Fantasy, SNSD, SOSHI FF, The Princess and The Witch

The Princess and The Witch [6]

Heavem

Copyright © 2017, @sasyaa95

Cerita ini diadaptasi dari novel The School for Good and Evil by Soman Chainmani

6

Pertukaran yang Sia-sia

Keesokan paginya, 50 putri raja berlarian di lantai lima seakan itu hari pernikahan mereka. Di hari pertama sekolah, mereka semua ingin memberikan kesan terbaik pada para guru, para anak laki-laki, dan siapa pun yang kemungkinan isa mengantarkan mereka menuju Kebahagiaan Abadi. Angsa-angsa berkelap-kelip di gaun-gaun tidur, mereka hilir mudik masuk keluar kamar satu dan lainnya, memoles bibir, menggembungkan rambut, menggosok kuku, dan meninggalkan begitu banyak aroma parfum sehingga para peri pingsan dan berserakan di koridor seperti bangkai-bangkai lalat.

Masih tak ada yang tampak selesai berpakaian sedikit pun. Benar saja, ketika jam berdenting pada pukul delapan pagi, menandakan dimulainya sarapan, tak satu pun gadis yang selesai berpakaian.

“Lagi pula, sarapan membuatmu gemuk,” Yoona menenangkan.

Seohyun menyembulkan kepalanya ke koridur, “Apa ada yang melihat celana dalamku?”

Taeyeon sudah pasti tidak melihatnya. Dia sedang terjun bebas di saluran gelap, mencoba mengingat-ingat bagaimana dia pertama kali menemukan Jembatan Separuh Jalan. Dari Menara Honor ke Rumah Singgah Hansel lalu Margasatwa Merlin…

Setelah mendarat di pohon kacang, dia berjalan sambil meraba-raba di dalam kegelapan Galeri Kebaikan, sampai dia menemukan pintu-pintu di belakang awet-awetan beruang. Ataukah dari Menara Honor ke Ruang Makan Cinderella… Masih mempertimbangkan rute yang benar, dibukanya pintu ke ruang bawah tangga dan membungkuk. Lobi kaca mewah itu dipenuhi para guru yang memakai gaun dan setelan berwarna-warni. Mereka bercengkrama sebelum mengajar.

Peri-peri air berambut warna terang mengenakan gaun merah muda, kerudung putih, dan sarung tangan renda biru melayang-layang di ruang lobi, mengisi ulang cangkir, membubuhkan krim gula pada kue, dan mengusir peri-peri dari bongkah-bongkah gula. Dari balik pintu, Taeyeon mengintip tangga yang berlaber HONOR, diterangi jendela-jendela kaca patri, jauh di seberang keramaian. Bagaimana caranya melewati mereka?

Taeyeon merasakan sesuatu menggaruk-garuk kakinya lalu menoleh ke belakang. Ternyata seekor tikus sedang menggerogoti rok dalamannya. Taeyeon menendang tikus itu, yang jatuh di kaki awetan kucing. Tikus itu mencicit, kemudian melihat kucing itu sudah mati. Tikus itu memandang benci ke arah Taeyeon lalu cepat-cepat kembali ke lubang di dinding.

Bahkan binantang liar di sini pun membenciku, desahnya sambil berusaha menyelamatkan rok dalamannya. Jari-jarinya terhenti ketika sampai di bagian renda putih yang sobek. Mungkin seharusnya dia tak sekejam itu pada tikus tadi…

Sejenak kemudian, peri air berukuran kecil di balik kerudung berenda terburu-buru melewati ruangan itu menuju tangga Honor. Sialnya, kerudung itu membuat Taeyeon tidak bisa melihat dan dia menubruk seorang peri air, yang kemudian meabrak seorang guru—“Santa Maria di surga!” Clarissa mengerang, teh buah prune bertetesan. Selagi guru yang gusar itu mengelap gaunnya, Taeyeon menyelinap di belakang tangga Charity.

“Peri-peri airu itu terlalu tinggi,” omel Clarissa. “Tahu-tahu mereka sudah bisa meruntuhkan menara!”

Pada saat itu, Taeyeon sudah menghilang ke Menara Honor dan menemukan jalan ke atas menuju Ruma Singgah Hansel, sayap kelas-kelas lantai pertama yang seluruhnya terbuat dari permen. Ada sebuah ruangan yang memancarkan minuman es serut biru dan gula batu gemerlapan seperti tambang garam. Ada ruang marshmallow dengan kursi-kursi fudge putih dan meja-meja kue jahe. Bahkan ada sebuah ruangan yang terbuat dari permen loli, menyelimuti dinding-dinding dengan warna-warna pelangi.

Taeyeon bertanya-tanya bagaimana gerangan ruangan-ruangan ini tetap utuh dan kemudian melihat prasasti yang menyapu dinding koridor yang terbuat dari permen empuk rasa ceri:

GODAAN ADALAH JALAN MENUJU KEJAHATAN

Taeyeon memakan separuhnya sebelum didesak dua orang guru yang melintas, yang memandang curiga pada kerudungnya tetapi tidak menghalanginya.

“Pasti hanya noda,” Taeyeon mendengar salah satunya berdiri sewaktu berlari ke balik tangga (setelah mencuri gagang pintu karamel dan keset selamat datang dari butterscotch untuk melengkapi sarapannya yang lezat).

Saat dia melarikan diri dari para peri sehari sebelumnya, Taeyeon tak sengaja sampai di atap topiari. Sekarang, dia bisa menikmati Margasatwa Merlin, seperti yang disebut di dalam peta sekolah, berisi pagar-pagar tanaman yang diukir indah sekali, menampilkan legenda Raja Arthur secara berurutan. Setiap bagiannya mengabadikan adegan dalam kehidupan sang raja: Arthur menarik pedang dari batu, Arthur bersama para kesatriannya di Meja Bundar, Arthur di altar bersama Guinevere….

Taeyeon mengingat-ingat anak laki-laki sombong di teater waktu itu, yang kata semua orang adalah putra Raja Arthur. Bagaimana dia bisa melihat ini tanpa merasa sesak napas? Bagaimana dia bisa bertahan dengan perbandingan, pengharapan? Setidaknya, ketampanan berada di pihaknya. Bayangkan kalau wajahnya seperti aku, dia mendengus. Mereka pasti terpaksa membuangnya ke hutan sejak bayi.

Ukiran terakhir dalam rangkaian cerita itu berada di sebuah kolam, sebuah patung Arthur yang tinggi menjulang tengah menerima Excalibur dari Peri Danau. Kali ini Taeyeon dengan sengaja melompat ke dalam kolam dan jatuh ke portal rahasia, kering sama sekali, di atas Jembatan Separuh Jalan.

Dia bergerak ke tengah-tengah, tempat kabut itu bermula, telapak tangannya terulur untuk berjaga-jaga kalau penghalang itu lebih dekat dari yang diingatnya. Namun ketika dia memasuki kabut, tangannya tak bisa menemukannya. Dia bergerak lebih jauh ke dalam kabut. Sudah hilang! Taeyeon segera berlari, angin menerbangkan kerudung dari wajahnya.

BUM! Dia terpental mundur, mengerang kesakitan. Ternyata penghalang itu berpindah-pindah semaunya. Sambil menghindari pantulan dari bidang mengilapnya, Taeyeon menyentuh dinding tembus pandang itu dan meraba permukannya yang dingin dan keras. Tiba-tiba, dia menangkap gerakan dari balik kabut dan melihat dua orang masuk dari pintu lengkung Kejahatan dan Jembatan Separuh Jalan. Taeyeon mematung. Dia tak punya waktu untuk kembali ke Kebaikan, taka da tempat untuk bersembunyi di Jembatan…

Dua guru, professor Baik dan tampan yang tempo hari tersenyum kepadanya dan professor Jahat dengan bisul di kedua pipinya, berjalan menyeberangi Jembatan dan menembus penghalang tanpa keraguan sedikit pun. Sambil bergelantungan di jeruji batu tinggi di atas parit, Taeyeon mendengarkan mereka lewat, lalu mengintip dari atas tepi jeruji. Kedua guru itu hampir menghilang ke Kebaikan saat laki-laki yang tampan itu menoleh ke belakang dan tersenyum. Taeyeon membungkuk.

“Ada apa August?” Taeyeon mendengar guru Kejahatan itu bertanya.

“Mataku memerdayaiku,” dia terkekeh ketika memasuki menara.

Jelas-jelas sinting, pikir Taeyeon.

Beberapa saat kemudian, dia berada di depan dinding tembus pandang sekali lagi. Bagaimana mereka menembusnya? Dia mencari-cari pinggiran tapi tak dapat menemukannya. Dia mencoba menendangnya, tetapi dinding itu sekeras baja. Ketika mengintip ke arah Sekolah Kejahatan, terlihat olehnya serigala-serigala menggiring murid-murid menuruni tangga. Dia bisa terlihat jelas kalau kabut ini lebih tipis sedikit saja. Setelah menendang dinding itu untuk terakhir kalinya, dia kembali ke Kebaikan.

“Dan jangan kembali!”

Taeyeon berbalik untuk melihat siapa yang bicara, tetapi yang dilihatnya hanya bayangannya sendiri di penghalang, tangannya terlipat. Dia mengalihkan pandangannya. Sekarang aku mendengar suara-suara. Bagus.

Dia berbalik kearah menara dan menyadari tangannya menggantung di sisi kanan kirinya. Dia berbalik cepat untuk berhadapan dengan pantulannya. “Apa kau barusan bicara?”

Pantulannya berdeham.

“Baik bersama yang Baik,

Jahat bersama yang Jahat,

Kembalilah ke menaramu sebelum terjadi huru-hara.”

“Mm, aku harus ke seberang,” kata Taeyeon, matanya terpaku ke bawah.

“Baik bersama yang Baik,

Jahat bersama yang Jahat,

Kembalilah ke menaramu sebelum terjadi huru-hara serius, yang berarti mencuci piring setelah makan malam atau kehilangan hak Ruang Rias-mu atau dua-duanya jika kau menyatakan keberatan.”

“Aku harus menemui temanku,” desak Taeyeon.

“Anak-anak Baik tidak punya teman di seberang,” kata pantulannya.

Taeyeon mendengar denting-denting manis lalu berbalik dan melihat gemerlap peri-peri di ujung Jembatan. Bagaimana dia bisa membodohi dirinya sendiri?

Baik bersama yang Baik… Jahat bersama yang Jahat…

Sekilas, dia tahu jawabannya.

“Bagaimana dengan kau?” Tanya Taeyeon, masih memalingkan pandangan. “Apa kau punya teman?”

Pantulannya gelisah. “Aku tidak tahu. Apa kau punya?”

Taeyeon menggertakan giginya dan bersirobok dengan matanya sendiri. “Kau terlalu jelek untuk punya teman.”

Pantulannya menjadi sedih. “Jelas-jelas jahat,” katanya, lalu menghilang.

Taeyeon mengulurkan tangannya untuk menyentuh penghalang. Kali ini dia bisa menembusnya.

Pada saat peri penjaga sampai di atas Jembatan, kabut sudah menghapus jejak Taeyeon.

Sewaktu Teayeon memijakkan kakinya di Kejahatan, firasatnya mengatakan dirinya berada di tempat yang tepat. Sambil membungkuk di balik patung seorang penyihir botak dan kurus kering di ruang lobi yang bocor, Taeyeon mengamati langit-langit yang retak, dinding hangus, tangga-tangga berbentuk ular, lorong-lorong gelap… Taeyeon sendiri tidak bisa merancang yang lebih baik dari itu.

Karena tak ada rintangan dari serigala, Taeyeon menyelinap ke koridor utama, yang penuh dengan potret-potret para alumni penjahat. Sejak dulu dia selalu merasa penjahat lebih seru daripada pahlawan. Mereka memiliki ambisi dan hasrat. Mereka yang membuat kisah-kisah itu terwujud. Penjahat tidak takut mati. Tidak, mereka membungkus diri mereka dengan kematian berbagai pakaian perang! Ketika dia menghirup bau tanah pemakaman sekolah, Taeyeon merasa darahnya mengalir deras. Sama seperti semua penjahat, kematian tidak membuatnya takut, kematian justru membuatnya merasa hidup.

Tiba-tiba dia mendengar suara orang mengobrol, lalu menunduk di balik dinding. Seekor serigala muncul, memimpin sekelompok murid perempuan Never menuruni tangga Vice. Taeyeon mendengar celoteh mereka tentang pelajaran-pelajaran pertama mereka, menangkap kata-kata “Kaki Tangan”, “Kutukan”, “Uglifikasi”. Bagaimana mungkin anak-anak ini bisa lebih buruk lagi? Taeyeon merasa wajahnya memerah malu.

Melihat parade tubuh pucat dan wajah menjijikkan ini, dia tahu dirinya bisa cocok sekali di sini. Bahkan jubah hitam mereka yang lusuh persis seperti yang biasa dikenakannya sehari-hari di rumah dulu. Namun ada perbedaan antara dirinya dan para penjahat ini. Mulut mereka melekuk sengit, mata mereka memancarkan kebencian, kepalan tangan mereka menyimpan amarah terselubung. Mereka jelas-jelas jahat, dan Taeyeon sama sekali tidak merasa jahat.

Namun kemudian, dia teringat kata-kata Tiffany.

Biasanya yang berbeda menjadi jahat.

Kepanikan mencekik kerongkongannya. Itulah sebabnya bayangan itu tidak meculik anak kedua.

Aku memang ditakdirkan berada di sini sejak dulu.

Air matanya terasa menyengat. Dia tidak ingin menjadi seperti anak-anak ini! Dia tidak mau menjadi penjahat! Dia ingin mencari sahabatnya dan pulang!

Tanpa petunjuk apa pun tentang ke mana harus mencari, Taeyeon berlari menaiki tangga bertanda ‘MISCHIEF’ hingga sampai di borders, yang terbagi menjadi dua jalan sempit dari batu. Dia mendengar suara-suara dari sebelah kiri, maka dia pun berlari ke kanan, melewati koridor pendek ke jalan buntu yang dikelilingi dinding hitam kotor.

Taeyeon bersandar di salah satu dinding, merasa ngeri mendegar suara yang semakin keras, kemudian terdengar bunyi ‘krek’ di belakangnya. Ternyata bukan dinding, melainkan pintu yang diselimuti abu. Pakaiannya cukup untuk membersihkan pintu itu sehingga huruf-huruf merahnya terbaca:

PAMERAN KEJAHATAN

Di dalamnya gelap gulita. Sambil terbatuk-batuk karena bau jamur dan sarang laba-laba, Taeyeon menyalakan korek api. Sementara galeri Kebaikan apik dan luas, galeri Kejahatan seluas gudang sapu yang menggambarkan rentetan dua ratus tahun kekalahan mereka.

Taeyeon mengamati seragam luntur seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi Rumplestilskin, karangan berpigura retak tentang “Moralitas Pembunuhan” oleh seorang calon penyihir, beberapa awetan burung gagak tergantung di dinding ambruk, dan tanaman jalar busuk berduri yang menyebabkan seorang pangeran menjadi buta berlabel VERA DARI HUTAN LUAR. Taeyeon pernah melihat wajahnya di poster orang hilang di desanya.

Sambil bergidik, dilihatnya bercak-bercak berwarna di dinding lalu meneranginya dengan korek api. Sebuah panel berhias mural, semacam Ever After yang ada di Menara Kebaikan. Masing-masing dari kedelapan panel itu menggambarkan penjahat berjubah hitam bersukaria dalam neraka dengan kekuatan tanpa batas—terbang menembus api, berubah wujud, menyerpih jiwa, memanipulasi ruang dan waktu. Di atas mural itu, membentang huruf-huruf besar berapi dari panel pertama hingga akhir:

NEVERMORE

Sementara anak-anak Ever memimpikan cinta dan kebahagiaan, para Never mencari dunia yang sunyi dan kekuatan. Saat pemandangan-pemandangan menyeramkan itu menggetarkan hatinya, Taeyeon menyadari kenyataan yang mengejutkan.

Aku seorang Never.

Sahabatnya adalah seorang Ever. Jika mereka tidak segera pulang, Tiffany pun akan menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Di sini mereka tidak bisa berteman.

Taeyeon melihat bayangan bermoncong menghampiri cahaya korek apinya. Dua bayangan. Tiga. Tepat saat ketiga serigala itu menerkam, Taeyeon berbalik dan lelecutkan duri-duri Vera ke wajah mereka. Serigala-serigala itu meraung terkejut dan terhuyung mundur, memberinya cukup waktu untuk bergegas ke pintu. Dengan napas terengah, dia melintasi koridor dengan pesat, naik ke tangga, sampai tahu-tahu tiba di lantai kedua Gedung Malice, memburu napa Tiffany pada pintu-pintu asrama—Vex & Brone, Hort & Ravan, Flynt & Titan—lantai anak laki-laki!

Tepat ketika terdengar pintu terbuka, dia berlari menaiki tangga elakang menuju loteng berujung buntu yang penuh dengan botol-botol kaca suram berisi kaki katak, kaki kadal, lidah anjing. (Ibunya benar. Entah sudah berapa lama itu semua disimpan di sana.) Dia mendengar air liur serigala-serigala menetes di tangga.

Taeyeon memanjat keluar melalui jendela loteng kea tap yang membumbung tinggi dan berpegangan pada talang hujan. Petir menggelegar di balik awan, sementara di seberang danau, Menara Kebaikan gemerlapan di bawah sinar matahari yang sempurna. Sementara badai mengguyur baju merah mudanya, mata Taeyeon menyusuri saluran air yang panjang berkelok-kelok, menyemburkan air dari mulut ketiga gargoyle batu yang menopang tiang-tiang tembaganya: harapan satu-satunya. Dia memanjat ke saluran air itu, tangannya bersusah payah tetap bertahan pada jeruji-jeruji licin, lalu memutar kembali menghadap jendela, karena tahu serigala putih itu akan tiba.

Namun ternyata tidak. Serigala itu hanya menatapnya dari balik jendela, kedua tangan berbulunya terlipat ke depan jaket merah.

“Asal kau tahu, ada yang lebih buruk dari serigala.”

Serigala itu pergi, meninggalkan Taeyeon yang terngaga.

Apa? Apa yang bisa lebih buruk dari—

Ada yang bergerak di bawah hujan.

Taeyeon menutup matanya dan mengintip dari balik pemandangan kabur yang berkilauan dan menyaksikan batu gargoyle pertama menguap dan mengembangkan sayap naganya. Kemudian gargoyle kedua, yang berkepala ular dan bertubuh singa, meregangkan tubuhnya sehingga menimbulkan bunyi ‘krak’ yang menggelegar. Dan yang ketiga, dua kali lebih besar dari yang lain, bertanduk iblis di kepalanya, batang tubuh manusia, ekor berpaku-paku, mendorong sayap bergeriginya hingga terbuka lebar-lebar melebihi menara.

Taeyeon memucat. Gargoyle! Apa yang dikatakan anjing itu tentang gargoyle?

Mata mereka berpaling padanya, merah bengis, lalu Taeyeon teringat.

Perintah untuk membunuh.

Sambil berteriak serempak, mereka melompat dari tempat bertengger. Tanpa topangan mereka, talang hujan itu ambruk dan Taeyeon berteriak serta tercebur ke dalam airnya. Gelombang arus hujan menggiringnya dengan dahsyat dalam hujan, melalui kelokan-kelokan dan turunan yang menyiksa ketika talang itu terlepas tiba-tiba. Taeyeon melihat dua gargoyle terbang mengincarnya dan dia membanting tubuhnya ke dalam seluncuran talang hujan tepat pada waktunya.

Gargoyle ketiga, bertanduk seperti iblis, melambung tinggi dan mengembuskan api dari hidungnya. Taeyeon berpegangan erat pada jeruji dan bola api mengenai tepat di depannya, menciptakan lubang hangus besar pada talang air hujan—dia mengelincir sesaat sebelum terjungkir ke dalamnya. Tarikan kuat dari belakang terasa meremukkan tubuhnya, dan cakar tajam gargoyle bersayap naga menyambar kakinya lalu mengangkatnya ke udara.

“Aku ini murid!” Jerit Taeyeon.

Gargoyle itu menjatuhkannya, terkejut.

“Lihat kan!” Teriak Taeyeon, menunjuk wajahnya. “Aku anak Never!”

Gargoyle itu meluncur turun dan mengamati wajah Taeyeon untuk memastikan apakah memang benar. Kerongkongan Taeyeon dicengkeramnya, seolah berkata bahwa dia bukan murid.

Taeyeon berteriak dan menghujamkan kakinya ke lubang yang terbakar, arus air berbelok ke mata si monster. Gargoyle itu terhuyung tanpa bisa melihat, cakarnya menggapai-gapai Taeyeon, tetapi terjatuh ke dalam lubang dan sayapnya hancur bertabrakan dengan balkon di bawah. Taeyeon berpegangan pada jeruji sekuat tenaga, menahan sakit yang menyiksa di kakinya.

Namun dari dalam air, dia melihat gargoyle yang lain datang. Dengan lengkingan yang memekikan telinga, gargoyle kepala ular menembus dari balik genangan air dan menyambarnya ke atas. Tepat ketika rahang raksasanya membuka untuk melahapnya, Taeyeon menancapkan kakinya di antara gigi-gigi gargoyle itu, yang hancur dihantam sepatu hitam tebalnya dan patah seperti korek api. Dalam keadaan linglung, si gargoyle menjatuhkannya. Taeyeon mendarat keras di genangan talang dan berpegangan pada jeruji.

Tolong!” teriaknya. Jika dia bertahan aka nada yang mendengar dan menyelamatkannya. “Tolll—“

Cengkeramanannya terlepas. Dia meluncur di lis atap, menyentak-nyentak  terbawa arus ke mulut talang terakhir, di sana gargoyle paling besar menunggu, bertanduk seperti iblis, mulutnya terbuka lebar-lebar di atas mulut talang bagai terowongan menuju neraka. Sambil mencakar-cakar dan mendenguk, Taeyeon berusaha berhenti, tetapi hujan melemparnya ke semburan air yang deras. Dia melihat ke bawah, gargoyle itu mengembuskan api dari hidungnya, yang meluncur pesat ke sepanjang pipa.

Taeyeon masuk ke air, menghindari kremasi dadakan lalu menyembul kembali, berpegangan pada pinggiran jeruji di atas turunan terakhir. Arus air hujan yang berikutnya akan mengantarkan Taeyeon tepat ke dalam mulut si gargoyle yang terbuka.

Lalu dia teringat saat pertama kali melihat gargoyle-gargoyle itu: menjaga talang air hujan, memuntahkan air hujan dari mulutnya.

Yang keluar harus masuk dulu.

Terdengar arus air berikutnya datang dari belakangnya. Sambil berdoa dalam hati, dia melepaskan pegangannya dan jatuh ke dalam mulut demon yang mengepul itu. Saat dia hampir tertusuk gigi-gigi dan terpanggang di atas api, air hujan menghantamnya ke dalam mulut talang, dari belakang, melemparkannya ke lubang di dalam kerongkongan gargoyle  terlempar ke langit kelabu.

Dia menoleh pada gargoyle yang tersedak di belakangnya dan berteriak lega, kemudian berubah menjadi teriakan ngeri selagi tubuhnya terjun bebas. Dari balik kabut, sekilas Taeyeon melihat tembok berjeruji hampir menusuknya, dan jendela terbuka di tembok itu. Dia menggulung tubuhnya hingga menyerupai bola yang menyedihkan, lolos dari besi-besi mematikan itu, jatuh telungkap, basah kuyup dan tersedak di lantaienam Gedung Malice.

“Aku—kira—gargoyle—hanya—hiasan,” ratapnya.

Sambil memegangi sebelah kakinya, Taeyeon terpincang-pincang menelususi koridor asrama, memburu tanda-tanda Tiffany.

Tepat pada saat dia hampir mengetuk-ngetuk pintu, matanya menangkap pintu yang berada di ujung koridor, digambari karikatur seorang putri berambut pirang, dengan percikan-percikan cat berupa cercaan : PECUNDANG, PEMBACA, PECINTA EVER.

Taeyeon mengetuk keras-keras, “Tiffany, ini aku!”

Pintu mulai membuka di ujung seberang koridor.

Taeyeon mengetuk lebih keras, “Tiffany!”

Anak-anak berjubah hitam mulai bermunculan dari kamar mereka. Taeyeon mengguncang-guncang gagang pintu Tiffany dan mendorong, tetapi pintunya tak mau bergerak. Tepat ketika gadis-gadis Never menoleh, bersiap untuk mencari tahu siapa penyusup berbaju pink itu. Taeyeon mengambil ancang-ancang, melemparkan diri ke pintu kamar yang kumuh, yang mengayun membuka dan dibanting tertutup di balik tubuhnya.

“KAU TIDAK AKAN MENYANGKA KESULITAN MACAM APA YANG KULALUI UNTUK SAMPAI DI SI—“ Dia terdiam.

Tiffany meringkuk di atas genangan air di lantai, bernyanyi sambil memulas pemerah pipi melalui pantulannya.

“Aku putri cantik, semanis madu,

Menunggu pangeran untuk menikahiku…”

Tiga teman sekamar dan tiga ekor tikus mengawasinya dari seberang kamar, mulut mereka ternganga karena terkejut.

Sooyoung mendongak ke arah Taeyeon. “Dia membanjiri lantai.”

“Untuk berdandan,” tambah Yuri.

“Siapa yang pernah mendengar apa pun yang sekeji ini?” Bora meringis. “Termasuk nyanyiannya.”

“Apa riasanku sudah rata?” Tanya Tiffany sambil menyipit ke genangan air. “Aku tidak bisa masuk kelas dengan penampilan seperti badut.” Pandangannya beralih.

“Taeyeon, darling! Akhirnya kau berpikir dengan akal sehat. Kelas Uglifikasi-mu akan dimulai dua menit lagi dank au pasti tak mau memberi kesan pertama yang buruk.”

Taeyeon menatapnya.

“Tentu saja,” kata Tiffany sambil berdiri. “Kau harus bertukar pakaian dulu. Ayo, lepaskan.”

“Kau tidak akan masuk ke kelas, darling,” ujar Taeyeon, rautnya memerah. “Kita akan pergi ke menara Sang Guru sekarang juga sebelum kita terjebak di sini selamanya!”

“Jangan tolol,” kata Tiffany sambil melirik baju Taeyeon. “Kita tidak bisa menerobos ke menara begitu saja di siang bolong. Dan kalau kau memang ingin pulang, kau harus menyerahkan pakaianmu dulu padaku sekarang supaya aku tidak melewatkan tugas-tugas sekolahku.”

Taeyeon menghindar. “Oke, cukup! Sekarang dengarkan ak—“

“Kau pasti bisa berbaur dengan baik di sini,” Tiffany tersenyum, membandingkan Taeyeon dengan teman-teman sekamarnya.

Semangat Taeyeon padam seketika, “Karena aku… jelek?”

“Oh, ya ampun, Taetae, lihat saja tempat ini,” kata Tiffany, “kau suka kesuraman dan kebinasaan. Kau suka penderitaan dan ketidakbahagiaan dan mm.. benda-benda hangus. Kau pasti bahagia di sini.”

“Kami setuju,” ujar suara di belakang Taeyeon, dan dia menoleh terkejut.

“Kau tinggal di sini saja,” kata Sooyoung padanya—

“Dan biar dia tenggelam di danau saja,” Bora cemberut pada Tiffany, masih terluka karena ejekan Tiffany.

“Kami suka padamu sejak pertama melihatmu,” rayu Yuri, tikus-tikus menjilati kaki Taeyeon.

“Tempatmu di sini bersama kami,” kata Sooyoung, ketika dia, Yuri dan Bora mengerumuni Taeyeon, yang memandangi trio penjahat itu secara bergantian dengan cemas. Mereka sungguh ingin menjadi temannya? Apa Tiffany memang benar? Mungkinkah menjadi penjahat bisa membuatnya…. Bahagia?

Perut Taeyeon serasa diaduk-aduk. Dia tidak mau jadi jahat! Tidak bila Tiffany jadi Baik! Mereka harus keluar dari tempat ini sebelum masalah ini merusak persahabatan mereka!

“Aku tidak mau meninggalkanmu!” teriaknya pada Tiffany sambil meloloskan diri.

“Tidak ada yang memintamu untuk meninggalkanku, Taeyeon,” kata Tiffany dengan geram. “Kami hanya memintamu meninggalkan pakaianmu.”

“Tidak mau!” Bentak Taeyeon. “Kita tidak akan bertukar pakaian. Kita tidak akan bertukar kamar. Kita tidak akan bertukar sekolah!”

Tiffany dan Sooyoung saling lirik.

“Kita akan pulang!” Kata Taeyeon, tersendat-sendat. “Di sana kita bisa berteman—di pihak yang sama—tidak ada Baik, tidak ada Jahat—kita akan bahagia selam—“

Tiffany dan Sooyoung menangkapnya. Bora dan Yuri menarik baju pink dari tubuh Taeyeon, lalu mereka berempat menyarungkan jubah hitam pada tempatnya. Sambil bergoyang mengepas baju pink barunya, Tiffany membuka pintu keras-keras. “Selamat tinggal Kejahatan! Halo, Cinta!”

Taeyeon berdiri terhuyung lalu memandangi karung hitam bau tengik yang pas serta sesuai dengan seleranya.

“Dan seluruh dunia pun baik-baik saja,” desah Sooyoung.

“Benar deh, aku nggak tahu bagaimana kau bisa berteman dengan si sam—“

“Kembali ke sini!” teriak Taeyeon, mengejar Tiffany yang berpakaian merah muda di antara gerombolan hitam-hitam yang memadati koridor. Terkejut karena ada anak Ever di tengah-tengah mereka, anak-anak Never mengerumuni Tiffany dan mulai memukuli kepalanya dengan buku, tas, dan sepatu—“

“Jangan! Dia sama dengan kita!”

Semua anak Never menoleh ke arah si anak serigala, di dekat tangga, termasuk Tiffany yang tercengang. Anak tersebut menunjuk Taeyeon yang memakai baju hitam.

“Itu yang Ever!”

Anak-anak Never melancarkan seruan perang baru dan mengeroyok Taeyeon sementara Tiffany mendorong si anak serigala lalu kabur ke lantai bawah. Taeyeon berhasil membalas dengan beberapa tendangan yang tepat sasaran kemudian meluncur di atas pegangan tangga untuk mencegat Tiffany. Melihat Tiffany di kejauhan, Taeyeon berlari di koridor sempit, mengulurkan tangannya untuk menyambar kerah leher pink-nya tetapi Tiffany berbelok di sudut, berlari menaiki tangga mengular , dan menikung ke lantai pertama.

Taeyeon membanting ke jalan buntu, menyaksikan Tiffany yang secara ajaib melompat menembus tembok yang terciprat darah bertuliskan “MURID DILARANG MASUK!”. Dengan lompatan panjang, Taeyeon melompat menembus portal tepat di belakang Tiffany—

Dan mendarat di sisi Kejahatan di Jembatan Separuh Jalan.

Namun justru di sinilah pengejarannya berhenti karena Tiffany sudah terlampau jauh di Kebaikan. Dari balik kabut, Taeyeon bisa melihat Tiffany berseri-seri gembira.

“Taeyeon, dia putra Raja Arthur,” ujarnya bersemangat. “Pangeran sungguhan! Aku harus bilang apa padanya? Bagaimana caranya aku menunjukkan bahwa akulah jodohnya?”

Taeyeon berusaha menyembunyikan sakit hatinya. “Kau tega meninggalkan aku di sini… sendirian?”

Raut Tiffany melunak.

“Jangan khawatir, Taetae. Sekarang semuanya sempurna,” ujarnya lembut. “Kita masih tetap sahabat karib. Hanya berbeda sekolah saja, seperti yang kita rencanakan. Tidak ada yang isa menghentikan kita bersahabat, kan?”

Taeyeon mengamati senyum cantik Tiffany dan percaya padanya.

Namun tiba-tiba saja senyum sahabatnya sirna. Di tubuh Tiffany, baju pink itu secara ajaib membusuk jadi hitam. Begitu saja, Tiffany pun mengenakan jubah penjahat usangnya yang longgar, angsa berkilat-kilat di bagian dada. Dia mendongak dan terkesiap. Di seberang jembatan, jubah hitam Taeyeon kembali menyusut menjadi pink.

Kedua gadis itu saling memandang dengan wajah sangat terkejut. Tiba-tiba bayangan menyelimuti Tiffany, dan Taeyeon merasa pusing. Ombak raksasa melambung tinggi di atasnya, air menggulung bagai tali laso yang berkilauan.

Sebelum Taeyeon sempat berlari, gelombang itu menyapunya dan melemparkannya ke seberang teluk di bawah kabut yang tersinari cahaya matahari. Tiffany terdampar ke tepi jembatan yang suram dan melepaskan raungan protes.

Perlahan, ombak kembali naik melalui Tiffany, tetapi kali ini tidak berkilauan. Dengan menderu ganas, ombak itu menghantam Tiffany kembali ke Sekolah Kejahatan sesuai jadwal pelajaran.

***

Anyway, karena kali ini tidak ada Q & A, jadi saya sekip aja.

Holla, long time no see.. Maaf jika ada typo, saya tidak sempat ngeproof read 😀 Akhir-akhir ini saya sedang sibuk liburan (ahem, lebih tepatnya traveling, kebagusan juga, mbolang kali ya sama temen-temen) Sepertinya traveling menjadi hobi baru saya disamping membaca dan menulis.. Asik juga, menjadi ekstrovert setelah sekian lama berlindung dibalik selimut introvert 😀 😀 😀

See you again~

S2

Iklan

3 thoughts on “The Princess and The Witch [6]”

  1. Emang ada baik thor untuk tau dunia luar bukan ngajarin hal yg pahami itu, jika saja author pun berbagi gak akan lagi ada rasa sepi menghimpit sunyi ia jadi lah orang Yg berjiwa sosial krna dgn adanya itu saja gue yakin author gak akan menyendiri lagi 😆😆

  2. Kok miris ya 😅😅😅 tae yg berusaha ngajak phany pulang tapi phany malah maunya yg lain trus di akhirnya malah mereka kembali ke skolah masing2 ya ampun..
    Udh lah tang nyerah aja si phany emng awalnya ga niat pulang ga usah ditolongin 😂✌

    Wihhh author ngebolang toh, skalian ke korea thor ngintip aktivitaz taeny 😂✌

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s