One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Faded [One Shoot]

Faded

Copyright © 2017, @sasyaa95

Where are you now?
Was it all in my fantasy?
Where are you now?
Were you only imaginary?

~Faded by: Alan Walker

“Hey, apa yang kau lakukan?” Taeyeon mengamati salah seorang membernya sedang menatap penuh kerinduan pada layar ponselnya, mengintip sedikit, Taeyeon melihat kilasan gambar, pesta, wajah yang tampak familiar dan merasakan perutnya diaduk.

“Ku harap dia baik-baik saja.”

“Sepertinya begitu.” Taeyeon memfokuskan perhatiannya pada gadis itu. “Kau sudah berbicara dengannya kan?”

Gadis itu mengangguk. “Ya, kau mengerti bukan itu kan yang kumaksud?”

“Aku tak tahu, Fany.. Sungguh.”

“Mari kita berharap dia baik-baik saja.”

“Yeah.”

Taeyeon merasakan keraguan dalam sikap gadis itu. Ya, beberapa orang dari mereka memang masih berbicara dengannya. Dia sudah tidak lagi menanyai semua membernya satu persatu. Dia sudah memercayai mereka dengan sepenuh hatinya. Namun Tiffany lain, dia adalah sahabat dekatnya. Yang paling mengerti satu sama lain saat yang lainnya kebingungan dengan apa yang mereka bicarakan. Taeyeon akan memastikan bahwa Tiffany baik-baik saja setelah masa-masa terberat yang mereka lalui beberapa tahun terakhir.

Taeyeon membaca beberapa pesan mereka. Mengamatinya beberapa kali saat Tiffany tengah berbicara dengannya. Dan dia menyadari ada semacam kekakuan tak terhindarkan yang menyelimuti keduanya. Ketegangan emosional seperti itu memang tidak dapat dihindari, apalagi setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.

Taeyeon tidak dapat menyalahkan siapa pun, tidak saat itu, tidak sekarang.

Semua komunikasi yang terjadi, sepengetahuannya merupakan inisiatif dari Tiffany, bukan sebaliknya. Mereka akan menanyakan kabar, mengatakan bahwa mereka merindukan satu sama lain, dan hal-hal yang akan atau telah mereka lakukan. Namun, dibalik semua itu Taeyeon menyadari bahwa mereka hanya mengitari masalah tanpa pernah menyelesaikannya.

Dia sendiri tidak lebih baik. Dia bahkan tidak mau berbicara dengannya. Menganggap semua ini kesalahannya—atau setidaknya begitu menurutnya. Namun, tampaknya Tiffany berpendapat lain. Menurutnya, dia merasa bersalah dan malu berbicara dengannya. Menurut Taeyeon, apabila memang itu masalahnya, dia sudah memaafkannya. ‘Yang lalu biarlah berlalu.’ Katanya pada Tiffany suatu hari.

‘Yah, tidak semudah itu.’ Jawabnya.

“Aku akan berbicara dengan Yuri soal ini.”

Taeyeon merengut. Bukannya dia membenci gadis itu, dia hanya merasa sedikit tidak nyaman dengan kedekatan mereka berdua akhir-akhir ini. Baik, dia memang tidak seharusnya merasa demikian mengingat Tiffany adalah gadis yang sangat perhatian dengan semua orang—terutama membernya apabila mereka merasa sedih atau kesepian.

Dia dan Tiffany memang kompatibel. Sementara Tiffany tidak begitu observant dalam mengamati emosi orang lain, hal tersebut merupakan kelebihan Taeyeon. Sayangnya, Taeyeon tidak seekspresif gadis itu. Menunjukkan perasaan-perasaan seperti itu merupakan pekerjaan Tiffany sementara Taeyeon memberinya saran di sana sini mengenai apa yang harus dia lakukan.

Dalam kasus ini, Yuri merupakan pihak yang paling tidak beruntung. Dia merasa benar-benar kecewa, sedih dan frustasi setelah kejadian tersebut, walau dia tidak begitu memperlihatkannya. Namun Taeyeon tahu benar apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, jadi dia meminta Tiffany untuk menghiburnya. Namun siapa sangka gadis itu justru malah semakin dekat dengan Tiffany, seolah tak mau lepas darinya. Hal itu membuat Taeyeon marah.

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia tahu Tiffany miliknya dan tak seorangpun boleh mengambil apapun yang menjadi miliknya. Hatinya yang terdalam merasakan ketidakamanan saat Yuri menunjukkan perhatian dan perasaannya secara terang-terangan pada Tiffany, kedekatan mereka akhir-akhir ini membuat bagian kecil dalam dirinya itu terguncang.

Walaupun demikian, pikirannya berkali-kali berusaha untuk meredam suara-suara itu dan mengatakan bahwa tidak ada apapun yang perlu dikhawatirkan, bahwa Yuri adalah sahabatnya juga dan tidak mungkin mengkhianatinya.

Yoona mendatanginya suatu hari, cukup mengejutkannya.

“Unnie, berhenti menatap Yuri Unnie seolah kau hendak menerkamnya.”

Taeyeon terperangah, “a—apa mak—“

“Unnie..” gadis itu menggeleng. “Wajahmu mengatakan segalanya, Unnie. Bahkan Tiffany Unnie mendatangiku dan bertanya apa kedekatannya dengan Yuri membuat kita tidak nyaman?”

“A—aku…”

“Aku mengatakan padanya, kami tidak masalah namun mungkin ada yang mempermasalahkan hal itu.” Gadis itu menatap Taeyeon penuh perhatian. “Sepertinya dia belum menanyakannya padamu ya?”

“Aku tidak merasa terganggu.” Taeyeon mengalihkan wajahnya.

Yoona mengangkat sebelah alisnya saat melihat hal tersebut. Pertahanan diri Taeyeon merupakan jawaban yang sesungguhnya, namun dia memilih untuk tidak menjawab atau menyangkal hal tersebut, memahami bagaimana Unnie nya ini akan bereaksi. Bukan dia yang dapat menangani hal seperti ini, Tiffany—atau disini, Sunny lah yang bertanggung jawab atas hal tersebut.

Namun tak ada lagi yang membicarakan hal tersebut dengannya. Sampai saat ini, lebih tepatnya.

Melihat ketidakbahagiaan gadis di sampingnya, Tiffany pun membuka pembicaraan.

“Aku hanya ingin membantunya, Taeyeon.”

Setelah terdiam begitu lama, Taeyeon hanya menatapnya dan mengangkat bahu. “Tidak ada yang memintamu untuk tidak membantunya, Fany.”

“Kau tidak kelihatan senang.” Katanya.

Itu benar. Namun Taeyeon tidak mengatakannya, tentu saja. “yang terpenting adalah kita selalu bersama dan tidak ada lagi yang akan pergi.”

Tiffany menggeleng. “Aku berharap kau lebih terbuka mengenai perasaanmu, Taeyeon.”

Terakhir kali aku melakukannya, hal itu tidak berakhir dengan baik. Pikir Taeyeon.

“Aku tahu kau tidak suka dengan keadaan kita saat ini.” Taeyeon mengamati Tiffany tengah memainkan keliman kemejanya, merasa gugup. “Yuri terlihat sedih sejak kepergiannya, jadi aku menemaninya. Bukannya kau sendiri yang menyuruhku melakukannya?”

Bodoh. Taeyeon mengangguk, itu bukan pertanyaan tapi pernyataan untuk menyudutkannya. “Sudah kubilang, tidak ada yang menyuruhmu meninggalkannya sendirian, Fany.”

“Bisakah kau jujur sekali saja, Taeyeon?”

Taeyeon menangkap tatapan simpati Tiffany sebelum mengalihkan pandangannya ke lantai yang tiba-tiba saja lebih menarik dari pada gadis di hadapannya atau topik pembicaraan mereka.

“Aku sudah mengatakan yang seharusnya, aku harus jujur seperti apa lagi?”

“Kalau begitu jawab pertanyaanku, bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya? Apa yang sesungguhnya ingin kau katakan padaku?” Taeyeon langsung merasa tidak nyaman saat Tiffany berlutut di depannya, dan memegang tangannya, memaksa untuk mengunci pandangan dengannya. Dia ingin kabur, kemana saja. Mungkin ke kamarnya dan bersembunyi di balik selimutnya yang hangat. Tatapan itu membuatnya merasa telanjang.

“Taeyeon… kumohon..” Ucapnya saat tidak mendapat jawaban setelah sekian lama.

“A—aku..”

Namun Tiffany dengan sabar menunggu apapun yang akan keluar dari mulutnya. Taeyeon merasakan desakan untuk diam. Dia tahu Tiffany sudah mengerti jawabannya, namun dia tetap menuntut jawaban, tipikal Tiffany. Dan Taeyeon tidak suka membicarakan hal-hal yang sudah mereka ketahui.

“Aku tidak ingin…”

Kata-kata itu begitu sulit keluar dari mulutnya. Taeyeon tidak suka terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Rasanya seperti berdiri di ruangan sempit yang tidak ada jalan keluarnya—kecuali dia berbicara.

“Kau selalu memprioritaskan Yuri.” Pandangannya beralih kembali pada lantai, tiba-tiba merasa begitu malu.

“Kita sudah tidak punya waktu bersama lagi, seperti dulu.” Taeyeon merasa wajahnya memanas, dia merasa seperti seorang anak yang ketahuan melakukan hal-hal yang tidak boleh dia lakukan.

Tiffany mengerti, berusaha menahan senyum.

“Hmm… itu sebabnya..”

Taeyeon refleks mengangkat kepalanya. Apakah perasaannya terlihat begitu jelas?

“Saat V Live,” Tiffany menjelaskan, “kau tiba-tiba memilih tidur di atasku?”

Taeyeon mengamati bagaimana wajah Tiffany juga memerah, mencoba menjelaskannya dengan lebih baik.

“Saat aku mengatakan ‘Yulti!’ lalu Yoona menjawab ‘Taeny!’ wajahmu kelihatan begitu tegang. Lalu, saat kita berfoto setelah menyanyikan Light Up The Sky, kau melewati Seohyun, Hyoyeon dan Sooyoung kemudian langsung menuju ke arahku dan Yuri lalu menghempaskan tubuhmu begitu saja?” Kata Tiffany, sedikit menggodanya.

Taeyeon merasa wajahnya semakin memerah, dia ketahuan.

“Kau tahu, kau lebih berat dari yang kukira.” Kata gadis itu sebelum tertawa.

“Yah!” Taeyeon mengempaskan bantal padanya.

Mereka pun tertawa bersama setelah sekian lama.

“Kau tidak perlu khawatir, tidak ada apapun antara aku dan Yuri.”

“Tidak ada yang bertanya, Fany.” Jawab Taeyeon, tidak bisa memungkiri perasaan lega yang langsung mengguyurnya seperti air segar.

“Aku tahu kau ingin tahu.” Kata Tiffany sebelum ponselnya bergetar menampilkan nama yang menghadirkan gelombang emosional pada mereka.

“Sudah lama aku tak mendengar kabar tentang dia dan kekasihnya.” Mulai Taeyeon.

“Kau tahu ini bukan kesalahannya, kan?”

Taeyeon mengangguk. Menurutnya tidak ada yang bisa dipersalahkan dalam cinta, kau tidak bisa merencanakan dengan siapa kau akan jatuh cinta, kan? “Yeah, SM hanya akan menyetujui hubungan-hubungan yang menurut mereka akan menguntungkan mereka.”

Taeyeon menatap Tiffany dengan sendu, dan seketika membuat gadis itu ingin memeluknya. “Maafkan aku.”

Taeyeon tersenyum saat merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Dia mencium aroma strawberry yang membungkus tubuh dan rambut Tiffany. Bisakah dunia berhenti? Aku ingin tetap seperti ini selamanya.

“Dia merindukanmu.” Kata Tiffany.

“Katakan padanya aku juga merindukannya, selalu.”

***

Ps. Some things.. better left unsaid.

Some like, i miss you… or i love you…

Ps 2. Oke, aku tahu itu judul poster seharusnya fade… lol. 😀

Thanks,

S2

 

Iklan

9 thoughts on “Faded [One Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s