Fantasy, SNSD, SOSHI FF, The Princess and The Witch

The Princess and The Witch [5]

TAEYEON & Tiffany

Copyright © 2017, @sasyaa95

Cerita ini diadaptasi dari novel The School for Good and Evil by Soman Chainmani

Recommended Song :

Distance, timing, break down, fighting
Silence, this train runs off its tracks
Kiss me, try to fix it, could you just try to listen
Hang up, give up, for the life of us we can’t get back

~Sad Beautiful Tragic by : Taylor Swift

5

Acara Penyambutan & Sang Pangeran

Masing-masing sekolah memiliki pintu masuk ke Teater Dongeng, yang terbagi menjadi dua. Pintu barat di bagian murid-murid Kebaikan, diberi bangku panjang merah muda dan biru, dekorasi dinding Kristal, dan buket-buket bunga kaca yang gemerlapan. Sedangkan pintu timur di bagian murid-murid Kejahatan, diberi bangku-bangku kayu panjang melengkung, beragam ukiran pembunuhan dan penyiksaan, juga stalaktit-stalaktit maut bergelantungan dari langit-langit yang hangus terbakar. Sementara murid-murid digiring ke bagian masing-masing untuk acara Penyambutan, para peri dan serigala berjaga di lorong keramik perak antara kedua sekolah.

Terlepas dari seragam barunya yang menyeramkan, Tiffany sama sekali tidak mau duduk bersama anak-anak Kejahatan. Sekilas melihat rambut kemilau anak-anak Kebaikan, serta senyum memesona dan baju-baju pink mereka yang gaya, Tiffany langsung tahu dirinya sudah menemukan saudara-saudara perempuannya. Kalau para peri tidak mau menyelamatkannya, pasti rekan sesama putri rajanya bersedia.

Sementara anak-anak Kejahatan terus saja mendorong-dorongnya, dia berusaha menarik perhatian gadis-gadis Kebaikan, tetapi mereka mengabaikan sisi bagian teater itu. Akhirnya, Tiffany berjuang ke lorong, melambaikan tangannya, dan membuka mulut untuk berteriak, saat sebuah tangan menariknya ke bawah sebuah bangku tengik.

Tayeon menangkap Tiffany ke dalam pelukannya. “Aku menemukan menara Sang Guru! Tempatnya di parit dan ada penjagannya, tapi pokoknya kalau kita bisa naik ke sana, maka kita bisa—“

“Hai! Senang bertemu denganmu! Berikan pakaianmu,” cetus Tiffany, menatap gaun merah muda Taeyeon.

“Heh?”

“Cepat! Ini bisa membereskan semuanya.”

“Kau bercanda, kan! Tiffany, kita tidak bisa tinggal di sini!”

“Tepat sekali,” Tiffany tersenyum. “Aku harus berada di sekolahmu dan kau harus berada di sekolahku. Seperti yang sudah kita bicarakan, ingat kan?”

“Tapi ayahmu, ibuku, kucingku!” Taeyeon tergagap. “Kau tak tahu seperti apa mereka ini! Merka akan mengubah kita jadi ular atau tupai atau semak beri! Tiffany, kita harus pulang!”

“Kenapa aku harus pulang? Aku punya apa di desa?” Tanya Tiffany.

Raut Taeyeon memerah karena sakit hati. “Kau punya…. Emm, kau punya…”

“Tepat. Tak punya apa-apa. Sekarang, tolong, gaunku.

Taeyeon melipat tangannya.

“Kalau begitu, kuambil sendiri saja.” Tiffany cemberut. Namun tepat saat Tiffany menarik lengan baju bunga-bunga Taeyeon, ada yang membuatnya terdiam membeku. Tiffany mendengarkan, memasang telinga, kemudian berlari seperti harimau kumbang. Dia menyelinap ke bawah bangku-bangku melengkung, menghindari kaki-kaki para penjahat, menunduk di belakang bangku terakhir, lalu mengintip ke sekeliling.

Taeyeon mengikutinya dengan sangat jengkel. “Aku tidak tahu kau ini kena—“

Tiffany membekap Taeyeon dan mendengarkan suara-suara yang bertambah keras itu. Suara-suara yang bisa membuat gaids-gadis Kebaikan langsung melompat berdiri. Suara yang seumur hidup sudah mereka nantikan. Dari koridor, terdengar entakan sepatu bot dan bunyi pedang beradu—

Pintu barat menjeblak terbuka dan 60 anak laki-laki tampan beradu pedang.

Kulit sawo matang mengintip dari balik lengan baju biru dan kerah kaku. Sepatu bot tinggi biru tua serasi dengan rompi berpotongan leher tertutup dan simpul tali-tali tipis, masing-masing berbordir sebuah huruf emas. Sementara para anak laki-laki itu saling menyilangkan pedang, bagian kemeja yang tersisip di dalam celana ketat warna krem mereka terangkat keluar, memamerkan pinggang ramping dan sekelebatan otot-otot.

Keringat berkilauan di wajah-wajah bercahaya selagi mereka melintasi lorong antara deretan tempat duduk. Sepatu bot mereka mengentak-entak lantai marmer. Dalam sekejap, pertarungan pedang mencapai klimaks; yang satu memojokkan yang lain ke bangku panjang. Pada gerakan akhir yang serentak, mereka mengeluarkan bunga mawar dari kemeja mereka sambil berteriak. “Ratuku!”, mereka melemparkan mawar-mawar itu pada gadis yang paling menarik perhatian mereka. (Yoona mendapat cukup banyak bunga untuk ditanam di kebun).

Taeyeon merasa mual menyaksikan semua itu. Namun kemudian, dilihatnya Tiffany tampak harap-harap cemas, begitu mendambakan bunga mawarnya sendiri.

Di deretan bangku lapuk, para laki-laki Kejahatan mengejek para pangeran, mengibarkan spanduk “Never Hebat” dan “Ever Payah!” (kecuali si Muka Musang yang menyilangkan tangannya denagn dongkol dan menggumam, “Kenapa sih mereka dapat giliran masuk sendiri?”) Sambil membungkuk, para putri melemparkan ciuman jauh pada anak-anak Kejahatan dan siap-siap duduk kembali ketika pintu barat tiba-tiba dibanting terbuka lagi.

Seorang lagi masuk.

Rambutnya keemasan laksana lingkaran halo surgawi, matanya sebiru langit tak berawan, kulitnya sewarna pasir di gurun yang panas, tampak gemerlapan dengan pakaian kebangsawaan, seakan darahnya lebih murni daripada yang lainnya. Orang tak dikenal itu memandang sekilas ke arah anak-anak laki-laki yang mengernyit dan bersenjata pedang, menarik pedangnya sendiri…. Lalu menyeringai.

Empat puluh anak laki-laki menyerangnya sekaligus, tetapi dia melucuti setiap anak secepat kilat. Pedang teman-teman sekolahnya bertumpukan di bawah kakinya sementara dia mengangkis tanpa tergores sedikit pun. Tiffany terpana, tersihir. Taeyeon berharap anak laki-laki itu tertusuk pedangnya sendiri. Namun tak seberuntung itu, karena anak laki-laki itu membereskan setiap tantangan yang datang seketika itu juga. Bordiran huruf T pada dasi birunya berkilat-kilat di setiap gerak tarian pedangnya.

Setelah menaklukkan penantang terakhir yang terbengong-bengong, laki-laki itu mengangkat bahu seolah mengatakan dirinya tak berarti meskipun mampu melakukan itu semua. Mereka semua tahu, para pangeran sekarang memiliki seorang raja (bahkan para penjahat pun tak punya alasan untuk mengolok-olok lagi.)

Sementara itu, gadis-gadis Kebaikan sudah lama tahu bahwa setiap putri sejati akan menemukan seorang pangeran, maka tak perlu saling berebut. Namun mereka melupakan semua itu ketika si anak emas mengeluarkan bunga mawar dari bajunya. Mereka semua melompat, melambaikan saputangan, berdesakan seperti angsa-angsa saat diberi makan. Anak laki-laki tersenyum dan melambungkan mawarnya tinggi-tinggi ke udara.

Taeyeon terlambat melihat Tiffany bergerak. Dia berlari mengejarnya tetapi Tiffany melesat ke lorong, melompati bangku-bangku merah muda, meluncur ke arah mawar itu—dan malah menangkap seekor serigala.

Sementara serigala itu menyeretnya kembali ke sisinya, Tiffany mengunci tatapannya pada si anak laki-laki, yang memandangi wajah cantiknya, kemudian jubah hitamnya yang mengerikan, lalu meneleng keheranan. Kemudian melihat Taeyeon yang berpakaian pink dengan penasaran, lalu melompat terkejut ketika melihat mawarnya terjatuh di telapak tangan Taeyeon yang terbuka. Ketika serigala mengempaskan Tiffany ke sisi Kejahatan dan para peri mendorong Taeyeon ke sisi Kebaikan, anak laki-laki itu ternganga sambil membelakkan matanya, berusaha memahami semua itu. Lalu sebuah tangan menariknya ke tempat duduk.

“Hai, aku Yoona,” katanya, sambil memastikan anak laki-laki itu melihat semua mawarnya.

Dari tempat duduk Kejahatan, Tiffany berusaha menarik perhatian anak laki-laki itu.

“Ubah saja dirimu jadi cermin. Baru kau punya peluang.”

Tiffany menoleh pada Sooyoung yang duduk di sebelahnya.

“Namanya Tedros,” kata teman sekamarnya. “Dan dia sama congkaknya dengan ayahnya.”

Tiffany baru akan menanyakan siapa ayahnya, tapi kemudian melihat pedang peraknya yang berkilauan dengan gagang bertabur berlian. Pedang berlambang singa yang dikenalnya dari buku-buku dongeng. Sebuah pedang bernama Excalibur.

“Dia putra Raja Arthur?” Tiffany menarik napas. Diamatinya tulang pipi Tedros, rambut pirang berkilau dan bbir tebal lembutnya, bahu tegap serta lengan kokoh yang memadati baju biru biru, dan dasi longgar juga kerah yang tak dikancingkan. Dia terlihat begitu tenang dan percaya diri, seolah yakin takdir berada di pihaknya.

Ketika memandangnya, Tiffany merasakan takdirnya sendiri terkunci pada suatu tempat.

Dia milikku.

Tiba-tiba dia merasakan tatapan tajam dari seberang lorong.

“Kita harus pulang,” mulut Taeyeon bergerak dengan jelas tanpa suara.

“Selamat datang di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan,” ujar yang lebih ramah di antara dua kepala.

Dari tempat duduk mereka masing-masing yang berlawanan, Tiffany dan Taeyeon mengamati anjing raksasa dengan dua kepala menempel pada satu tubuh, mondar-mandir di sepanjang panggung batu perak, beraksi tepat di tengah-tengahnya. Yang satu anjing jantan gila berliur, bersurai beruang. Yang satu lagi menggemaskan dan lucu, dengan rahang rapuh, berbulu tipis, dan suara merdu. Tidak ada yang bisa memastikan apakah wajah yang lebih lucu itu jantan atau betina, tapi apa pun itu, sepertinya berkuasa.

“Aku Pollux, Ketua Penyambutan,” ujar kepala yang baik.

“DAN AKU CASTOR, ASISTEN KETUA PENYAMBUTAN DAN PELAKSANA EKSEKUSI HUKUMAN TERHADAP SIAPA PUN YANG MELANGGAR PERATURAN ATAU BERTINGKAH SEPERTI KELEDAI,” kata yang gila menggelegar.

“Terima kasih, Castor,” kata Pollux. “Pertama-tama, biar aku ingatkan mengapa kalian semua berada di sini. Semua anak terlahir dengan jiwa yang Baik atau Jahat. Beberapa jiwa lebih murni dibandingkan yang lain—“

“DAN BEBERAPA JIWA LAINNYA HANYA SAMPAH!” Castor menyalak.

“Seperti yang sedang kubilang tadi,” kata Pollux, “ada beberapa jiwa yang lebih murni dari yang lainnya, tapi smua jiwa pada dasarnya Baik atau Jahat. Mereka yang Jahat tidak bisa mengubah jiwa mereka menjadi Baik, dan mereka yang Baik tidak bisa mengubah jiwa mereka menjadi jahat—“

“JADI, HANYA KARENA KEBAIKAN MEMENANGKAN SEMUANYA, BUKAN BERARTI KALIAN BISA BERTUKAR TEMPAT,” gertak Castor.

Murid-murid Kebaikan bersorak, “EVER! EVER!”, murid-murid Kejahatan membalas, “NEVER! NEVER!” sebelum serigala-serigala menyiramkan seember air pada anak-anak Ever dan para peri melemparkan pelangi ke anak-anak Never, dan kedua sisi pun diam.

“Sekali lagi,” ujar Pollux geram, “mereka yang Jahat tidak bisa jadi Baik dan mereka yang Baik tidak bisa jadi Jahat, tak peduli seberapa banyak kalian membujuk atau menghukum. Nah, terkadang kalian merasa campuran keduanya tapi itu hanya karena dalam silsilah keluarga kalian ada cabang-cabang yang teracuni dengan pencampuran Baik dan Jahat. Tapi di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan ini, kami akan menyingkirkan campuran-campuran itu, kami akan menyingkirkan kebingungan kalian, kami akan berusaha membuat kalian semurni mungkin—“

“DAN JIKA KAU GUGUR, MAKA SESUATU YANG BURUK AKAN TERJADI PADA KALIAN DAN AKU TIDAK BISA MENYEBUTKAN KEBURUKAN MACAM APA, TAPI ARTINYA KALIAN TIDAK AKAN PERNAH TERLIHAT LAGI!”

“Sekali lagi begitu, kuberangus kau!” Teriak Pollux. Castor menatap jari kakinya.

“Aku yakin tak ada di antara murid-murid cerdas ini yang akan gugur,” Pollux tersenyum pada anak-anak yang lega.

“Kau bilang kadang-kadang ada yang gugur,” gerutu Castor.

Tiffany mengingat wajah ketakutan NamJi di dinding dan gemetar. Dia harus segera pindah ke Kebaikan.

“Sang Guru yang memilih kalian secara pribadi. Karena beliau melihat ke dalam hati kalian dan melihat sesuatu yang sangat langka. Murni Baik dan Murni Jahat.”

“Kalau kami memang semurni itu, lalu itu apa?” Seorang anak laki-laki bandel berambut pirang dan telinga lancip berdiri di sisi Kejahatan dan menunjuk Tiffany.

Lalu seorang dari Kebaikan juga menunjuk Taeyeon. “Di kami juga ada!”

“Yang ada di kami baunya seperti bunga!” teriak seorang anak Kejahatan.

“Yang ini memakan peri!”

“Yang ini terlalu banyak senyum!”

“Yang ini mengentuti kami!”

Tiffany menoleh pada Taeyeon, terperanjat.

“Di setiap kelas, kami menghadirkan dua orang Pembaca dari Hutan Luar,” jelas Pollux. “Mereka mungkin hanya tahu dunia kita dari gambar dan buku, tapi mereka tahu peraturan kita seperti kalian juga. Mereka memiliki bakat dan cita-cita yang sama, potensi yang sama untuk mencapai kemenangan. Beberapa di antara mereka juga ada yang menjadi murid-murid terbaik kami.”

“Kira-kira dua ratus tahun lalu,” dengus Castor.

“Mereka tidak berbeda dengan kalian,” ujar Pollux, membela diri.

“Mereka kelihatan berbeda dari kami semua,” cetus seorang penjahat berkulit cokelat berminyak.

Murid-murid dari kedua sekolah bergumam setuju. Tiffany menatap Taeyeon, seakan berkata semua ini bisa diselesaikan secara sederhana dengan pertukaran kostum.

“Jangan meragukan pilihan Sang Guru,” ujar Pollux. “Kalian semua harus saling menghargai, entah dari keluarga dongeng termasyhur ataupun yang gugur, entah kalian seorang putra mahkota ataupun Pembaca. Kalian semua dipilih untuk menjaga keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan. Bila keseimbangan itu dirusak..” rautnya menjadi suram, “dunia kita akan binasa.”

Keheningan memenuhi seluruh aula. Taeyeon meringis. Dia paling tidak membutuhkan kebinasaan dunia ini sementara mereka masih berada di dalamnya.

“Castor mengangkat kakinya. “Apa?” Pollux mengerang.

“Mengapa Kejahatan tidak pernah menang lagi?”

Pollux terlihat seperti hampir memakan kepala Castor, tetapi terlambat. Anak-anak Kejahatan ribut.

“Yeah, kalau kita memang seimbang,” teriak si Musang, “mengapa kami selalu mati?”

“Kami tidak pernah dapat senjata bagus!” teriak si anak bandel.

“Kaki tangan kami berkhianat!”

“Nemesis—lawan—kami selalu punya bala tentara!”

Sooyoung berdiri. “Kejahatan belum pernah menang selama dua ratus tahun!

Castor berusaha mengendalikan diri, tapi kepala merahnya membengkak seperti balon. “KEBAIKAN CURANG!”

Anak-anak Never melonjak berang, melemparkan makanan, sepatu, dan apa saja yang ada di tangan mereka pada anak-anak Ever yang ketakutan.

Tiffany merosot dari tempat duduknya. Tedros pasti tidak mengira dirinya bagian dari berandal-berandal jelek ini, bukan? Dia mengintip dan memergoki Tedros sedang menatapnya. Raut Tiffany merona lalu kembali membungkuk.

Serigala dan peri menyambar gerombolan yang mengamuk di sekelilingnya, tetapi kali ini pelangi dan air tidak bisa menghentikan mereka.

“Sang Guru memihak mereka!” Teriak Sooyoung.

“Peluang saja kami tidak punya!”raung si Musang.

Anak-anak Never berjuang melewati para peri dan serigala, dan menyerang bangku anak-anak Ever.

“Itu karena kalian kera-kera tolol!”

Anak-anak Kejahatan mendongak dengan wajah dungu.

“Sekarang duduklah sebelum aku menampar kalian satu per satu!” jerit Pollux.

Mereka duduk tanpa membantah. (Kecuali tikus-tikus Yuri, yang mengintip dari sakunya dan medesis.)

Pollux memelototi para penjahat. “Mungkin kalau kalian berhenti mengeluh, kalian bisa menghasilkan seseorang yang ulung! Tapi yang kami dengar hanyalah alasan dan alasan lagi. Apa kalian pernah menghasilkan satu penjahat saja yang layak setelah Perang Besar? Satu orang penjahat yang bisa mengalahkan Nemesis mereka? Tak heran para Pembaca yang datang kemari kebingungan! Tak heran mereka ingin jadi Baik!”

Tiffany melihat anak-anak di kedua sisi diam-diam melemparkan tatapan simpati.

“Anak-anak, yang perlu kalian semua perhatikan di sini,” ucap Pollux, lebih lembut. “Lakukan yang terbaik. Yang terbaik dari kalian akan menjadi pangeran dan tukang sihir, kesatria dan dukun, ratu atau ahli tenung—“

“ATAU TROLL ATAU BABI JIKA KALIAN PAYAH!” Semprot Castor.

Para murid saling melemparkan pandangan ke seberang lorng antara deretan bangku, merasakan taruhan yang berat.

“Jadi, kalau tidak ada interupsi lagi,” kata Pollux, memelototi adiknya, “mari kita tinjau peraturan-peraturannya.”

~

Sementara Pollux membacakan serangkaian peraturan yang tidak masuk akal dan membosankan tentang larangan menyusup dan yang tertangkap akan dibunuh, Tiffany mengalihkan perhatiannya pada Tedros. Dia belum pernah melihat anak laki-laki yang begitu bersih. Anak-anak laki-laki di desanya berbau seperti babi dan berkeliaran dengan bibir pecah-pecah, gigi kuning dan kuku-kuku hitam. Namun, Tedros mempunyai kulit kecokelatan yang indah sekali, disapu rambut-rambut halus, dan tak ada tanda-tanda (tak sedikit pun!) noda di wajahnya.

Bahkan setelah pertarungan pedang yang hebat tadi. Tiffany memperhatikan tetesan keringat jatuh bersilangan di lehernya dan menghilang di balik bajunya. Seperti apa aroma tubuhnya? Dia menutup mata. Seperti kayu segar dan—

Dia membuka mata dan dilihatnya Yoona diam-diam mengendus rambut Tedros.

Gadis itu harus segera ditangani.

Seekor burung tanpa kepala mendarat di baju Tiffany. Dia melonjak dari kursinya, menjerit-jerit dan mengibas-ngibaskan tuniknya sampai bangkai burung kenari itu jatuh ke lantai. Dia mengamati burung itu sambil cemberut— lalu menyadari seluruh aula sedang melongo ke arahnya. Dia membungkuk hormat sebaik mungkin dan kembali duduk.

“Seperti yang kubicarakan tadi,” ujar Pollux tersinggung.

Tiffany menoleh cepat ke arah Taeyeon. “Apa!” Tiffany menggerakkan mulutnya tanpa suara.

“Kita harus bertemu,” balas Taeyeon tanpa suara.

“Pakaianku,” mulut Tiffany bergerak, lalu menghadap panggung.

Sooyoung dan Yuri memperhatikan burung yang terpenggal lehernya itu, lalu memandang ke arah Taeyeon.

“Kalau dia, kami suka,” ledek Yuri, tikus-tikusnya mencicit setuju.

Tiffany berusaha memusatkan perhatian pada Pollux yang kembali melanjutkan ceramahnya tentang kurikulum Sekolah dan penjurusan setelah tahun pertama, namun usaha itu sia-sia karena Yoona nyaris duduk di pangkuan Tedros. Sambil menggerutu, Tiffany mencabut lambang angsa perak berkilau yang dijahit di jubah barunya. Hanya itu yang cukup lumayan dari seragam ini.

“Nah, tentang bagaimana kami menentukan jurusan kalian nanti, kami tidak memberikan ‘nilai’ di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan ini,” ujar Pollux. “Sebagai gantinya pada setiap tes atau tantangan, kalian akan diberi peringkat dalam kelas kalian sehingga kalian tahu persis posisi kalian. Ada 120 murid di setiap sekolah dan kami sudah membagi kalian menjadi 6 kelompok yang masing-masing berisi 20 murid. Setelah setiap tantangan, kalian akan diberi peringkat antara 1 sampai 20. Jika kalian berperingkat lima teratas secara konsisten, kalian akan berakhir di jurusan Pemimpin. Jika kalian berulang kali mencetak peringkat rata-rata, kalian akan masuk ke jurusan Pengikut. Dan jika kalian secara konsisten berada di bawah peringkat 13, maka bakat kalian paling baik disalurkan sebagai Mogrif, entah hewan atau tanaman.”

Murid-murid di kedua sisi berbisik-bisik, sudah siap memasang taruhan siapa yang akan berakhir menjadi tanaman purbakala.

“Harus kutambahkan, bahwa siapa pun yang berada di peringkat 20 tiga kali berturut-turut akan langsung gugur.” Kata Pollux dengan sungguh-sungguh.

Anak-anak Never melemparkan pandangan ke arah Tiffany.

“Kalau mereka sudah menempatkanku di sekolah yang tepat, kalian semua pasti merasa tolol, kan?” kata Tiffany galak.

“Lambang angsa kalian akan selalu tampak di dada kalian,” lanjut Pollux. “Jika kalian berusaha menyembunyikan atau mencabutnya, hasilnya pasti akan menyakitkan atau memalukan, jadi cobalah menahan diri.”

“Selanjutnya, karena Teater Dongeng berada di tangan Kebaikan tahun ini, Never akan diantar ke sini untuk semua acara gabungan sekolah,” kata Pollux. “Di luar itu, kalian harus selalu tetap berada di sekolah kalian.”

“Kenapa Teater di tangan Kebaikan?” seru Bora.

Pollux mengangkat hidungnya. “Siapa pun yang menang dalam Sirkus Bakat mendapatkan Teater untuk sekolah mereka.

“Dan Kebaikan belum pernah kalah dalam Sirkus Bakat atau Uji Dongeng atau, setelah kupikir-pikir, kompetisi apa pun di sekolah ini selama dua ratus tahun,” Castor berdeham.

Para penjahat mulai ribut lagi. Menggerutu karena jarak yang harus mereka tempuh.

Pollux melanjutkan ceramahnya tentang hal-hal membosankan soal jam malam, pembagian makanan dan hampir meninabobokan seluruh ruangan sampai Seohyun mengangkat tangannya. “Apa Ruang Rias sudah dibuka?”

Tiba-tiba anak-anak Ever tampak segar.

“Yah, aku berencana membahas Ruang Rias pada pertemuan berikutnya,” ujar Pollux.

“Apa benar hanya anak-anak tertentu yang boleh menggunakannya?” Tanya Somi.

Pollux mendesah. “Ruang Rias di Menara Kebaikan hanya dibuka kapan pun untuk anak-anak Ever yang berperingkat di atas rata-rata di kelasnya. Peringkat akan dipasang di pintu Ruang Rias dan di seluruh kastel.”

“Ruang Rias apa sih?” bisik Tiffany pada Sooyoung.

“Tempat anak-anak Ever berdandan, bersolek dan menata rambut mereka,” Sooyoung bergidik.

Tiffany berdiri seketika. “Apa kami juga punya Ruang Rias?”

Pollux mengerutkan bibirnya. “Never punya Ruang Jahanam, Nak.”

“Tempat kami menata rambut?” Tiffany berseri-seri.

“Tempat kalian dipukul dan disiksa,” kata Pollux.

Tiffany langsung duduk.

“Nah, jam malam kalian akan berlangsung persis pada—“

“Bagaimana caranya menjadi Kapten Kelas?” Tanya Sooyoung. Nada sombong yang terdengar di balik pertanyaannya langsung membuatnya tidak disukai kedua sisi.

“Kalau kalian melanggar jam malam, jangan salahkan aku!” Pollux menggeram. “Baiklah, setelah Uji Dongeng, murid-murid berperingkat atas dari setiap sekolah akan menjadi Kapten Kelas. Kedua murid ini akan mendapat hak istimewa, termasuk ruang belajar pribadi dengan guru yang dipilihnya, karyawisata ke Hutan Tak Bertepi, dan kesempatan untuk dilatih oleh para pahlawan atau penjahat termahsyur. Seperti yang kalian ketahui, Kapten-kapten kita telah menjadi beberapa legenda terbesar di Hutan Tak Bertepi.”

Sementara kedua sisi berdesas-desus, Tiffany menggertakkan giginya. Dia tahu bisa melakukannya kalau saja berada di sekolah yang tepat, dia tidak hanya akan menjadi Kapten anak-anak Kebaikan, dia juga akan menjadi lebih terkenal daripada Putri Salju.

Taeyeon kembali terjaga. Andai alasannya untuk kabur masih belum cukup, bayangan kelas Beautifikasi yang dijelaskan oleh Pollux itu menjadi puncaknya. Mereka harus keluar dari sana malam ini. Dia menoleh ke gadis manis di sebelahnya, dengan mata cokelat sipit dan rambut hitam pendek, sedang memperbaiki lipstiknya dengan bantuan cermin saku.

“Boleh kupinjam lipstikmu?” Tanya Taeyeon.

Gadis itu memandang bibir Taeyeon yang keabuan dan pecah-pecah lalu menyodorkan lipstick itu padanya. “Buatmu saja.”

“Sarapan dan makan malam bertempat di ruang makan sekolah kalian masing-masing, tapi kalian semua harus makan siang bersama di Tanah Lapang,” Castor membersut, “itu kalau kalian cukup matang untuk mengatasi perlakuan istimewa.”

Jantung Tiffany serasa berpacu. Jika kedua sekolah makan siang bersama, besok dia akan bisa berbicara dengan Tedros untuk pertama kalinya. Apa yang akan dikatakannya? Dan bagaimana caranya menyingkirkan Yoona yang buas itu?

“Hutan Tak Bertepi di balik pagar sekolah tertutup untuk anak-anak tahun pertama,” kata Pollux. “Dan meskipun peraturan itu mungkin diabaikan oleh telinga-telinga tuli kalian yang berjiwa petualang, coba kuingatkan kembali peraturan yang paling penting. Satu peraturan yang akan merenggut nyawa kalian jika kalian tidak menaatinya,”

Tiffany mendadak memperhatikan.

Jangan pernah pergi ke Hutan saat hari sudah gelap,” ujar Pollux.

Senyumnya yang menggemaskan kembali. “Kalian boleh kembali ke sekolah masing-masing! Makan malam jam tujuh tepat!”

Ketika beranjak bersama anak-anak Never, dalam hati Tiffany sedang melatih pertemuannya dengan Tedros saat makan siang. Tiba-tiba sebuah suara memecah di tengah-tengah keramaian.

“Bagaimana cara bertemu dengan Sang Guru?”

Aula itu hening membisu. Murid-murid menoleh membelalakkan mata lebar-lebar.

Taeyeon berdiri sendirian di lorong, tatapannya menyorot Castor dan Pollux.

Anjing kepala kembar itu melompat dari panggung dan mendarat pada satu kaki di depan Taeyeon, mencipratinya dengan liur. Kedua kepalanya menatap mata Taeyeon dengan tajam, memasang muka garang yang sama. Tidak jelas mana yang Pollux, mana yang Castor.

Tidak ada caranya,” geram mereka.

Ketika peri cepat-cepat membawa pergi Taeyeon yang meronta ke pintu timur, sekejap dia melewati Tiffany, cukup lama untuk menyematkan sehelai kelopak mawar yang dirusak dengan tulisan lipstik. “JEMBATAN, JAM 9.”

Namun Tiffany tak pernah melihatnya. Pendangannya terkunci ke arah Tedros laksana pemburu mengincar mangsanya, hingga akhirnya dia didorong dari aula oleh para penjahat.

Tepat pada saat itu juga, masalah itu menampar wajah Taeyeon. Masalah yang sudah mereka derita sejak lama. Sementara kedua gadis itu diseret ke menara yang berlawanan, keinginan mereka yang berlawanan teramat jelas. Taeyeon menginginkan kembali satu-satunya sahabatnya. Namun seorang sahabat tidak cukup bagi Tiffany. Tiffany selalu menginginkan lebih.

Tiffany menginginkan seorang pangeran.

9

***

Q & A :

  1. Q : Apakah cerita ini akan dibuat persis seperti aslinya atau dirubah?
    A : That’s still a secret! Haha.

Anyway, saya akan take a break setiap 5 chaps selama beberapa hari. Karena ternyata author juga perlu istirahat dan menjalankan tugas sebagai makhluk homo sapiens yang baik yaitu dengan bersosialisasi dengan sesamanya. Selain itu, saya juga pengen mengembangkan pikiran dengan ide-ide baru yang lebih kreatif. Haha.

Oh ya, saya heran.. Apakah kalian tidak suka cerita ini? Saya hanya bisa menilai dari apa yang saya lihat; likes dan komentar. Anw, saya bukan tipikal author yang gila hormat atau pengakuan sih (yang banyak bertebaran di luar sana. Haha 😀 ), tapi sama seperti yang lain, saya juga butuh motivasi atau setidaknya alasan, kenapa saya harus melanjutkan menulis? Kadang itu tidak disadari tapi dibutuhkan.

Kalian tidak perlu menulis, ah bagus banget hebat dll. Setidaknya likes menandakan bahwa masih ada yang menyukai cerita yang saya tulis. Setidaknya ada yang masih menantikan setiap chapternya. Itu saja sudah cukup.

Jika ada pertanyaan, silahkan tulis di kolom komentar di bawah ^^ Saya akan berusaha menjawab di post berikutnya. Terima kasih atas dukungannya ^^ Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menuntaskan cerita ini sebelum semester baru dimulai.

Thanks & see you in a few days.

S2

 

Iklan

7 thoughts on “The Princess and The Witch [5]”

  1. Suka lah jalan ceritanya bagus ginie qo kali mrk lebih suka Yg berbau romance atau hal yg dewasa Yg sllu author ciptakan di WP ini nah klo gue maah selagi main castnya TAENY hayu ajj lah😆 bisa merasakan fell saat dibaca part per part TAENY lakuin

  2. Yoona genit banget ini loh.. Dibagian itu loh yang anak laki2 keliaran dengan bibir pecah2 di desa fany trus anak centil yg lipstik-kan liat bibir Tae pecah2, lucu. Ini guenya yang ngerasa chap pendek dari chap 1-4 ato gimana ya.

    Semangat untuk manusia ‘homosapiens’nya terkadang kehidupan nyata sedikitnya harus diperhatiin.

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s