membuatnya bersin, dan sepatu hak tingginya bergoyang-goyang seperti egrang. Namun baju busuk ini satu-satunya jalan untuk kabur.

Taeyeon mengeraskan rahangnya.

Kau harus berbaur.

Dia menarik napas panjang lalu membuka pintu.

Lima puluh gadis cantik dengan rok celemek merah muda memenuhi koridor, cekikikan, bergosip, bertukar pakaian, sepatu, tas, gelang, krim dan lain-lain yang mereka bawa dalam koper superbesar mereka, sementara peri-peri beterbangan di sela-sela mereka, bersusah payah untuk mengawal mereka ke acara Penyambutan.

Perlu waktu seumur hidupnya untuk berteman dengan satu orang saja. Dan di sini, gadis-gadis ini menjadi sahabat karib dalam hitungan menit seolah-olah berteman itu hal paling sederhana di dunia ini. Rasa malu terasa menusuk-nusuk kulitnya. Bahkan di Sekolah Kebaikan, yang semua orang seharusnya baik dan mengasihi, dia tetap sendirian dan dianggap hina. Dia seorang penjahat, tak peduli ke mana pun dia pergi.

Dia membanting pintu, mencabut kelopak-kelopak bunga dari gaunnya, melepaskan sepatu pink-nya dan melemparkannya keluar jendela. Taeyeon merosot di dinding dan memejamkan mata.

Keluarkan aku dari sini.

Setelah beberapa saat, Taeyeon memasukkan kembali kakinya ke sepatu tebal hitamnya yang keras. Dipanjatnya kanopi tempat tidur lalu dicopotnya keramik itu, membuka lubang angin gelap di atas kamar. Dia mencengkeram tepi lubang itu dan mengayunkan sebelah kakinya ke dalam lubang angin, kemudian sebelah lagi, sampai akhirnya dia bertengger di ruang sempit di dalam saluran itu.

Dia merangkak menembus gelap, membabi buta maju terseok-seok di atas besi dingin sampai akhirnya dia terjatuh begitu cepat sehingga tidak sempat berteriak, menderu dalam saluran-saluran, diping-pong di dalam pipa-pipa dan meluncur di lubang angin sampai dia terjungkir di sebuah cerobong lalu mendarat di pohon kacang.

Dipeluknya batang pohon hijau yang tebal itu, bersyukur dirinya masih utuh. Namun ketika mengamati sekelilingnya, Taeyeon melihat dirinya tidak berada di kebun atau hutan atau di mana pun seharusnya pohon kacang itu berada. Dia berada di sebuah ruangan gelap beratap tinggi, penuh dengan lukisan, patung, dan lemari kaca. Matanya menemukan pintu kaca buram di sudut, di atasnya terdapat huruf-huruf yang disepuh emas digoreskan pada kaca:

GALERI KEBAIKAN

Taeyeon menuruni pohon-pohon itu pelan-pelan sampai sepatu tebalnya mencapai lantai marmer.

Sebuah mural menutup dinding panjang dengan gambar pemandangan sebuah istana emas yang menjulang serta pangeran tampan dan putei cantik menikah di bawah lengkungan gemerlapan, sementara ribuan tamu menrayakannya sambil membunyikan bel dan berdansa.

Tinggi di atas pemandangan itu, huruf-huruf besar emas mengintip dari balik awan, terbentang dari satu sisi mural ke sudut lainnya:

E V E R A F T E R

Taeyeon mengerutkan wajah. Dia selalu meledek Tiffany karena percaya pada Kebahagiaan Abadi. (Siapa sih yang mau selalu bahagia?”) Tapi setelah melihat mural itu, harus diakuinya sekolah ini memang secara mengerikan telah menjual ide itu dengan sangat baik.

Dia menyipitkan mata ke arah sebuah lemari kaca yang memajang sebuah buku kecil berisi tulisan berlekuk-lekuk serta sebuah plakat di sampingnya: PUTRI SALJU, UJIAN KEFASIHAN HEWAN (LETITA DARI LEMBAH PERAWAN). Dan pada lemari-lemari berikutnya, dia menemukan mantel biru seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi pangeran Cinderella, bantal asrama Si Tudung Merah, diary Si Gadis Korek Api, piama-piama Pinokio dan peninggalan-peninggalan bintang kelas yang kira-kira berlanjut ke pernikahan dan istana.

Di dinding, dia menelusuri gambar-gambar EverAfter lainnya dari para alumni, sebuah pameran Sejarah Sekolah, spanduk perayaan kemenangan-kemenangan besar, dan sebuah dinding berlabel “Kapten Kelas”, dipenuhi potret-potret murid dari setiap kelas. Ruangan itu serupa museum yang sangat gelap hingga Taeyeon harus menyalakan sebatang korek apinya untuk menyalakan lampu.

Saat itulah dia melihat bangkai-bangkai binatang yang dia lihat dalam buku dongeng. Mata mereka memancarkan ketakutan hingga membuatnya berpaling. Tidak ada kebahagiaan abadi untuk kelompok ini. Dia melihat plakat gemerlapan pada pohon kacang. HOLDEN DARI BADAI PELANGI. Tanaman sial itu dulunya seorang anak laki-laki.

Darah Taeyeon membeku. Apa yang membuatnya berpikir bahwa dia dan Tiffany tidak akan berakhir menjadi burung gagak atau semak mawar?

Kemudian, dia teringat apa yang membuat mereka berdua berbeda dari yang lain.

Kami saling memiliki.

Mereka harus bersama-sama mematahkan kutukan ini. Kalau tidak, mereka akan jadi fosil dongeng.

Perhatiannya tertarik ke suatu sudut, sederetan lukisan karya seniman yang sama, memperlihatkan adegan-adegan yang sama dalam warna-warna impresionistik nan kabur: Anak-anak membaca buku dongeng. Setelah mendekati lukisan-lukisan itu, matanya membelalak. Dia mengenal di mana anak-anak itu brada.

Mereka berada di desanya.

Taeyeon bergerak dari lukisan pertama sampai yang terakhir. Hingga matanya terpaku pada lukisan yang berbeda dari lukisan lainnya, diletakkan secara terpisah dari barisan. Di lukisan yang ini, anak-anak membakar lusinan buku dongeng mereka ke api unggun di alun-alun.

Suara. Dia menunduk ke balik kereta labu raksasa, kepalanya terbentur sebuah plakat. HEINRICH DARI HUTAN BAWAH. Taeyeon tersekat.

Dua orang guru memasuki museum, seorang wanita yang lebih tua mengenakan gaun hijau kekuningan, berkerah tinggi, bermotif tebaran sayap-sayap kumbang hijau mengilat. Wanita yang lebih muda mengenakan gaun panjang ungu berbahu lancip yang menjuntai di bagian belakangnya.

“Dia mengacaukan dongeng-dongeng itu, Clarissa,” ujar yang berbaju ungu.

“Sang Guru tidak bisa mengendalikan Storian, Lady Lesso,” balas Clarissa.

“Dia berada di pihakmu dan kau pun tahu,” Lady Lesso memanas.

“Dia tidak berada di pihak siapa pun—“Clarissa berhenti sesaat. Begitu pula Lady Lesso.

Taeyeon melihat apa yang mereka perhatikan. Lukisan terakhir.

“Ternyata kau menerima khayalan Profesor Sader lainnya,” kata Lady Lesso.

“Ini memang galerinya.” Desah Clarissa.

“Siapapun yang memercayai Ramalan Pembaca adalah orang bodoh,” desis Lady Lesso. “Termasuk Sang Guru.”

“Sang Guru harus mempertahankan keseimbangan.” Clarissa berkata lembut. “Dia memandang pembaca sebagi bagian dari keseimbangan itu. Bahkan meskipun kau dan aku tidak memahaminya.”

“Keseimbangan!” ejek Lady Lesso. “Lalu mengapa kejahatan belum memenangkan satu dongeng pun sejak dia mengambil alih? Mengapa kejahatan belum pernah mengalahkan Kebaikan salama dua ratus tahun?”

“Mungkin murid-muridku hanya lebih terdidik dengan baik,” kata Clarissa.

Lady Lesso melotot lalu berjalan pergi.

“Mungkin Pembaca barumu akan bisa membuktikan bahwa kau salah,” kata Clarissa bergegas menyusul.

Lady Lesso mendengus. “Kudengar dia memakai baju pink.

Begitu mereka keluar, Taeyeon langsung bergegas keluar menuju jalan yang mereka lalui dan muncul di antara tiga awetan beruang. Para peri yang berjaga seketika memekik kaget dan menjeblakkan pintu hingga terbuka.

Teman-teman sekolahnya yang bergaun pink beriring-iring di ruang lobi dalam dua barisan sempurna. Ketika mereka bergandengan tangan, cekikikan dan bersahabat karib, rasa malu yang tak asing bagi Taeyeon mulai muncul.

Semua bagian tubuhnya menyuruhnya kembali menutup pintu dan sembunyi. Namun kali ini, bukannya memikirkan teman-teman yang tak dimilikinya, Taeyeon memikirkan yang dimilikinya.

Para peri menyambar sedetik kemudian, tapi yang mereka temukan hanyalah para putri yang sedang menuju ke acara Penyambutan. Ketika mereka beterbangan di atas dengan marah, memburu tanda-tanda bersalah, Taeyeon menyelinap ke dalam pawai pink itu, memasang senyum… dan mencoba berbaur.

***

Q & A :

  1. Q : Apakah cerita ini akan menjadi 3 series seperti novel utamanya atau hanya dibuat satu seri pertamanya aja?
    A : Sejauh ini saya masih kepikiran untuk membuat satu seri saja. Jujur, novel ini saya dapat dari giveaway atau entah dari lomba menulis apa. Dan hanya dapat dua series aja. 1 & 2, yang ketiga mau pesen online tapi nunggu gajian ;p atau mungkin readers ada yang mau belikan? Biar bisa dijadikan fanfic juga. Haha.

Jika ada pertanyaan, silahkan tulis di kolom komentar di bawah ^^ Saya akan berusaha menjawab di post berikutnya. Terima kasih atas dukungannya ^^ Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menuntaskan cerita ini sebelum semester baru dimulai.

Thanks,

S2

Iklan

5 thoughts on “The Princess and The Witch [4]”

  1. Well, mungkin karna keadaan… Tiff yg selalu merengek bilang dia baik tapi sebenernya dia egois cuma mikir dirinya sendiri, huh tp ya klo dipikir2 fany mana bisa mikir taeyeon sementara pastinya dipikiran fany taeyeon uda enak diantara peri2 baik. Dan taeyeon dia bisa mikirin fany karena beban nya kaya nya nggak semengerikan fany hmmm… 😶😶😶

  2. Gue punya soulmate kritis banget orangnya dia pernah ngasih quote “orang baik gak ngaku2 dirinya baik”. Dan gue ngeliat sifat itu bersarang dalem hati pany…

    Apapun itu tae tetep pikirin pany, beda ma pany yang koar-koar ‘aku orang baik-aku orang baik’.

  3. Wow, gomawo udah di jawab 😊
    Sumpah ngakak bora kyk anak gaul aja, “say, say” gitu 😂
    Tae itu lucunya, awal2 ga mau temenan ama phany bahkan terus menghindar dan terpaksa berteman tapi giliran phany dalam bahaya dia yg paling setia sampai terus berusaha nolong phany yg sama sekali ga mikirin tae, unik 😅

    Btw thor, kalo mau hemat baca wattpad juga banyak kok, bahkan lengkap dari series 1-3…
    Oh ya mau nanya lagi thor 😂✌ utk alur sama tokoh persis kyk di novel aslinya ato dirubah ?

  4. Namun pada dasarnya, dengan Tiffany yang sering meracau bahwa ia adalah ‘Baik” tapi justeru dia malah terlihat jahat.
    Dan dengan Taeyeon yang berpikir bahwa dia seorang yang jahat, namun sebenarnya tidak. Terbukti hingga saat ini ia tetap memikirkan keadaan Tiffany yang berada di kelas kejahatan.
    Semangat terus mba Syasya ^^

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s